DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada April 2026 di Provinsi Bali sebesar 2,08 persen. Angka ini menunjukkan terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas di Pulau Dewata.

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana mengatakan inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.

“Inflasi y-on-y pada April 2026 tercatat sebesar 2,08 persen,” kata Agus saat Konfrensi Pers BPS Bali, Senin (04/05/2026).

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) sebesar 0,92 persen. Sementara inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) pada April 2026 tercatat sebesar 0,01 persen.

Baca juga :  BPS Catat Inflasi Bali Capai 1,61 Persen Maret 2025, Disumbang Tarif Listrik

Menurut Agus, kenaikan harga terutama dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 2,04 persen. Kelompok ini memberi andil terbesar terhadap inflasi tahunan sebesar 0,65 persen.

Selain itu, kelompok transportasi mencatat inflasi 2,58 persen dengan andil 0,28 persen. Kenaikan harga pada sektor ini didorong tarif angkutan udara dan biaya pemeliharaan kendaraan.

Kelompok lain yang juga mengalami kenaikan yakni perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,19 persen; pendidikan 3,09 persen; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,02 persen.

Baca juga :  Bertemu Gubernur Koster, BPS Bali Sampaikan 1,57 Juta Orang Sudah Ikuti Sensus Penduduk Online

Sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan pada April 2026 antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, beras, sewa rumah, tarif angkutan udara, biaya sekolah menengah atas, minyak goreng, tarif air minum PAM, telur ayam ras, dan nasi dengan lauk.

Adapun komoditas yang menahan laju inflasi atau memberi sumbangan deflasi antara lain daging babi, bawang putih, bawang merah, cabai rawit, bensin, bayam, cabai merah, dan pisang.

Baca juga :  Produksi Beras Bali Tahun 2025 Alami Penurunan

Untuk inflasi bulanan, komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga antara lain angkutan udara, beras, minyak goreng, canang sari, nasi dengan lauk, tomat, bawang merah, dan jeruk.

Sementara komoditas yang menahan inflasi bulanan di antaranya cabai rawit, daging ayam ras, sawi hijau, buncis, emas perhiasan, tarif angkutan antarkota, daging babi, dan bawang putih.

BPS menilai inflasi Bali pada April 2026 masih berada dalam rentang yang relatif terkendali, meski tekanan harga dari sektor pangan dan transportasi tetap menjadi faktor dominan.

Reporter: Agus Pebriana