DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Tekanan datang dari luar. Dua lembaga pemeringkat global, Moody’s dan Fitch, kompak menurunkan outlook sejumlah bank besar di Indonesia. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan kondisi perbankan nasional tetap aman.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan kinerja perbankan Indonesia 2026 masih solid dan bertumbuh positif di tengah dinamika global.

Sebelumnya, Moody’s memangkas outlook lima bank besar dari stabil menjadi negatif. Bank yang terdampak meliputi Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN.

Meski demikian, Moody’s tidak mengubah peringkat kredit utama bank-bank tersebut. Seluruh indikator, mulai dari peringkat penerbit, simpanan, hingga utang senior tanpa jaminan tetap dipertahankan.

Baca juga :  Pansel Umumkan Seleksi Anggota Dewan Komisioner OJK Tahun 2022-2027

Penurunan outlook itu lebih dipicu oleh perubahan outlook sovereign Indonesia yang dinilai menghadapi peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan.

Tak hanya Moody’s, Fitch juga mengambil langkah serupa. Lembaga ini merevisi outlook empat bank BUMN menjadi negatif.

Empat bank tersebut adalah Bank Mandiri, BRI, BNI, serta Indonesia Eximbank. Meski outlook berubah, peringkat kredit jangka panjang tetap berada di level BBB.

Di tengah tekanan tersebut, OJK menilai fundamental perbankan nasional tidak terganggu.

“Pada dasarnya kondisi industri perbankan nasional berada dalam kondisi yang positif, dengan pertumbuhan kredit pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen (yoy),” ujar Dian.

Selain kredit, dana pihak ketiga juga tumbuh 13,48 persen. Ini menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan masyarakat masih terjaga.

Baca juga :  IHSG Nyungsep 8% Sehari Sampai Trading Halt! Guru Besar UGM: Ini Krisis Kepercayaan, Bukan Sekadar January Effect

Kualitas kredit pun tetap aman. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 2,14 persen. Sementara itu, permodalan bank berada di kisaran 25,87 persen—jauh di atas batas minimum.

Dengan kondisi tersebut, kinerja perbankan Indonesia 2026 dinilai masih memiliki bantalan kuat untuk menghadapi gejolak global.

Di sisi lain, bank-bank besar seperti KBMI 4 dan Himbara mencatat pertumbuhan kredit dua digit, masing-masing di atas 13 persen.

Pendanaan juga tetap solid. Pertumbuhan dana pihak ketiga di kelompok tersebut mencapai lebih dari 16 persen, menandakan likuiditas sangat terjaga.

Karena itu, perubahan outlook dinilai tidak serta-merta berdampak langsung terhadap kemampuan bank dalam mengakses pendanaan.

Baca juga :  Moody’s Turunkan Outlook RI, Apa Dampaknya ke Rupiah dan Ekonomi Indonesia?

“Penyesuaian outlook ini bersifat sementara dan berpotensi kembali membaik,” tegas Dian.

Selain itu, struktur pendanaan perbankan nasional yang masih didominasi dana domestik membuat ketergantungan terhadap pasar global relatif rendah.

Dengan demikian, tekanan eksternal dapat diredam lebih baik.

OJK pun memastikan pengawasan akan terus diperkuat. Koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus dilakukan untuk menjaga stabilitas.

Ke depan, peluang perbaikan tetap terbuka. Jika kondisi ekonomi global membaik, outlook perbankan nasional berpotensi kembali stabil bahkan positif.

Dalam situasi ini, kinerja perbankan Indonesia 2026 dinilai masih berada di jalur aman—meski bayang-bayang tekanan global belum sepenuhnya hilang.