RI hingga ASEAN Mulai Merapat ke Rusia

DIKSIMERDEKA.COM MOSKOW-

Krisis energi mengubah peta dunia. Dari Jakarta hingga Manila, satu per satu negara ASEAN mulai merapat ke Rusia.

negara-negara Asia Tenggara kini berpaling ke Rusia untuk menutup kekurangan energi dan pupuk akibat konflik Timur Tengah.

Indonesia mengambil langkah paling agresif. Setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, pemerintah membuka opsi impor hingga 150 juta barel minyak mentah dari Moskow.

Seperti yang dilansir The Guardian, Filipina bahkan sudah menerima kiriman pertama minyak Rusia dalam lima tahun terakhir. Thailand dan Vietnam juga mulai menguatkan kerja sama, termasuk di sektor pupuk dan energi nuklir.


Uni Eropa Ingatkan: ‘Jangan Bantu Rusia!’

Langkah Asia Tenggara ini langsung membuat Barat gelisah.Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengingatkan keras:“Lihat gambaran besarnya. Membeli minyak Rusia berarti membantu negara itu melanjutkan perang di Ukraina.”ujarnya, Kamis (29/4)

Namun realitas di lapangan berkata lain. Negara-negara kawasan tetap bergerak, mengejar kebutuhan energi dalam negeri yang mendesak.

Baca juga :  TikTok Blokir 780 Ribu Akun Anak di Indonesia, Pemerintah Perketat Pengawasan

Rusia Panen Cuan, Sanksi Barat Melemah

Di tengah tekanan global, Rusia justru diuntungkan.

Harga energi melonjak, sanksi dilonggarkan sementara, dan Moskow meraup keuntungan miliaran dolar.
Narasi bahwa Rusia bisa diisolasi Barat mulai goyah.


🇮🇩 RI Tak Sekadar Impor, Kini Bidik Kilang & Storage

Langkah Indonesia ternyata tidak berhenti di impor.Pemerintah kini mempercepat diversifikasi energi sekaligus membangun infrastruktur strategis migas.

Salah satu hasil konkret adalah ketertarikan Rusia untuk berinvestasi dalam pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan (storage) di Indonesia.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan kerja sama ini merupakan tindak lanjut pertemuan dua kepala negara.

“Atas arahan Bapak Presiden, saya diminta menindaklanjuti pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Putin. Dalam pertemuan dengan Menteri Energi Rusia, telah disepakati bahwa kita akan mendapat dukungan dari Rusia,” ujarnya kepada wartawan lewat siaran pers Kementerian ESDM, Jumat (17/4/2026).

Saat ini, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Namun produksi dalam negeri baru sekitar 600 ribu barel per hari, sehingga Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.

Baca juga :  Iran Kutuk Serangan AS, Desak PBB dan Negara Islam Bertindak

Untuk menekan ketergantungan impor, pemerintah mengandalkan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dan kebijakan biodiesel 50 persen (B50) mulai Juli 2026.

“Konsumsi kita hampir 39-40 juta kiloliter per tahun. Produksi domestik sebelumnya 14,3 juta KL, ditambah RDMP Balikpapan jadi hampir 20 juta KL. Artinya impor bisa ditekan hingga 50 persen,” jelas Bahlil.


Investasi Rusia Disiapkan, Skema Masih Dibahas

Rencana pembangunan kilang dan storage kini masuk tahap penjajakan lanjutan.

Pemerintah masih mematangkan skema kerja sama, baik melalui jalur antar pemerintah (G2G) maupun antar bisnis (B2B).

“Ada beberapa investasi yang siap masuk, tapi finalisasi masih butuh 1-2 putaran pembahasan lagi, khususnya terkait kilang dan storage,” kata Bahlil.

Ia juga menegaskan proyek ini berbeda dengan Kilang Tuban yang digarap bersama Rosneft, dan skalanya tidak sebesar proyek tersebut.


Citra Rusia Menguat di Asia Tenggara

Di tengah dinamika global, Rusia justru mendapat tempat di hati publik Asia Tenggara.

Baca juga :  Bahlil Bertemu Menteri Singapura Tan See Leng, Bahas Ekspor Listrik Surya dari Indonesia

Survei menunjukkan lebih dari 50 persen responden di Indonesia dan Vietnam ingin Rusia menang dalam perang Ukraina. Bahkan 64 persen warga Indonesia memiliki pandangan positif terhadap Rusia.

Analis ISEAS, Ian Storey, menyebut:
“Putin dipandang sebagai sosok kuat yang melawan Barat dan membela nilai tradisional. Citra itu cukup diterima di kawasan ini.”


Sinyal Politik RI: Bebas, Tak Ikut Blok Barat

Langkah Indonesia juga dibaca sebagai sinyal politik luar negeri. Profesor Leszek Buszynski menilai:
“Indonesia ingin menunjukkan kepada Barat dan AS bahwa mereka tidak akan mengikuti arahan mereka.”


Kesimpulan: RI Ambil Jalan Sendiri di Tengah Krisis Global

Krisis energi telah mengubah peta permainan.Indonesia tak hanya mencari pasokan baru, tapi juga membangun fondasi ketahanan energi jangka panjang.
Dari impor minyak hingga rencana kilang, semuanya mengarah pada satu tujuan: kemandirian energi.

Di tengah tarik-menarik kekuatan global, Indonesia memilih satu sikap bebas, aktif, dan pragmatis.