DIKSIMERDEKA.COM, JOGJAKARTA-Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS bukan sekadar gejolak ekonomi biasa. Dampaknya mulai terasa hingga ke dapur masyarakat. Harga pangan berpotensi ikut terdorong naik, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor.

elemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret kembali memunculkan kekhawatiran baru. Bukan hanya soal stabilitas ekonomi, tetapi juga ancaman terhadap harga pangan nasional.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas strategis seperti kedelai, gandum, hingga bawang putih membuat fluktuasi kurs cepat merambat ke harga di dalam negeri. Saat rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat. Imbasnya, harga pangan di tingkat konsumen ikut tertekan.

Baca juga :  BI-Rate Tetap 4,75%! Rupiah Tertekan Dampak Perang Timur Tengah, Bank Indonesia Siaga

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Hani Perwitasari, S.P., M.Sc., mengingatkan kondisi ini perlu diwaspadai serius. Menurutnya, dampak fluktuasi nilai tukar terhadap harga pangan tidak bisa dianggap sepele.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujarnya, Rabu (25/3).

Hani menjelaskan, dampak pelemahan rupiah tidak merata pada semua komoditas. Produk dengan pasokan domestik yang cukup cenderung lebih stabil. Namun, untuk komoditas yang bergantung pada impor atau sulit disubstitusi, tekanan harga bisa lebih cepat terasa.

“Komoditas yang paling rentan seperti daging, kemudian telur, susu yang memang sulit untuk disubstitusi, maka dia akan lebih rentan terhadap dampak dari pelemahan rupiah ini,” jelasnya.

Baca juga :  Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar! Ekonom UI Bongkar Biang Kerok yang Bikin Investor Kabur

Menurut dia, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari struktur pangan nasional yang masih bergantung pada impor. Ketika produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan, impor menjadi solusi. Namun di sisi lain, hal ini juga membuka celah kerentanan terhadap gejolak global.

“Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” kata Hani.

Tak hanya berdampak pada harga jual, pelemahan rupiah juga menghantam sisi produksi. Sejumlah input pertanian dan peternakan masih terhubung dengan pasar global. Ketika kurs naik, biaya produksi ikut terdongkrak.

“Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya akan naik dan total biayanya meningkat,” ungkapnya.

Baca juga :  Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar! Ekonom UI Bongkar Biang Kerok yang Bikin Investor Kabur

Dalam jangka pendek, pemerintah dinilai perlu memperkuat pengendalian harga dan memastikan data pangan nasional akurat. Langkah ini penting untuk menentukan kebijakan yang tepat, termasuk keputusan impor saat pasokan terganggu.

“Kalau kurang ya perlu impor, kalau tidak kurang ya tidak perlu impor, sehingga kebijakan bisa diambil dengan lebih tepat,” tuturnya.

Sementara itu, dalam jangka panjang, penguatan produksi dalam negeri menjadi kunci. Dukungan terhadap petani, mulai dari akses pembiayaan, subsidi input hingga asuransi pertanian, dinilai harus diperkuat.

“Peran seluruh pihak termasuk konsumen juga penting, karena memilih produk dalam negeri akan mendorong penguatan produksi pangan nasional,” pungkasnya.