BBM Nonsubsidi Ngacir! DPR: Pemerintah PHP ke Rakyat
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA– Harga BBM naik lagi. Kali ini bukan pelan-pelan, tapi langsung “ngebut”. Tanpa sosialisasi, tanpa peringatan, harga BBM nonsubsidi melonjak tajam. Rakyat yang sebelumnya diminta tenang, kini justru dibuat kaget.
Pertamina resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi per 18 April. Jenis yang naik bukan sembarangan. Pertamax Turbo, Dexlite, hingga Pertamina Dex semuanya ikut terkerek. Kenaikannya pun tidak tanggung-tanggung. Dari kisaran belasan ribu, kini tembus di atas Rp23 ribu per liter. Lonjakan ini terasa seperti “loncat galah”, bukan sekadar penyesuaian biasa.
Kondisi ini langsung menuai kritik keras dari DPR. Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, menilai kebijakan tersebut bukan hanya mendadak, tetapi juga minim empati. Ia menyebut langkah ini sangat memberatkan rakyat, apalagi dilakukan tanpa komunikasi yang jelas.
“Lagi-lagi kenaikan tanpa ancang-ancang. Ini jelas memberatkan rakyat,” tegas Mufti.
Yang membuat publik makin geram, sebelumnya masyarakat sempat ditenangkan dengan narasi bahwa harga BBM tidak akan naik. Rakyat diminta percaya, diminta tenang. Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya.
“Masyarakat diminta tenang, tapi tiba-tiba harga melonjak. Ini tanpa empati,” sambungnya.
Mufti bahkan tidak ragu menyebut pemerintah memberi harapan palsu. Istilah “PHP” pun dilontarkan untuk menggambarkan kondisi yang dirasakan masyarakat saat ini.
Di atas kertas, yang naik memang BBM nonsubsidi. Namun di lapangan, dampaknya tidak sesederhana itu. Banyak masyarakat kesulitan mendapatkan BBM subsidi. Antrean panjang terjadi di berbagai daerah, bahkan tak jarang warga harus pulang dengan tangan kosong. Dalam situasi seperti ini, mereka terpaksa membeli BBM nonsubsidi yang harganya kini melambung tinggi.
“Ini bukan lagi soal subsidi atau nonsubsidi. Ini soal keadilan,” kata Mufti.
Ironinya, di saat akses terhadap BBM subsidi semakin sulit, harga BBM nonsubsidi justru dinaikkan secara signifikan. Kondisi ini membuat beban langsung berpindah ke pundak rakyat.
Yang lebih membingungkan, kenaikan ini terjadi ketika situasi global mulai mereda. Jalur distribusi energi kembali terbuka, tekanan harga minyak dunia mulai turun. Namun di dalam negeri, harga justru bergerak ke arah sebaliknya.
“Kalau harga minyak dunia turun, segera turunkan harga. Jangan tunggu rakyat teriak,” ujarnya.
Harga BBM naik kali ini bukan sekadar soal angka. Ini soal kepercayaan yang mulai tergerus. Ketika janji tidak sejalan dengan kebijakan, yang tersisa hanyalah kekecewaan.
Dan seperti biasa, di tengah semua kebijakan itu, rakyat lagi-lagi berada di posisi paling berat.

Tinggalkan Balasan