DIKSIMERDEKA,JAKARTA-Pasar modal Indonesia mendadak seperti arena tanpa rem. IHSG anjlok 8% lebih dalam satu hari pada 29 Januari 2026 setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134,70. Akibat tekanan jual yang brutal, Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai menerapkan trading halt.

Buat investor, kejadian ini bukan sekadar grafik merah. Ini alarm keras. Sebab guncangan setajam itu menandakan ada yang retak di fondasi pasar: kepercayaan.

Guru Besar Keuangan FEB UGM, Prof. Dr.rer.soc. R. Agus Sartono, M.B.A, menilai penurunan ekstrem tersebut berkaitan dengan krisis kepercayaan pada transparansi pasar modal Indonesia. Ia menyebut situasi itu memicu reaksi berantai di kalangan investor global.

Menurutnya, pemicunya datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menerapkan interim freeze atau membekukan penilaian saham Indonesia.

“MSCI menerapkan interim freeze atau membekukan penilaian saham Indonesia, yang kemudian menghancurkan ekspektasi pertumbuhan jangka pendek,” jelasnya, Rabu (4/1).

Agus menjelaskan, MSCI mengambil langkah tersebut karena melihat adanya persoalan transparansi terkait struktur kepemilikan saham (beneficial ownership) dan tingginya konsentrasi kepemilikan pada beberapa saham berkapitalisasi besar.

Di sisi lain, Agus juga menyinggung praktik penutupan data seperti kode broker dan kode domisili selama jam perdagangan. Selain itu, ia menilai beberapa saham yang dalam pemantauan kemungkinan masuk full call auction, sehingga pembentukan harga terlihat makin tidak transparan. Pasar pun kehilangan “peta”, sementara investor global tidak suka berjalan dalam kabut.

Lalu apa dampaknya? Asing kabur.

Agus memaparkan investor asing melakukan aksi jual bersih besar-besaran. Pada 28 Januari 2026, net sell investor asing mencapai Rp 6,17 triliun, lalu berlanjut pada 29 Januari 2026 dengan net sell Rp 4,63 triliun.

Baca juga :  Jaga Momentum Pemulihan Ekonomi, OJK Perpanjang Kebijakan Stimulus Perekonomian

“Faktor inilah yang menekan IHSG dan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi thin market sehingga mudah untuk di goreng saham-sahamnya,” jelas dosen Departemen Manajemen FEB UGM ini.

Kondisi thin market adalah masalah serius. Saat likuiditas menipis, harga jadi gampang digerakkan. Ujungnya, investor ritel berpotensi jadi “bensin” bagi permainan pihak yang lebih kuat.

Yang menarik, gejolak pasar tidak berhenti pada data transaksi. Agus menilai pengunduran diri sejumlah pejabat kunci justru memperparah ketidakpastian. Direktur Utama BEI mundur pada 30 Januari 2026. Lalu Mahendra Siregar menyusul mundur dari Ketua DK OJK, ditambah pengunduran diri Inarno Djajadi dari Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK pada tanggal yang sama.

“Kondisi ini justru akan membuat pasar semakin tertekan,” terangnya.

Agus menjelaskan reaksi pasar yang cepat berakar pada prinsip dasar investasi: investor membeli aset karena berharap aset menghasilkan free cash flows pada masa depan. Karena itu, pasar menuntut return yang melampaui cost of capital.

Namun ketika kepercayaan runtuh, investor mulai khawatir: apakah harga saham benar-benar mencerminkan nilai sebenarnya?

Dalam pandangannya, keputusan MSCI menimbulkan kekhawatiran bahwa harga saham tidak mencerminkan true value. Investor juga mencurigai transaksi semu, yakni transaksi yang melibatkan pihak yang berelasi dengan pemilik mayoritas sementara fundamental perusahaan dinilai lemah.

“Hal ini tidak bisa dipungkiri karena volume transaksi retail sangat kecil dan berpotensi investor hanya ikut-ikutan saja. Studi mahasiswa bimbingan saya di FEB UGM juga menunjukan adanya perilaku FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan, sehingga investor melakukan jual beli saham hanya karena ikut-ikutan dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk melakukan penilaian investasi khususnya di sektor sekuritas,” urainya.

