Pemprov Bali Diminta Perkuat Pasar Wisatawan Domestik dan Kawasan Usai Konflik di Timur Tengah
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali diminta memperkuat pasar wisatawan domestik dan kawasan sebagai langkah antisipasi dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap sektor pariwisata. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas kunjungan wisatawan ke Bali di tengah potensi gangguan penerbangan dan ketidakpastian global.
Pengamat dari Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, I Gusti Alit Suputra, mengatakan eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai memberikan dampak terhadap pariwisata global, termasuk Bali.
Dampak tersebut terutama terlihat dari gangguan transportasi udara, perubahan persepsi keamanan wisatawan, serta potensi pembatalan kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut.
“Di Bali, beberapa penerbangan maskapai Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways juga terdampak pembatalan yang memengaruhi lebih dari 1.600 penumpang,” terangnya.
Selain itu, dalam beberapa hari terakhir tercatat adanya penurunan kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, wisatawan dari kawasan tersebut rata-rata mencapai sekitar 800 orang per hari sebelum gangguan penerbangan terjadi.
Meski demikian, Alit Suputra menilai dampak konflik tersebut terhadap pariwisata Bali masih relatif terbatas. Pasalnya, kontribusi wisatawan dari Timur Tengah terhadap total wisatawan mancanegara yang datang ke Bali hanya sekitar 5 persen.
“Artinya, secara jangka pendek dampaknya lebih bersifat disrupsi operasional dan psikologis pasar, bukan krisis struktural bagi pariwisata Bali,” ujarnya.
Kendati demikian, pemerintah daerah tetap diminta mengantisipasi sejumlah potensi dampak yang dapat muncul, seperti gangguan konektivitas penerbangan internasional, menurunnya kepercayaan wisatawan akibat isu keamanan global, hingga potensi penurunan daya beli wisatawan yang dapat memengaruhi tingkat okupansi hotel serta pemesanan vila di Bali.
Sebagai langkah antisipatif, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat diversifikasi pasar wisata dengan mengurangi ketergantungan pada satu kawasan. Pasar seperti Australia, India, Asia Tenggara, dan Eropa dinilai relatif stabil dan dapat menjadi penyangga kunjungan wisatawan ke Bali.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat konektivitas penerbangan alternatif jika jalur Timur Tengah terganggu. Rute penerbangan transit melalui kawasan Asia Timur seperti Singapura, Hong Kong, Taipei, dan Seoul dinilai dapat menjadi pilihan untuk menjaga aksesibilitas wisatawan menuju Bali.
Di sisi lain, Bali juga didorong untuk terus meningkatkan kualitas pariwisata atau quality tourism. Pendekatan ini menekankan pada wisatawan dengan lama tinggal lebih panjang dan pengeluaran yang lebih tinggi sehingga dampak ekonomi tetap optimal meski jumlah wisatawan tidak meningkat signifikan.
Alit Suputra juga menilai penguatan promosi digital serta fleksibilitas perjalanan menjadi faktor penting dalam menarik wisatawan di tengah situasi global yang tidak menentu. Kebijakan tiket fleksibel, asuransi perjalanan, serta penyediaan informasi keamanan destinasi dinilai dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk tetap berkunjung.
“Selain itu, pasar domestik dan regional Asia juga harus diperkuat sebagai penyangga ketika pasar global mengalami gejolak geopolitik,” katanya.
Menurutnya, wisatawan domestik memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sektor pariwisata Bali ketika terjadi ketidakpastian di pasar internasional.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan