Antara Luka dan Pengorbanan Pasca Pilkada, Eks Direktur Data Pemilih dan Relawan Joel: Pilihan Politik Bukan Sebuah Investasi
DIKSIMERDEKA.COM, TIMIKA – Hiruk pikuk pesta demokrasi telah usai. Baliho mulai diturunkan, atribut politik perlahan menghilang dari sudut-sudut kota, namun luka dan kekecewaan di kalangan relawan serta pendukung Pilkada ternyata belum benar-benar selesai.
Di balik kemenangan dan kekalahan politik, ada banyak orang yang diam-diam merasa ditinggalkan setelah perjuangan panjang yang mereka jalani selama masa kontestasi. Mereka yang dulu berdiri paling depan, meneriakkan kemenangan, mengawal suara hingga larut malam, bahkan mempertaruhkan hubungan keluarga dan persahabatan demi pilihan politik, kini perlahan mulai menyadari satu hal: politik sering kali menyisakan jarak setelah tujuan tercapai.
Hal itu disampaikan mantan Direktur Data Pemilih dan relawan, Pasangan Calon Johannes Rettob dan Emanuel Kemong (Joel), Iwan S. Makatita.
Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan relawan selama Pilkada bukan sekadar transaksi politik untuk mengejar jabatan.
“Pilihan politik bukan sebuah investasi. Banyak orang salah memahami perjuangan relawan. Tidak semua datang karena ingin posisi atau kekuasaan. Ada yang benar-benar bergerak karena keyakinan dan harapan akan perubahan,” ujarnya.
Namun menurut Iwan, realitas politik pasca Pilkada sering kali menghadapkan relawan pada situasi yang pahit. Orang-orang yang dulunya berjalan bersama mulai terpecah karena kepentingan, ego, bahkan persaingan internal.
“Dinamika politik itu biasa, yang tidak biasa itu ketika internal mulai saling sikat dan sikut. Saat perjuangan belum selesai, semua terlihat solid. Tapi setelah Pilkada usai, mulai terlihat siapa yang berjuang karena hati dan siapa yang hanya mendekat karena peluang,” katanya.
Ia menilai, kondisi seperti itu menjadi ujian terbesar dalam dunia politik.
Sebab, yang rusak bukan hanya struktur tim, melainkan hubungan emosional dan rasa persaudaraan yang dibangun selama proses perjuangan.
“Yang paling menyakitkan bukan kalah atau menang. Tapi ketika orang-orang yang dulu makan bersama, susah bersama, akhirnya saling menjatuhkan hanya karena merasa lebih dekat dengan kekuasaan,” lanjutnya.
Iwan juga menyoroti perubahan sikap sebagian orang pasca Pilkada.
Menurutnya, banyak yang mulai terbelah menjadi dua karakter dalam memandang perjuangan politik.
“Ada yang tetap idealis, berpegang pada prinsip, nilai dan visi perjuangan jangka panjang. Tapi ada juga yang menjadi realistis, menyesuaikan diri dengan situasi demi kepentingan praktis,” ungkapnya.
Baginya, idealisme dan realitas politik memang tidak selalu berjalan searah. Namun ia mengingatkan bahwa relawan dan pendukung tidak boleh kehilangan jati diri hanya karena perubahan situasi politik.
“Kalau perjuangan hanya diukur dari jabatan, maka loyalitas akan mudah dijual. Tapi kalau perjuangan lahir dari keyakinan, maka orang akan tetap berdiri meski tidak mendapat apa-apa,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh relawan dan masyarakat untuk mulai dewasa dalam menyikapi politik.
Pilkada, kata dia, hanyalah momentum lima tahunan, sementara persaudaraan dan kehidupan sosial akan terus berjalan jauh setelah pesta demokrasi selesai.
“Jangan sampai politik membuat kita lupa cara menghargai orang yang pernah berjuang bersama. Karena pada akhirnya, kekuasaan itu sementara, tetapi luka akibat saling menjatuhkan bisa bertahan lama,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan