Wabah Campak Tewaskan 500 Anak di Bangladesh
Wabah Campak Bangladesh Picu Darurat Kesehatan Nasional
DIKSIMERDEKA.COM DHAKA- Wabah Campak berubah menjadi bencana kesehatan paling mematikan di Bangladesh. Dalam beberapa dekade terakhir. Lebih dari 500 anak meninggal dunia akibat lonjakan kasus campak yang terus menghantam negara Asia Selatan tersebut sejak pertengahan Maret 2026.
Dilansir dari AFP, rumah sakit di ibu kota Bangladesh Dhaka kini kewalahan menghadapi ledakan pasien anak. Bahkan, sejumlah rumah sakit membuka bangsal khusus campak karena kapasitas perawatan intensif sudah hampir penuh.
Selain itu, angka kematian terus naik dari hari ke hari. Dalam 24 jam terakhir saja, 13 anak dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi campak, Minggu (24/5/2026).
Data Departemen Kesehatan Bangladesh mencatat total korban jiwa kini mencapai 512 anak sejak 15 Maret lalu.
Rumah Sakit Dhaka Kolaps, Anak-anak Datang dalam Kondisi Kritis
Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di Dhaka. Banyak anak datang ke rumah sakit dalam keadaan kritis akibat gangguan pernapasan akut dan infeksi berat.
Padahal, campak sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi rutin. Namun, lemahnya cakupan imunisasi membuat ribuan anak rentan terkena virus mematikan itu.
Dokter anak di Shaheed Suhrawardy Medical College and Hospital, Dr Ainul Islam Khan, mengungkapkan mayoritas pasien anak mengalami komplikasi serius ketika tiba di rumah sakit.
“Meski campak sangat menular, bayi sehat tanpa komplikasi sebenarnya bisa bertahan hanya dengan pengobatan minimal,” kata Dr Ainul Islam Khan.
Namun demikian, kondisi di Bangladesh jauh lebih parah.
“Di sini, sebagian besar anak datang ke rumah sakit dengan gangguan pernapasan serta infeksi pada mata, tenggorokan, dan paru-paru,” lanjutnya.
Karena itu, tenaga medis kini bekerja di bawah tekanan besar demi menekan angka kematian yang terus meningkat.
UNICEF Soroti Krisis Imunisasi Pasca Kerusuhan Politik
UNICEF menilai kekacauan politik pada 2024 menjadi salah satu penyebab utama memburuknya situasi kesehatan anak di Bangladesh.
Sebelumnya, gelombang pemberontakan besar menggulingkan pemerintahan negara tersebut. Akibatnya, program imunisasi nasional terganggu dan jutaan anak kehilangan akses vaksin dasar.
Kepala UNICEF Bangladesh, Rana Flowers, menegaskan bahwa vaksinasi massal harus terus diperkuat.
“Program vaksinasi, pendanaan fasilitas kesehatan, sistem pengawasan, dan data kesehatan harus diperkuat pada masa mendatang,” ujar Rana Flowers.
Selain itu, UNICEF mengungkapkan bahwa kampanye vaksinasi nasional kini sudah menjangkau 18 juta anak.
Meski demikian, pemerintah Bangladesh mengakui dampak vaksinasi tidak akan langsung terasa dalam waktu cepat.
Anak Kurang Gizi Jadi Korban Terbanyak
Analisa situasi menunjukkan anak-anak dari keluarga miskin menjadi kelompok paling rentan dalam wabah ini.
Banyak korban diketahui mengalami gizi buruk. Selain itu, sebagian besar anak juga tidak mendapatkan vaksin rutin atau memiliki daya tahan tubuh lemah akibat kekurangan nutrisi.
Karena itu, kombinasi kemiskinan, malnutrisi, dan rendahnya imunisasi mempercepat penyebaran virus campak di berbagai wilayah Bangladesh.
Virus campak sendiri sangat mudah menular melalui batuk dan bersin. Lebih buruk lagi, penyakit ini belum memiliki pengobatan khusus setelah seseorang terinfeksi.
Komplikasi campak dapat memicu pembengkakan otak hingga gangguan pernapasan berat yang mematikan.
Pemerintah Klaim Wabah Terkendali, Fakta di Lapangan Berbeda
Pemerintah Bangladesh sebelumnya sempat mengklaim wabah mulai terkendali karena jumlah kasus menurun di beberapa wilayah.
Namun fakta di lapangan menunjukkan rumah sakit masih dipenuhi pasien anak dengan kondisi serius.
Mayoritas kasus terbaru juga menyerang anak usia enam bulan hingga lima tahun, kelompok usia paling rentan terhadap komplikasi mematikan.
Karena itu, banyak pengamat kesehatan menilai pemerintah bergerak terlalu lambat menghadapi ledakan kasus campak nasional ini.
Selain itu, krisis ini menjadi peringatan keras bahwa gangguan imunisasi akibat konflik politik dapat menciptakan bencana kesehatan jangka panjang.
Krisis Politik Berubah Jadi Krisis Kemanusiaan
Wabah Campak di Bangladesh bukan sekadar persoalan kesehatan biasa. Krisis ini memperlihatkan bagaimana kekacauan politik dapat menghancurkan sistem perlindungan anak dalam waktu singkat.
Ketika vaksinasi terganggu, anak-anak miskin langsung menjadi korban pertama. Selain itu, lemahnya fasilitas kesehatan memperburuk situasi di rumah sakit.
Bangladesh memang bergerak cepat dengan vaksinasi massal. Namun, efek perlindungan vaksin membutuhkan waktu. Sementara itu, virus terus menyebar setiap hari.
Karena itu, tanpa perbaikan sistem kesehatan nasional dan distribusi imunisasi yang merata, angka korban jiwa diperkirakan masih bisa bertambah dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi dunia internasional, Wabah Campak Bangladesh juga menjadi alarm serius bahwa penyakit lama bisa kembali mematikan ketika sistem kesehatan runtuh akibat konflik politik dan kemiskinan.

Tinggalkan Balasan