Rudal Hellfire AS Hantam Tanker Botswana di Hormuz
Konflik AS-Iran Memasuki Babak Baru
DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN-Ketika dunia menanti kabar perdamaian, ledakan justru mengguncang Selat Hormuz. Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah menembakkan rudal AGM-114 Hellfire ke sebuah tanker berbendera Botswana yang menuju Iran, memicu kekhawatiran baru akan meluasnya konflik di Timur Tengah.
Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah melancarkan serangan yang disebut sebagai aksi “membela diri” terhadap target militer Iran. Selain itu, Washington mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal balistik dan drone yang diarahkan ke kapal-kapal sipil serta negara-negara Teluk.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan serangan dilakukan di Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz.
“Sebagai respons terhadap upaya serangan Iran di seluruh Timur Tengah.”
Di sisi lain, Iran mengaku telah melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer serta helikopter Amerika Serikat di sebuah negara kawasan.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa peluang perdamaian masih jauh dari kenyataan.
Rudal Mengarah ke Bahrain dan Kuwait
Menurut Centcom, Iran menembakkan dua rudal ke Kuwait dan tiga rudal ke Bahrain.
Namun demikian, militer Amerika Serikat mengklaim seluruh rudal tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Selain rudal balistik, pasukan Amerika juga mengaku menembak jatuh tiga drone serang Iran yang diarahkan ke jalur pelayaran internasional.
“Para pelaut sipil yang secara sah sedang melintasi perairan kawasan tersebut.”
Insiden tersebut semakin mempertegas pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur strategis perdagangan energi dunia.
Iran Ancam Amerika Serikat di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada Washington.
“Mengganggu keamanan Selat Hormuz akan menimbulkan harga yang sangat mahal bagi militer agresif Amerika Serikat.”
Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya di kawasan perairan Teluk.
Sebelumnya Iran juga beberapa kali melancarkan serangan terhadap sasaran yang berada di Bahrain dan Kuwait, lokasi yang menjadi rumah bagi sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat.
Kapal Tanker Jadi Sasaran
Ketegangan semakin meningkat setelah Centcom mengumumkan operasi terhadap sebuah kapal tanker minyak kosong berbendera Botswana yang sedang berlayar menuju Iran.
Menurut militer AS, kapal tersebut dihentikan sebagai bagian dari blokade laut yang diterapkan Washington sejak 13 April lalu.
Sebuah rudal AGM-114 Hellfire diluncurkan ke ruang mesin kapal setelah awak kapal disebut mengabaikan berbagai peringatan yang diberikan.
Centcom bahkan merilis rekaman yang diklaim memperlihatkan momen serangan terhadap kapal tanker tersebut.
Selain itu, militer AS menyatakan telah melumpuhkan enam kapal komersial dan mengalihkan 122 kapal lainnya sejak blokade diberlakukan.
Trump Klaim Iran Ingin Berdamai
Di tengah meningkatnya eskalasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap optimistis bahwa peluang kesepakatan masih terbuka.
“Duduk santai dan tenang saja.”
Trump kemudian menambahkan:
“Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi Amerika Serikat.”
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan media Amerika menyebut Gedung Putih mengubah sejumlah syarat dalam pembahasan perjanjian damai.
Menurut laporan CBS News, perubahan itu berkaitan dengan masa depan Selat Hormuz dan penghapusan uranium Iran yang telah diperkaya pada tingkat tinggi.
Iran Tuduh Washington Terus Mengubah Tuntutan
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Amerika Serikat tidak konsisten selama proses negosiasi berlangsung.
“Terus-menerus mengubah pandangannya dan mengajukan tuntutan baru atau tuntutan yang saling bertentangan.”
Pernyataan tersebut semakin memperjelas mengapa pembicaraan damai yang berlangsung selama akhir pekan gagal menghasilkan kemajuan berarti.
Marco Rubio: Perang Sudah Berakhir
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio juga menjadi sorotan saat memberikan kesaksian di hadapan Kongres.
Rubio menegaskan bahwa Washington belum menawarkan pencabutan sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Saat ini, semua yang dibahas dengan mereka adalah bahwa setiap keringanan sanksi bersifat berdasarkan syarat.”
Menurut Rubio, keringanan sanksi hanya dapat diberikan apabila Iran memenuhi tuntutan terkait program nuklirnya.
Dalam sesi yang berlangsung panas, Rubio bahkan menyatakan:
“Perang sudah berakhir.”
Namun demikian, perkembangan terbaru di lapangan justru menunjukkan bahwa konfrontasi militer antara kedua negara masih berlangsung dan berpotensi memicu krisis yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Analisis: Selat Hormuz Jadi Kunci Konflik
Konflik saat ini bukan lagi semata persoalan serangan rudal atau drone. Selat Hormuz telah menjadi pusat pertarungan geopolitik yang menentukan stabilitas ekonomi global.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut setiap hari. Karena itu, setiap gangguan di kawasan itu dapat memicu lonjakan harga energi internasional.
Jika negosiasi kembali gagal dan eskalasi militer meningkat, bukan hanya Amerika Serikat dan Iran yang terdampak. Pasar energi global, negara-negara Teluk, hingga perekonomian dunia berpotensi merasakan efek domino yang signifikan.

Tinggalkan Balasan