DIKSIMERDEKA.COM,BOGOR — IPB University kembali menghadirkan inovasi untuk mendukung industri kelapa sawit berkelanjutan. Kali ini inovasi datang dari Suprihatin, dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Inovasi tersebut lahir dari pesatnya perkembangan pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia yang memberikan kontribusi ekonomi besar, tetapi juga menimbulkan persoalan lingkungan, terutama dari limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS).

Menurut Prof. Suprihatin, setiap ton tandan buah segar (TBS) dapat menghasilkan limbah cair sekitar 0,75–0,90 meter kubik, atau setara 3,33 meter kubik per ton minyak sawit mentah (CPO).

Limbah tersebut mengandung berbagai polutan seperti padatan tersuspensi (TSS), bahan organik, minyak dan lemak, serta nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan.

Baca juga :  Tinggi Purin & Oksalat! Ini Alasan Kangkung Jarang Masuk Menu Rumah Sakit

“Selama ini limbah cair PKS umumnya diolah dengan sistem kolam anaerobik–aerobik konvensional. Namun pendekatan tersebut masih memiliki keterbatasan dari sisi efektivitas dan efisiensi,” ujar Suprihatin.

Teknologi EC+ Berbasis Elektrokimia

Sebagai solusi, Suprihatin mengembangkan teknologi EC+, yaitu proses pengolahan limbah berbasis elektrokimia atau elektrokoagulasi.

Inovasi ini bahkan telah terpilih sebagai salah satu dari 117 Inovasi Indonesia 2025 versi Business Innovation Center.

Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan arus listrik searah untuk melepaskan ion positif Al³⁺ dari elektroda anoda.

Ion tersebut berfungsi mendestabilisasi partikel koloid dan membentuk flok aluminium hidroksida yang mampu mengikat berbagai kontaminan dalam limbah cair.

“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, minyak dan lemak hingga nutrien seperti fosfat. Air limbah dapat menjadi bersih dan layak digunakan kembali,” jelasnya.

Baca juga :  Kebakaran Bromo Bisa Makin Ganas, Pakar Ungkap Bahaya Medan, Angin dan Vegetasi Kering

Lebih Ramah Lingkungan dan Hemat Biaya

Salah satu keunggulan teknologi EC+ adalah tidak memerlukan tambahan bahan kimia seperti tawas, sehingga lebih ramah lingkungan.

Selain itu, biaya pengolahan limbah menggunakan teknologi ini dapat lebih murah hingga 50 persen dibandingkan metode koagulasi kimia.

Konsumsi energi listriknya juga relatif efisien, sekitar 9,80 kWh per meter kubik limbah.

Proses pengolahan berlangsung cepat dan dapat dirancang secara modular sehingga mudah diterapkan pada berbagai skala industri.

Mendukung Ekonomi Sirkular

Selain menghasilkan air yang dapat digunakan kembali, teknologi EC+ juga menghasilkan endapan atau sludge yang masih memiliki nilai guna.

Baca juga :  Pemerintah Bahas Pembentukan Pabrik CPO dan RPO Mini Berbasis Koperasi

Endapan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah (soil improver).

Bahkan sludge tersebut dapat dikombinasikan dengan biochar dari pirolisis tandan kosong kelapa sawit untuk memperkaya unsur hara tanah.

Menurut Suprihatin, teknologi ini dapat menjadi bagian penting dari penerapan ekonomi sirkular dalam industri kelapa sawit.

“Proses EC+ dapat menjadi komponen kunci dalam membentuk siklus tertutup air dan unsur hara, mengurangi penggunaan pupuk sintetis, serta mendukung konsep zero waste di industri kelapa sawit,” ujarnya.

Ia berharap inovasi ini dapat menjadi solusi teknologi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan bagi industri strategis nasional.