DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali pada triwulan I 2026 tumbuh 5,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Namun, secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Bali terkontraksi 4,57 persen dibandingkan triwulan IV 2025.

Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana, mengatakan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali pada triwulan I 2026 mencapai Rp44,28 triliun (atas dasar harga konstan/ADHK), turun dari Rp46,40 triliun pada triwulan sebelumnya.

“Penurunan ini menyebabkan ekonomi Bali terkontraksi 4,57 persen secara q-to-q,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (5/5/2026).

Menurut Agus, kontraksi dipicu berakhirnya momentum libur Natal dan Tahun Baru serta masuknya periode low season pariwisata. Kondisi ini menekan aktivitas sektor pariwisata yang menjadi penopang utama ekonomi Bali.

Selain itu, faktor musiman juga menurunkan produksi pertanian, terutama komoditas padi yang telah melewati masa panen puncak pada triwulan sebelumnya. Pelemahan juga terjadi pada sektor perdagangan dan konstruksi.

Baca juga :  Ekonomi Bali Tumbuh 5,82 Persen pada 2025, Tertinggi dalam Tujuh Tahun Terakhir

Dari 17 lapangan usaha, sebanyak 15 sektor mengalami kontraksi. Penurunan terdalam terjadi pada penyediaan akomodasi dan makan minum (-8,67 persen), jasa perusahaan (-7,18 persen), serta jasa lainnya (-6,86 persen), seiring turunnya aktivitas pariwisata.

Ia mengatakan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat 1,47 juta kunjungan pada triwulan I 2026, turun 11 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Senada, tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang juga menurun dari 61,17 persen menjadi 54,87 persen.

Lebih lanjut, Agus mengatakan dari sisi pengeluaran, kontraksi terdalam terjadi pada konsumsi pemerintah yang turun 35,77 persen diikuti ekspor luar negeri (-12,39 persen) dan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (-6,98 persen).

Baca juga :  Ekonomi Bali Tumbuh 5,82 Persen, Ekonom: Tanda Kepercayaan Dunia Usaha dan Investor kembali Stabil

Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan realisasi belanja pegawai, belanja modal,
belanja barang dan jasa, serta belanja bantuan sosial yang bersumber dari APBN dan APBD.

Sebaliknya, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 0,44 persen, didorong momentum hari besar keagamaan dan libur nasional.

Menangapi kondisi tersebut, Ekonom Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) IB Suardana menilai kontraksi pertumbuhan ekonomi Bali pada truwulan I tersebut merupakan fenomena musiman yang berkaitan dengan pola siklus anggaran.

Ia mengatakan belanja pemerintah biasanya menumpuk di triwulan IV, sehingga pada awal tahun terjadi low spending effect.

Ia menjelaskan, lambatnya penyerapan anggaran pada awal tahun juga dipengaruhi proses administrasi seperti penetapan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA), lelang proyek, serta kehati-hatian birokrasi. Selain itu, proyek fisik dan konstruksi umumnya belum berjalan optimal.

Baca juga :  BPS Sebut MBG Pengaruhi Turunnya Pengangguran di Bali

Untuk mendorong pertumbuhan pada triwulan II, ia menyarankan percepatan realisasi belanja pemerintah, terutama pada belanja modal dan infrastruktur. “Perlu front-loading anggaran agar dampaknya langsung terasa pada ekonomi daerah,” kata dia.

Menurut Suardana, reformasi tata kelola anggaran melalui digitalisasi pengadaan, penyederhanaan birokrasi, serta percepatan tender juga perlu diperkuat. Belanja pemerintah, kata dia, harus diarahkan pada sektor strategis seperti pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, dan infrastruktur pendukung.

Ia menambahkan, sinergi antara belanja pemerintah dan momentum musiman seperti hari besar keagamaan serta peak season pariwisata perlu dimaksimalkan untuk menciptakan efek pengganda bagi perekonomian Bali.

Reporter: Agus Pebriana