Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Disorot Tajam

DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Ekonom Ferry Latuhihin melontarkan kritik keras terhadap angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen yang belakangan ramai dipuji pemerintah dalam podcast di channel yotube

Dalam podcast Hendri Satrio Official, Ferry bahkan menyebut angka tersebut sebagai “doping” demi membuat Presiden senang.

“Kalau saya bold, saya bilang ini untuk menghibur Bapak Presiden,” kata Ferry Latuhihin.

Menurut Ferry, lonjakan pertumbuhan ekonomi terjadi karena pengeluaran pemerintah yang digenjot sangat besar, terutama untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

Ferry Sebut Ada “Doping” Belanja Pemerintah

Ferry menjelaskan belanja pemerintah yang biasanya tumbuh sekitar 4 persen, kini melonjak hingga hampir 22 persen.

Baca juga :  Koster Arahkan Pengendalian Inflasi Bali Kedepan Lewat Penguatan Produksi dan Distribusi Pangan

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi terlihat tinggi meski daya beli masyarakat dinilai sedang melemah.

“Kalau tidak ada doping pengeluaran pemerintah, saya yakin pertumbuhan ekonomi kita mungkin di bawah 4 persen,” ujarnya.

Ia menilai kondisi riil masyarakat justru bertolak belakang dengan angka resmi pemerintah.

Ferry menyoroti kelas menengah yang terus menyusut, pinjaman online yang melonjak, hingga tekanan terhadap rupiah dan pasar saham.

Rupiah Disorot, Dolar Bisa Tembus Rp25 Ribu

Dalam podcast tersebut, Ferry juga memperingatkan risiko ekonomi yang lebih berat jika pemerintah terus mengandalkan utang dan pencetakan uang.

Ia menilai tekanan terhadap rupiah masih sangat besar.

“Kalau ekonomi crash, dolar bisa lari ke Rp25.000. Itu bukan sesuatu yang tidak mungkin,” tegasnya.

Ferry membandingkan situasi Indonesia dengan krisis mata uang di Turki saat dipimpin Recep Tayyip Erdogan.

Baca juga :  Pemda Jangan Ragu Realisasikan Anggaran untuk Kendalikan Inflasi

Menurut dia, investor mulai kehilangan kepercayaan akibat regulasi yang sering berubah dan tekanan fiskal yang makin berat.

Badai PHK Dinilai Sudah di Depan Mata

Ferry juga mengutip pernyataan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita soal ancaman badai PHK.

Ia menilai gelombang pemutusan hubungan kerja akan makin besar jika ekonomi terus melambat.

“Saya jempol Agus Gumiwang karena dia jujur. Badai PHK itu memang ada di depan mata,” katanya.

Selain itu, ia menyebut Indonesia sedang menghadapi masalah struktural serius, terutama deindustrialisasi.

Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB disebut terus turun dari era 30 persen menjadi hanya sekitar 18 persen saat ini.

Baca juga :  Menhan Tinjau Kesiapan RS. dr. Suyoto Pusrehab Kemhan Sebagai Rujukan dan Mampu Rawat 220 Pasien Covid-19

MBG Diminta Dihentikan

Ferry secara terbuka meminta pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis.

Menurut dia, kondisi fiskal Indonesia tidak cukup kuat untuk menopang belanja jumbo tersebut.

“MBG itu bakar duit ratusan triliun,” ucap Ferry.

Ia bahkan memperingatkan potensi inflasi tinggi jika pemerintah terus mencetak uang demi menutup defisit.

Khawatir Krisis 1998 Terulang

Di akhir podcast, Ferry mengaku khawatir kondisi ekonomi Indonesia bisa bergerak menuju krisis seperti 1998 jika tidak ada perubahan kebijakan.

Ia menilai gejolak sosial bisa muncul jika daya beli masyarakat terus turun dan harga kebutuhan pokok makin mahal.

“Jangan anggap enteng. Potensi krisis seperti 1998 itu sangat besar,” katanya.