TBC Bukan Cuma Soal Paru-paru,Dosen FK IPB : TBC Ginjal bisa Berujung Cuci Darah
DIKSIMERDEKA.COM-JAKARTA-Kasus wafatnya salah satu vokalis band ternama Tanah Air yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC) menyerang ginjal hingga harus menjalani cuci darah rutin, bikin publik terhenyak. Banyak yang baru sadar: TBC bukan cuma soal paru-paru.
Padahal, Indonesia termasuk tiga besar negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Ironisnya, pemahaman masyarakat masih sempit. TBC kerap dianggap penyakit paru semata, sementara keterlibatan organ lain—termasuk ginjal kerap luput dari perhatian. Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi saat sudah parah.
Seperti diingatkan dalam laporan Indonesia Masuk 3 Besar Dunia Kasus TBC, TBC Ginjal Bisa Berujung Cuci Darah, bentuk TBC ekstra paru ini bukan kasus langka, hanya saja kerap tersembunyi.
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, menjelaskan bahwa TBC ginjal merupakan salah satu bentuk TBC ekstra paru yang terjadi akibat infeksi Mycobacterium tuberculosis pada ginjal.
Menurut dr Christy, perbedaan utama TBC ginjal dan TBC paru terletak pada organ yang diserang. Pada TBC paru, infeksi terjadi di paru-paru. Sedangkan TBC ginjal umumnya muncul akibat penyebaran kuman dari fokus infeksi primer di paru melalui aliran darah.
“Rute infeksi utamanya melalui inhalasi aerosol yang mengandung Mycobacterium tuberculosis. Ginjal memiliki banyak pembuluh darah dan dapat terinfeksi secara hematogen, melalui pembuluh darah limfatik, atau penyebaran langsung setelah infeksi primer dari paru atau usus,” jelasnya.
Paparan kuman tersebut, kata dr Christy, dapat memicu peradangan kronis pada ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkembang menjadi nefritis tubulointerstisial kronis, nekrosis papiler, hingga fibrosis yang merusak jaringan ginjal secara luas.
“Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk uropati obstruktif, hidronefrosis, dan gagal ginjal,” ujarnya.
Fakta ini menegaskan kembali alarm dalam tajuk Indonesia Masuk 3 Besar Dunia Kasus TBC, TBC Ginjal Bisa Berujung Cuci Darah: TBC bukan penyakit sepele dan bisa menghancurkan organ vital tanpa gejala yang mencolok.
Gejala Sering Mengecoh
Masalahnya, gejala awal TBC ginjal sering tidak khas. Banyak pasien baru datang saat kondisi sudah berat. Keluhan awal bisa berupa nyeri saat berkemih, frekuensi buang air kecil meningkat, atau muncul darah dalam urine.
“Kadang hanya dikira sebagai infeksi saluran kemih biasa,” kata dr Christy.
Gejala umum seperti demam, penurunan berat badan, dan keringat malam juga bisa menyertai, namun tidak selalu muncul bersamaan. Inilah yang membuat TBC ginjal kerap luput dari deteksi dini.
dr Christy menegaskan, kewaspadaan dan pemeriksaan sejak awal menjadi kunci utama. “Bila ada keluhan berkemih sebaiknya jangan ditunda, segera konsultasikan ke dokter. Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang laboratorium dan radiologis untuk menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan yang sesuai,” tandasnya.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan keras: di negeri dengan beban TBC setinggi Indonesia, keterlambatan diagnosis bukan sekadar risiko—tetapi jalan cepat menuju gagal ginjal dan kehilangan nyawa.

Tinggalkan Balasan