Baca juga :  OJK Terbitkan Dua Aturan Baru

Di titik ini, IHSG anjlok 8% tidak bisa dibaca sebagai fluktuasi teknis biasa. Agus menilai penurunan dipicu ekspektasi pasar tentang potensi hilangnya likuiditas ke depan. Karena itu, investor domestik ikut panik dan melepas aset demi menghindari kerugian lebih dalam. Akan tetapi, kepanikan ini malah membuat indeks makin terperosok.

Ia menegaskan, guncangan akhir Januari 2026 mencerminkan tuntutan pasar global pada standar tata kelola yang lebih tinggi. Dengan begitu, OJK dan BEI menghadapi pekerjaan besar: memperkuat regulasi free float dan keterbukaan beneficial ownership demi memulihkan kepercayaan investor.

Agus mengingatkan, pasar modal bukan sekadar “arena trading”. Bursa adalah mesin pembiayaan investasi jangka panjang. Melalui IPO, perusahaan mendapat dana untuk tumbuh. Selain itu, indeks bursa di negara maju sering jadi indikator ekonomi karena berkaitan dengan pajak, lapangan kerja, daya beli, hingga kemiskinan.

Namun Agus juga memberi catatan penting: OJK perlu mengevaluasi aturan yang memungkinkan perusahaan dengan free cash flow negatif tetap melantai di bursa. Ia menilai pengalaman IPO sejumlah startup arus kas negatif memberi pelajaran pahit, karena saham sempat oversubscribe akibat framing prospek yang berlebihan, lalu anjlok di pasar sekunder dan meninggalkan kerugian bagi investor.

Pada akhirnya, Agus menekankan bahwa akar persoalan kembali ke keterbukaan informasi publik. Semakin maju sebuah bursa, semakin ketat pula persyaratan pencatatan saham. Perusahaan publik harus menyajikan laporan yang transparan dan sesuai standar, dengan dukungan profesi akuntan serta lembaga pemeringkat kredibel.

Karena itu, edukasi publik tentang valuasi perusahaan harus terus diperkuat agar investor tidak mengambil keputusan hanya karena euforia. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang tidak ringan: pengangguran relatif tinggi, pertumbuhan kredit melambat, dan risiko defisit meningkat.

Baca juga :  Eks Direktur Investree Ditangkap, Diduga Gelapkan Dana Rp2,7 Triliun

“Nampaknya transisi kembali pada pendekatan Free Cash Flow (FCF) menjadi keharusan strategis untuk memulihkan kredibilitas pasar, dan dengan FCF diharapkan mencegah potensi manipulasi kinerja keuangan,” ucapnya.

Agus menilai FCF lebih rasional karena menggambarkan kas riil yang tersisa untuk pemegang saham setelah biaya operasional dan belanja modal. Ia membandingkan FCF dengan laba bersih yang dinilai lebih mudah dipoles lewat kebijakan akuntansi.

“Ini penting, dan tentunya akan memberikan gambaran potensi pertumbuhan di masa datang. Investor juga dapat lebih hati-hati jika melihat FCF yang negatif di tengah laba akuntansi yang positif. Hal ini bisa dijadikan warning dan sinyal awal adanya ketidakteraturan atau model bisnis yang tidak berkelanjutan,” terangnya.

Dengan kata lain, pasar butuh disiplin. Bukan sekadar “optimisme”. Jika BEI dan OJK ingin pasar pulih, keduanya harus memastikan emiten patuh aturan dan membuka informasi dengan penuh integritas. Sebab ketika transparansi runtuh, guncangan spekulatif selalu siap datang kapan saja.

Dan sekali pasar kehilangan kepercayaan, harga yang jatuh bukan hanya indeks. Tetapi reputasi.

Di akhir, Agus menutup dengan pesan tegas bahwa integritas adalah fondasi.

“Keterbukaan dan integritas adalah fondasi utama kepercayaan. Tanpa keterbukaan, pasar modal akan terus rentan terhadap guncangan spekulatif dan perannya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional akan terganggu. Tentu butuh kerja keras dan waktu yang panjang untuk membangun kepercayaan, dan kita bisa saja mengalami kerugian akibat krisis bursa akhir Januari 2026 ini, tetapi tidak boleh kehilangan kepercayaan, integritas dan reputasi,” pungkasnya.

Sebagai pengingat: IHSG anjlok 8% memang terjadi dalam sehari, tetapi memulihkan rasa percaya bisa makan waktu bertahun-tahun.