Presiden Iran Dipastikan Selamat Usai Serangan AS–Israel
DIKSIMERDEKA.COM, TEHERAN-Media pemerintah Iran memastikan Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi selamat dan sehat. Kantor berita resmi IRNA mengutip sumber dekat kepresidenan yang menyatakan Pezeshkian “dalam keadaan baik” setelah beredar rumor dirinya menjadi target serangan.
Konfirmasi ini muncul di tengah eskalasi serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Serangan Terjadi Sehari Setelah Putaran Terbaru Perundingan Nuklir
Serangan AS–Israel berlangsung hanya sehari setelah putaran terbaru perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Jenewa.
Teheran menyoroti bahwa ini adalah kali kedua Iran diserang saat proses diplomasi berlangsung, merujuk konflik 12 hari dengan Israel pada Juni tahun lalu yang berujung serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Usai pertemuan di Jenewa, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kesepakatan sebenarnya “sudah dalam jangkauan” jika diplomasi diprioritaskan.
“Kami memiliki peluang bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menjawab kepentingan bersama,” ujarnya.
Namun, Presiden AS Donald Trump mengaku tidak puas dengan perkembangan pembicaraan.
“Mereka tidak mau mengucapkan kata kunci: ‘Kami tidak akan memiliki senjata nuklir’,” kata Trump.
Washington mendesak Iran menyatakan secara tegas tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan sipil.
Iran Siapkan Balasan, Khamenei Beri Peringatan Keras
Media Iran melaporkan pemerintah tengah menyiapkan “balas dendam” atas serangan terbaru.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas keras.
“Presiden AS mengatakan mereka memiliki kekuatan militer terkuat di dunia. Namun kekuatan terkuat itu bisa saja dipukul begitu keras hingga tidak bisa bangkit lagi,” ujar Khamenei pekan lalu.
Ia juga menegaskan ancaman terhadap armada laut AS, menyebut ada “senjata yang bisa mengirim kapal perang itu ke dasar laut.”
Diplomasi di Ujung Tanduk
Dengan serangan militer terjadi di tengah proses negosiasi, peluang diplomasi kini berada di titik paling rapuh. Jika Iran benar-benar melancarkan balasan, konflik berpotensi meluas menjadi perang regional terbuka.
Dunia kini menunggu: apakah jalur diplomasi masih bisa diselamatkan, atau justru Timur Tengah akan memasuki babak konflik yang lebih besar?

Tinggalkan Balasan