Dari Segara Rupek, Seruan Menjaga Jati Diri Bali Kembali Menggema
DIKSIMERDEKA.COM, BULELENG – Pelaksanaan Taur Labuh Gentuh dalam rangka Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Tawur Labuh Gentuh Pedudusan Agung Menawa Ratna di Pura Kahyangan Payogan Agung Pura Segara Rupek, Kabupaten Buleleng, memasuki tahapan penting menjelang puncak karya yang akan berlangsung pada Tilem Kesada, 14 Juni 2026.
Rangkaian upacara tersebut tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Hindu, tetapi juga kembali menguatkan pesan tentang pentingnya menjaga jati diri, karakter, dan budaya Bali yang diwariskan para leluhur.
Jro Mangku Ketut Wisna (JMW), salah satu tokoh adat Bali, mengatakan Pura Segara Rupek merupakan salah satu pura kahyangan yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat penting bagi Pulau Bali. Keberadaannya diyakini menjadi bagian dari perjalanan para maharesi dalam membangun peradaban Bali dengan karakter, budaya, dan sistem kehidupan yang khas.
Menurutnya, warisan para leluhur tidak hanya berupa bangunan suci, melainkan juga pesan agar masyarakat Bali senantiasa menjaga identitas dan kekhasan Pulau Dewata.
“Karena kenapa Bali dipisahkan dari Jawa? Mungkin maksud para leluhur adalah agar Bali dibangun secara khusus dengan karakter yang khas dan budaya tersendiri. Itu yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
JMW menjelaskan, Pura Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek merupakan simbol yang mewakili Bali secara keseluruhan. Karena itu, keberadaannya menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Bali.
Ia mengungkapkan, pembangunan kawasan pura tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali pada tahun 2021 melalui Gubernur Bali Wayan Koster dengan bantuan anggaran sekitar Rp7,5 miliar. Saat itu, pihak pengempon bersama Desa Adat Sumberklampok baru mampu melaksanakan Pedudusan Alit.
Kini, pelaksanaan karya yang lebih besar mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Badung serta kabupaten dan kota lainnya di Bali.
Rangkaian karya diawali dengan pelaksanaan Taur Labuh Gentuh, dilanjutkan prosesi Melasti, dan akan mencapai puncaknya pada Tilem Kesada, 14 Juni 2026. Setelah puncak karya, penganyaran akan dilaksanakan secara bergiliran oleh pemerintah kabupaten dan kota se-Bali.
Di tengah pelaksanaan karya tersebut, JMW juga menyinggung pentingnya menjaga Bali sebagai wilayah yang memiliki karakter dan batas budaya tersendiri. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah kembali mencuatnya wacana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Bali dan Pulau Jawa.
Menurutnya, keberadaan Pura Segara Rupek dan sejumlah kahyangan lainnya mengandung pesan spiritual yang perlu dijaga bersama, termasuk mengenai posisi Bali sebagai pulau yang memiliki kekhususan budaya dan spiritual.
“Salah satunya terkait wacana jembatan Bali–Jawa. Harapan kami, rencana itu tidak pernah terwujud. Keberadaan pura dan kahyangan ini merupakan warisan leluhur yang mengajarkan bahwa Bali harus tetap terpisah dari Jawa karena ada nilai dan spirit yang harus dijaga bersama,” katanya.
JMW berharap pura-pura kahyangan di Bali terus menjadi sumber semangat bagi umat Hindu, masyarakat adat, dan seluruh komponen masyarakat dalam menjaga Bali dari sisi spiritual, adat, dan budaya.
Menurutnya, sinergi antara desa adat, masyarakat, serta pemerintah di semua tingkatan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai Bali di tengah berbagai tantangan zaman.
“Bagaimana merawat Bali dari berbagai sisi, baik spiritual, adat maupun budaya, harus dilakukan bersama oleh desa adat, masyarakat, pemerintah desa, kabupaten, kota hingga provinsi,” ujarnya.
Ia menegaskan, pesan yang lahir dari rangkaian karya di Pura Segara Rupek merupakan pengingat bahwa Bali bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang budaya dan spiritual yang diwariskan para leluhur.
Karena itu, berbagai gagasan yang dinilai dapat mengubah karakter dasar Pulau Dewata, termasuk wacana pembangunan jembatan Bali–Jawa, diharapkan cukup menjadi bagian dari wacana tanpa perlu diwujudkan.
“Bali harus tetap dijaga sesuai warisan leluhur, agar karakter, budaya, dan spiritualitasnya tetap lestari bagi generasi mendatang,” pungkas JMW.

Tinggalkan Balasan