DIKSIMERDEKA.COM-, DEPOK– Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai kritik tajam setelah mengancam akan mengenakan tarif dagang terhadap negara-negara Eropa yang menolak mendukung rencana Amerika Serikat terkait Greenland. Ancaman itu diposisikan Trump sebagai alat tekanan agar Eropa menyetujui langkah strategis AS di kawasan Arktik.Artikel ini dilansir dari Universitas Indonesia.

Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, Prof. Evi, menilai manuver tersebut mencerminkan perubahan drastis arah kebijakan global Amerika. Menurutnya, dunia kini memasuki fase kekacauan yang belum pernah terjadi sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Trump, kata Evi, justru meruntuhkan tatanan Liberal World Order yang dibangun Amerika Serikat sendiri bersama sekutunya pasca-Perang Dunia II.

“Trump menghancurkan kepercayaan kita terhadap Amerika sebagai penjaga perdamaian dan ketertiban dunia. Kepemimpinannya bahkan membuat kita meragukan kemampuan demokrasi menghasilkan pemimpin yang berkualitas,” ujar Prof. Evi dilansir dari laman resmi Universitas Indonesia.

Tuduhan Penculikan Presiden Venezuela Dinilai Langgar Hukum Internasional

Kritik terhadap Trump tidak berhenti pada isu Greenland. Pada awal 2026, Trump disebut memerintahkan penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Ia menuduh Maduro terlibat perdagangan narkoba dan terorisme narkoba, serta memerintahkan penghancuran kapal-kapal kecil yang dituding membawa narkotika.

Prof. Evi menegaskan, tindakan tersebut merupakan invasi terbuka yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum internasional. Masalahnya, ketika Amerika Serikat melanggar hukum internasional, tidak ada mekanisme efektif untuk menghukumnya.“Seharusnya negara adidaya menjadi penyangga hukum internasional, bukan justru pelanggarnya,” tegas Evi.

Greenland, Arktik, dan Retaknya NATO

Ancaman terhadap Greenland, menurut Evi, didorong dalih mencegah Rusia dan Cina memperkuat pengaruh di Arktik. Padahal, kawasan itu sejak lama menjadi arena tarik-menarik kepentingan negara-negara Nordik dan Rusia.“Sekarang di bawah Trump, Amerika ikut memperebutkan Arktik. Cara yang ditempuh Trump dalam kasus Greenland ini pada dasarnya menghancurkan NATO dari dalam,” kata Evi.Ia menilai pendekatan sepihak AS justru melemahkan solidaritas aliansi dan mempercepat erosi kepercayaan antarsekutu.

Usulan Tatanan Dunia Minus Amerika

Melihat arah kebijakan Washington, Prof. Evi mengusulkan dunia mulai mewacanakan tatanan global tanpa Amerika Serikat. Negara-negara Global South, termasuk Indonesia, dinilai perlu mengambil peran aktif.“Bagaimana Indonesia dan negara Global South mulai menyusun tatanan dunia minus one, yaitu minus Amerika,” ujarnya.Menurut Evi, dunia tidak seharusnya terus menjadi sandera kebijakan satu negara, apalagi satu figur pemimpin.“Seluruh dunia tidak boleh hancur hanya karena satu negara, bahkan cuma karena satu orang,” tegasnya.