DIKSIMERDEKA.COM,WASHINGRON-Setahun setelah pemerintahan Donald Trump mempreteli Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), dampak pemotongan bantuan global mulai terasa di berbagai negara. Klinik HIV di Afrika Selatan tutup, program kesehatan di Afghanistan berhenti, serta program penanganan malnutrisi dan penyakit menular ikut terhenti.

Pemangkasan bantuan AS kemudian diikuti Inggris, Jerman, Kanada, dan sejumlah negara maju lain. Dampaknya diperkirakan makin besar pada tahun ini dan tahun depan.

Studi terbaru di jurnal medis The Lancet memproyeksikan pemotongan bantuan global berpotensi menyebabkan tambahan 9,4 juta kematian hingga 2030 jika tren pendanaan saat ini berlanjut. Sekitar 2,5 juta di antaranya diperkirakan anak-anak di bawah usia lima tahun. Bahkan jika pemotongan makin dalam, tambahan kematian bisa mencapai 22,6 juta jiwa.

Koordinator penelitian, Davide Rasella, menyatakan bantuan pembangunan selama dua dekade terakhir terbukti menyelamatkan banyak nyawa dan memperkuat sistem kesehatan negara miskin. Ia memperingatkan, penghentian bantuan berisiko memicu jutaan kematian yang sebenarnya bisa dicegah.

Namun, pejabat senior Departemen Luar Negeri AS menolak kesimpulan tersebut. Pemerintah AS menilai sistem bantuan lama justru menciptakan ketergantungan dan tidak efisien. Pendekatan baru difokuskan pada perdagangan, investasi, dan penguatan kemandirian negara penerima.

Sejumlah pakar kemanusiaan menilai model proyeksi kematian memang memiliki keterbatasan. Meski begitu, mereka menegaskan dampak pemotongan bantuan sudah mulai terlihat. Beberapa klinik kesehatan tutup, pengumpulan data kematian menurun, dan kelompok rentan mulai menjual aset atau menarik anak dari sekolah demi bertahan hidup.

Peneliti memperingatkan, jika tren pemotongan bantuan terus berlanjut, risiko kematian massal dan lonjakan kemiskinan global bisa makin sulit dicegah dalam beberapa tahun ke depan.