Demo Gen Z Dibungkam! Rezim Baru Madagaskar Mulai Tunjukkan Wajah Lama
DIKSIMERDEKA.COM MADAGASKAR — Euforia anak muda (Gen-Z) Madagaskar berubah jadi getir. Rezim militer yang dulu dielu-elukan sebagai “penyelamat” kini mulai dipandang tak beda dengan penguasa lama: represif, tertutup, dan penuh aroma kekuasaan.
Empat aktivis Gen Z Herizo Andriamanantena, Miora Rakotomalala, Dina Randrianarisoa, dan Nomena Ratsihorimanana—dibekuk aparat pada 12 April, hanya dua hari setelah mereka turun ke jalan menuntut kepastian jadwal pemilu, seprti laporan Media Inggris The Guardian, Senin (20/4/2026).
Mereka dituduh melakukan tindakan yang “mengancam keamanan negara” dan “konspirasi kriminal”. Namun kuasa hukum mereka, Aliarivelo Maromanana, membantah keras.
“Mereka semua menyangkal tuduhan itu, dan tidak ada bukti sama sekali,” tegasnya.
Rezim Baru, Cara Lama?
Penangkapan ini langsung memantik kecurigaan publik. Jangan-jangan, rezim yang lahir dari gelombang demonstrasi besar Gen Z itu hanya ganti wajah, bukan ganti sistem.
Kolonel Michael Randrianirina naik ke tampuk kekuasaan lewat kudeta Oktober 2025, setelah berminggu-minggu aksi anak muda mengguncang negara. Harapan mereka besar: perubahan nyata.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Juru bicara presiden, Harry Laurent Rahajason, mencoba cuci tangan. Ia menegaskan bahwa penangkapan bukan urusan istana.
“Di Madagaskar ada pemisahan kekuasaan. Presiden tidak ada kaitannya dengan kasus yang menjadi urusan polisi nasional,” ujarnya berdalih.
Aktivis Ditahan, Dua Masuk Rumah Sakit
Dua dari empat aktivis sempat dibebaskan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Polisi berdalih mereka jatuh sakit, bukan karena perlakuan buruk selama penahanan.
Namun publik tak mudah percaya.
Apalagi, dua aktivis lain kembali ditangkap pada Rabu malam. Informasi soal kondisi mereka masih gelap.
Dari Harapan Jadi Kekecewaan
Saat mantan presiden Andry Rajoelina kabur Oktober tahun lalu, rakyat bersorak. Tapi kini, sorak itu berubah jadi desahan panjang.
Banyak anak muda kecewa berat. Mereka menilai kabinet bentukan Randrianirina justru berisi wajah lama—elit korup yang dulu mereka lawan.
Belum lagi reformasi ekonomi yang tak kunjung jelas, dan kedekatan mencurigakan pemerintah dengan Rusia.
Ketakandriana Rafitoson dari Transparency International Madagaskar angkat suara.
“Ini menimbulkan kekhawatiran serius soal penghormatan terhadap kebebasan dasar. Pola ini sudah kita lihat di pemerintahan sebelumnya, dan publik berharap itu berhenti. Tapi ternyata tidak,” katanya.
Negara Kaya, Rakyat Tetap Miskin
Ironis. Madagaskar kaya sumber daya: vanila, batu mulia, hingga keanekaragaman hayati kelas dunia.
Tapi rakyatnya tetap miskin.
Pada 2024, negara ini masuk lima besar negara termiskin di dunia, dengan pendapatan per kapita hanya 545 dolar AS.
Masalah klasiknya: kudeta, korupsi, dan krisis iklim.
Reformasi Nihil, Rakyat Frustrasi
Pemimpin Gen Z Madagasikara, Elliot Randriamandrato, blak-blakan.
“Saat ini tidak ada reformasi nyata yang menjadi agenda pemerintah baru. Mungkin itu sebabnya semua orang frustrasi, karena tidak ada yang jelas dan terlihat,” ujarnya.
Ia menegaskan, masalah utama bukan sekadar jadwal pemilu, tapi arah konstitusi baru.
“Kami meminta kejelasan soal jadwal konsultasi konstitusi tanggal, metode, dan prosesnya. Dan dari sana masalah utama akan terbahas,” katanya.
Ia juga menyinggung sistem pemilu saat ini yang dianggap timpang.
“Sistem sekarang hanya memungkinkan orang yang punya uang lebih untuk menang,” sindirnya.
Bayang-Bayang Rusia
Di tengah gejolak dalam negeri , muncul isu lain yang bikin merinding: pengaruh asing.
Banyak laporan yang menulis Rezim militer Madagaskar menerima bantuan truk militer, helikopter, hingga tank dari Rusia. Bahkan, ada personel Rusia di pengamanan presiden.
Shely Andriamihaja dari Gen Z Madagasikara mengaku khawatir.
“Kami sangat khawatir ada risiko penguasaan negara oleh pihak asing,” ujarnya.
Namun Rahajason justru bersikap defensif saat ditanya soal keberadaan pasukan asing.
“Kenapa Anda menanyakan ini? Kenapa normal ketika negara lain memakai pengawal asing, tapi tidak normal ketika Madagaskar melakukannya?” balasnya seperti yang diberitakan media lokal Madagaskar.
Ujian Rezim: Gagal?
Demonstrasi Jumat lalu disebut sebagai “tes pertama” bagi rezim baru. Hasilnya? Banyak yang menilai: gagal total.
Dari yang awalnya bakal menjadi harapan sebagai simbol perubahan, kini pemerintahan Randrianirina mulai dicap sebagai “versi baru dari masalah lama”.
Dan bagi Gen Z Madagaskar, satu hal makin jelas: perjuangan mereka belum selesai.

Tinggalkan Balasan