DIKSIMERDEKA.COM PETALING JAYA – Gelombang PHK kembali menghantam Malaysia. Saat ribuan pekerja kehilangan pekerjaan, pemerintah bergerak cepat menghadapi ancaman krisis rantai pasok dan lonjakan harga energi yang dapat menekan ekonomi kawasan.

Pemerintah Malaysia mulai memperketat perlindungan tenaga kerja setelah jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan kembali meningkat pada April 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan krisis rantai pasok dunia, pemerintah menyiapkan berbagai langkah untuk menahan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, mengungkapkan sebanyak 7.057 pekerja kehilangan pekerjaan pada April 2026. Angka itu naik dibandingkan Maret yang tercatat 5.855 pekerja.

Baca juga :  Inflasi Malaysia Naik 1,6 Persen, Biaya Hidup Diam-diam Makin Menekan

Meski demikian, dia menegaskan kondisi tersebut masih lebih baik dibanding awal tahun.

“Pada Januari, 10.658 pekerja kehilangan pekerjaan, sedangkan pada Februari sebanyak 2.260 orang. Kementerian akan terus memberikan perhatian terhadap isu ini,” kata Akmal dalam pengarahan mengenai krisis rantai pasok global dilansir dari The Star, Senin (25/5).

Menurutnya, pemerintah akan memastikan Sistem Asuransi Ketenagakerjaan (SIP) dan berbagai skema perlindungan kerja di bawah PERKESO berjalan efektif untuk melindungi lapangan kerja serta membantu pekerja yang terdampak.

Di sektor energi, Akmal memastikan pasokan minyak nasional masih aman. Ia menyebut PETRONAS menjamin ketersediaan minyak Malaysia hingga akhir Juli.

Baca juga :  Bank Inggris Siapkan Sistem Pembayaran Tandingan Visa–Mastercard, Alarm Ketergantungan AS Menguat

“Rata-rata harga minyak mentah Brent pada 18-22 Mei mencapai US$111,67 per barel, naik 1,7 persen dibandingkan US$109,85 per barel pada pekan sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Akmal, harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel telah mendorong kenaikan biaya transportasi dan harga barang konsumsi.

“Kondisi ini mencerminkan pasar energi global yang masih bergejolak akibat risiko geopolitik yang terus berlangsung,” katanya.

Meski tekanan global meningkat, pemerintah mengklaim harga pangan domestik masih terkendali. Dalam periode 18 hingga 21 Mei, perubahan harga kebutuhan pokok berada pada kisaran minus 2 persen hingga naik 3,6 persen.

Baca juga :  Inflasi Malaysia Naik 1,6 Persen, Biaya Hidup Diam-diam Makin Menekan

“Harga rata-rata ayam tercatat RM9,57 atau sekitar Rp42.700 per kilogram, sedangkan harga daging sapi turun 2 persen menjadi RM38,45 sekitar Rp171.500 per kilogram. Sementara itu, harga sawi naik 3,6 persen menjadi RM7,80 sekitar Rp34.800 per kilogram.”

Akmal menegaskan pemerintah akan terus melakukan pemantauan harga dan memperkuat pengawasan apabila ditemukan kenaikan yang melampaui batas rata-rata.

Ia juga mengimbau masyarakat memanfaatkan aplikasi PriceCatcher untuk memantau harga barang kebutuhan sehari-hari secara real time.