DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA-Isu Bali sepi wisatawan kembali beredar. Namun Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana menegaskan kabar itu keliru. Buktinya, Pulau Dewata mencatat 12,2 juta kunjungan wisatawan sepanjang Januari hingga November 2025.

Penegasan itu disampaikan Widiyanti dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RImelalui daring di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (4/2/2026), saat memaparkan statistik destinasi pariwisata prioritas.

“Sekaligus kami luruskan tidak benar bahwa Bali sepi, terlihat kunjungan yang tetap mencapai 12,2 juta kunjungan di Januari hingga November 2025,” ujar Widiyanti.

Ia menjelaskan, data tersebut disampaikan untuk menjawab pertanyaan anggota Komisi VII DPR terkait kondisi kunjungan wisatawan di destinasi pariwisata prioritas. Dengan kata lain, pemerintah tidak cuma menjawab pakai klaim, melainkan menyodorkan angka.

Baca juga :  72,8% Akomodasi Penginapan Tak Berizin, Komdigi Siap Takedown OTA Bandel

Widiyanti juga mengakui, data tersebut baru dipaparkan sekarang karena masih dalam proses pengolahan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

“Kami baru dapat sampaikan sekarang karena data ini masih dalam pengolahan oleh BPS dalam hasil kerja tim Rescue bersama Bappenas dan Kemenpar,” kata Widiyanti.

Data Kunjungan Pakai Sinyal Ponsel

Menariknya, angka kunjungan itu disusun dengan metode Mobile Positioning Data (MPD). Metode ini menggunakan basis sinyal telepon seluler dalam delineasi destinasi pariwisata prioritas.

“Data yang telah terbit adalah data Januari hingga November 2025 menggunakan metode Mobile Positioning Data atau MPD yang adalah metode berbasis sinyal telepon seluler di dalam delineasi destinasi pariwisata prioritas,” ungkapnya.

Karena itu, ketika publik masih bertanya-tanya apakah Bali sepi wisatawan, pemerintah memilih menjawab lewat jejak data pergerakan, bukan sekadar asumsi.

Baca juga :  Kolaborasi Kemenpar dan Plataran Menjangan Perkuat Kapasitas KUB Banyumandi

Lombok Gili Tramena Paling Ramai

Widiyanti juga memaparkan bahwa dari 10 destinasi pariwisata prioritas (DPP), Lombok Gili Tramena mencatat jumlah kunjungan wisatawan tertinggi.

“Di antara 10 DPP, terbanyak adalah Lombok Gili Tramena,” kata Widiyanti.

Ia menambahkan, tingginya kunjungan wisatawan di Bali dan beberapa destinasi besar lain dipengaruhi oleh faktor klasik: destinasi terkenal dan akses lebih mudah. Konektivitas menjadi pembeda utama.

“Memang apabila kita lihat kunjungan di tiga destinasi regeneratif jauh melebihi kunjungan ke destinasi pariwisata prioritas karena memang ketiga destinasi ini adalah yang paling dikenal sekaligus memiliki konektivitas yang paling baik sehingga pintu masuk wisatawan memang utamanya dari ketiga destinasi ini,” ujar Widiyanti.

Baca juga :  Wisata Lebaran 2026 Meledak! Belanja Tembus Rp19,86 Triliun, Ekonomi Langsung Terdongkrak

Meski demikian, Widiyanti menilai upaya pemerintah untuk memperluas sebaran kunjungan wisatawan ke daerah lain mulai memperlihatkan hasil. Artinya, pariwisata tidak boleh hanya bertumpu pada Bali dan “nama besar” semata.

“Namun upaya kami semua untuk mendorong persebaran wisatawan ke daerah lain juga mulai menunjukkan hasil yang membaik,” ujarnya.

Dengan data ini, isu Bali sepi wisatawan setidaknya mendapat bantahan telak dari pemerintah. Namun tantangan yang lebih besar tetap ada: bagaimana memastikan pariwisata tumbuh merata, bukan menumpuk di destinasi yang itu-itu saja.

Dan di situlah pekerjaan rumah sektor pariwisata: memperkuat akses, memperbaiki konektivitas, serta membangun daya tarik daerah lain—agar Bali tetap ramai, namun Indonesia tidak timpang.