DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON Pentagon dan AI Milik Elon Musk menjadi sorotan setelah terungkap seorang pejabat tinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat meraup keuntungan besar dari investasi pribadinya di perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk.

Pejabat tersebut, Emil Michael, yang menjabat sebagai wakil menteri pertahanan untuk riset dan teknik, dilaporkan memperoleh keuntungan hingga puluhan juta dolar dari penjualan saham perusahaan xAI.


Untung Fantastis

Saat pertama kali masuk ke Pentagon, nilai investasinya diperkirakan hanya sekitar 500 ribu hingga 1 juta dolar.Namun, pada Januari lalu, ia menjual saham tersebut dengan nilai antara 5 juta hingga 25 juta dolar.Kenaikan ini berarti keuntungan yang didapat mencapai ratusan hingga ribuan persen.

Baca juga :  Iran Kutuk Serangan AS, Desak PBB dan Negara Islam Bertindak

⚠️ Dugaan Konflik Kepentingan

Masalah muncul karena Emil Michael memiliki peran penting dalam kebijakan penggunaan AI di Pentagon.

Ia terlibat dalam negosiasi dengan perusahaan-perusahaan AI, termasuk xAI.

Mantan pengacara etika Gedung Putih, Richard Painter, menilai situasi ini bermasalah.

“Ini terdengar sangat aneh. Tidak mungkin seorang penasihat etika yang baik akan membiarkan pejabat pertahanan tetap memegang saham perusahaan AI saat ia terlibat langsung dalam urusan tersebut. Risiko pelanggaran hukum sangat tinggi,” ujarnya seperti yang dilansir The Guardian, Jumat (10/4/2026)

Ia menegaskan bahwa hukum federal melarang pejabat mengambil keputusan yang dapat menguntungkan kepentingan finansial pribadi mereka.

Baca juga :  Rodrigo Duterte Segera Diadili! ICC Tegaskan Ada Bukti Pembunuhan Massal

Pentagon Membantah

Menanggapi tudingan tersebut, Pentagon membantah adanya pelanggaran.

Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut telah memiliki sistem etika yang ketat.

“Departemen Pertahanan memiliki kerangka kerja etika berlapis yang mencakup pemeriksaan laporan keuangan, pelepasan kepemilikan jika diperlukan, serta pengawasan untuk mencegah konflik kepentingan,” demikian pernyataan juru bicara Pentagon.

Mereka juga menegaskan bahwa Emil Michael telah mematuhi seluruh aturan yang berlaku.

“Yang bersangkutan sepenuhnya mematuhi semua hukum dan peraturan etika. Setiap klaim sebaliknya adalah tidak benar,” lanjut pernyataan tersebut.


Hubungan dengan xAI

Sorotan makin tajam karena selama periode kepemilikan saham tersebut, Pentagon menjalin kerja sama dengan xAI.

Teknologi chatbot Grok milik perusahaan tersebut bahkan dipilih sebagai salah satu penyedia AI untuk kebutuhan militer.

Baca juga :  Damai Sudah di Depan Mata, Trump Malah Picu Ketegangan Baru di Perang Iran

Hal ini memunculkan pertanyaan besar tentang potensi konflik kepentingan.


Kasus ini menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi AI membawa tantangan baru dalam tata kelola pemerintahan.Ketika pejabat publik memiliki kepentingan bisnis di sektor yang sama dengan kebijakan yang mereka buat, risiko konflik kepentingan menjadi sangat tinggi. Jika tidak diawasi ketat, hal ini bisa merusak integritas kebijakan publik.


Kasus Emil Michael menjadi pengingat penting bahwa transparansi dan etika harus menjadi prioritas dalam era teknologi canggih.Terlebih, sektor AI kini menjadi bagian strategis dalam pertahanan dan keamanan negara.