DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON — Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi global setelah ia melontarkan kritik terbuka terhadap Paus Leo XIV. Komentar tersebut menyoroti perbedaan pandangan antara politik konservatif dan arah kepemimpinan Gereja Katolik saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam unggahan panjang di media sosial, lalu ditegaskan kembali kepada wartawan saat tiba di Washington.

“Saya bukan penggemar Paus Leo,” kata Trump .


⚠️ Sebut Paus Terlalu Liberal

Trump tak berhenti di situ. Ia secara frontal menilai Paus Leo sebagai sosok yang terlalu berpihak pada kelompok kiri/Sosialis Liberal.

“Dia orang yang sangat liberal,” ujarnya.

Trump juga menyindir agar Paus berhenti “melayani kelompok kiri radikal”.


Dipicu Kritik Soal Perang Iran

Serangan Trump muncul setelah Paus Leo mengkritik konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Baca juga :  Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global Trump, Kekuasaan Presiden Dibatasi

Paus menyebut adanya “ilusi kekuasaan absolut” yang memicu perang tersebut.

Meski tidak menyebut nama Trump secara langsung, pernyataan Paus dianggap menyindir kebijakan Washington.


Trump Balas Keras

Trump langsung merespons dengan nada tinggi.

“Paus Leo lemah dalam menangani kejahatan, dan buruk dalam kebijakan luar negeri,” tulisnya.

Ia juga menolak keras pandangan yang dianggap memberi ruang bagi Iran.

“Saya tidak ingin Paus yang berpikir tidak masalah jika Iran memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.


Paus: Tuhan Tak Pernah Mendukung Perang

Sebelumnya, Paus Leo menyampaikan pesan moral yang kuat terkait konflik global.

Ia menegaskan bahwa Tuhan tidak mendukung pihak yang memicu perang.

“Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang berperang, tetapi menolaknya,” ujarnya.

Baca juga :  Pejabat Pentagon Raup Untung Miliaran dari AI Milik Elon Musk, Dugaan Konflik Kepentingan Muncul

Ia juga mengutip kitab suci:

“Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan—tanganmu penuh darah.”


Ketegangan Langka

Ketegangan antara Paus dan Presiden AS bukan hal baru, tetapi jarang terjadi secara terbuka dan setajam ini.

Terlebih, respons keras dari Trump terhadap pemimpin Vatikan tergolong tidak biasa dalam diplomasi global.


Trump: Saya Dipilih Rakyat

Trump berdalih bahwa kebijakan yang ia ambil adalah mandat dari rakyat Amerika.

“Saya tidak ingin Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat karena saya melakukan persis apa yang saya dipilih, dengan kemenangan telak, untuk lakukan,” katanya.

Ia bahkan menyindir posisi Paus Leo.

“Kalau saya tidak di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” ujar Trump.

Baca juga :  Zelensky Ngotot! Minta Jaminan Keamanan 20 Tahun dari AS Sebelum Teken Damai

Politik, Agama, dan Perang

Trump juga mengaitkan isu ini dengan kebijakan luar negeri lain, termasuk Venezuela.

“Saya tidak ingin Paus yang menganggap buruk ketika Amerika menyerang Venezuela,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut dilakukan demi kepentingan nasional.


🧠 Analisa

Pernyataan Trump membuka babak baru ketegangan antara politik dan agama di panggung global.

Ketika pemimpin negara dan pemimpin spiritual saling berhadapan, dampaknya bisa meluas—bukan hanya secara politik, tetapi juga sosial dan moral.


🏁 Kesimpulan

Serangan terbuka Trump terhadap Paus Leo XIV menunjukkan bahwa konflik global kini tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang wacana.

Dan ketika dua simbol kekuasaan—politik dan agama—saling bertabrakan, dunia pun ikut menahan napas.