DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menghadiri pelantikan pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) periode 2026-2031 di The Meru Sanur, Denpasar, Jumat (5/6/2026).

Pelantikan pengurus baru tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat posisi Bali sebagai destinasi unggulan Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) bertaraf internasional sekaligus mendorong pariwisata berkualitas dan berkelanjutan di Pulau Dewata.

Dalam sambutanya, Gubernur Koster mengajak pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) bekerja secara terukur dan memiliki agenda yang jelas dalam mendukung pengembangan pariwisata Bali.

Menurutnya, pengurus BaliCEB perlu menyusun program konkret selama lima tahun ke depan agar keberadaan organisasi tersebut memberikan dampak nyata bagi industri MICE dan pariwisata Bali.

Koster menegaskan pengembangan pariwisata tidak bisa dilakukan secara parsial. Karena itu, ia berencana mengundang jajaran pengurus BaliCEB untuk berdiskusi secara lebih mendalam guna membahas berbagai tantangan dan arah pembangunan pariwisata Bali ke depan.

“Nanti saya akan mengajak berdiskusi dalam ruangan yang cocok (lebih keci), kalau sekarang agak ramai. Karena bicara pariwisata harus utuh supaya pengetahuan lengkap,” terangnya.

Menurutnya, diskusi tersebut penting agar seluruh pengurus memahami kondisi riil pariwisata Bali saat ini, termasuk berbagai persoalan yang dihadapi serta langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi tantangan di masa mendatang.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menilai posisi Bali dalam industri MICE internasional terus menunjukkan perkembangan yang positif.

Berdasarkan data International Congress and Convention Association (ICCA), Bali menempati peringkat ke-38 dunia sebagai destinasi penyelenggaraan pertemuan internasional asosiasi.

Pada 2024, Bali berhasil menyelenggarakan 54 pertemuan internasional yang memenuhi kriteria ICCA. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya yang hanya mencapai 24 pertemuan.

Dalam konteks persaingan global, Ni Luh Puspa menilai Bali memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak destinasi MICE dunia. Jika Singapura dikenal sebagai salah satu pusat MICE internasional dengan dukungan infrastruktur yang kuat, Bali memiliki nilai tambah berupa kekayaan budaya, bentang alam, serta daya tarik wisata yang unik.

“Kita memiliki pantai, pegunungan, budaya yang hidup, dan pengalaman yang autentik. Ini adalah kekuatan yang tidak dimiliki semua destinasi. Karena itu saya yakin Bali mampu bersaing bahkan melampaui destinasi MICE lain di kawasan, tentu dengan dukungan infrastruktur yang memadai,” ujarnya.

Ia berharap BaliCEB dapat menjadi motor penggerak dalam mendorong penyelenggaraan event yang tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Menurutnya, tren industri MICE global saat ini tidak lagi hanya menilai keberhasilan sebuah kegiatan dari jumlah peserta atau nilai transaksi yang dihasilkan, melainkan juga dari komitmen terhadap prinsip keberlanjutan.

“Setiap event yang diselenggarakan di Bali harus memperhatikan pengelolaan sampah, penggunaan energi, pengelolaan limbah, dan berbagai aspek keberlanjutan lainnya. Ke depan, event yang bertanggung jawab akan menjadi standar baru dalam industri MICE dunia,” katanya.

Hal senada dikatakan Ketua Umum BaliCEB Ketut Jaman mengatakan Bali memiliki modal yang sangat kuat untuk bersaing di pasar MICE global. Selain didukung fasilitas hotel dan venue bertaraf internasional, Pulau Dewata juga memiliki keunggulan budaya, spiritualitas, kreativitas, serta keramahtamahan masyarakat yang mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi para peserta kegiatan internasional.

“Banyak destinasi memiliki gedung konvensi dan fasilitas modern, tetapi tidak semua mampu menghadirkan pengalaman yang menyentuh hati, membangun inspirasi, dan meninggalkan kesan mendalam seperti Bali,” kata Ketut Jaman.

Ia menambahkan, rekam jejak Bali sebagai tuan rumah berbagai agenda internasional berskala besar seperti APEC, Pertemuan Tahunan IMF-World Bank, KTT G20, hingga World Water Forum menjadi bukti kapasitas dan kredibilitas Bali dalam menyelenggarakan pertemuan internasional berstandar tinggi.

Selain itu, keberadaan kawasan pariwisata terpadu ITDC Nusa Dua dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur dinilai semakin memperkuat posisi Bali sebagai destinasi quality tourism, wellness tourism, health tourism, medical tourism, budaya, dan leisure tourism.

Ketut Jaman mengungkapkan, BaliCEB periode 2026-2031 akan memfokuskan program kerja pada lima agenda utama. Pertama, memperkuat positioning Bali sebagai destinasi MICE global berbasis budaya dan keberlanjutan. Kedua, meningkatkan promosi internasional dan memperluas jejaring global. Ketiga, mendorong lebih banyak bidding event internasional secara aktif dan terstruktur.

Selanjutnya, BaliCEB juga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia MICE, standar layanan, pemanfaatan teknologi, keamanan, serta praktik keberlanjutan. Agenda terakhir adalah memperluas manfaat industri MICE bagi masyarakat Bali, termasuk pelaku UMKM, ekonomi kreatif, komunitas lokal, seniman, dan pekerja pariwisata.

“Pengembangan MICE tidak hanya soal mendatangkan event internasional, tetapi juga memastikan manfaat ekonominya dirasakan lebih luas oleh masyarakat Bali,” ujarnya.

Untuk memperkuat daya saing global, BaliCEB berencana meningkatkan promosi melalui berbagai pameran dan forum business events internasional, seperti Asia Pacific Incentives and Meetings Event (AIME) di Melbourne, IMEX America, IMEX Frankfurt, serta IBTM World di Barcelona.

Reporter: Agus Pebriana