DIKSIMERDEKA.COM- Protes Iran telah memasuki fase jeda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah menerima jaminan bahwa aparat Teheran menghentikan pembunuhan demonstran. Pada saat yang sama, pemerintah Iran menegaskan eksekusi mati terhadap peserta aksi “tidak akan berlaku”.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Namun, nada Trump kali ini lebih terukur. Ia bahkan memberi sinyal menunda keputusan terkait opsi serangan militer AS ke Iran.

Trump Pilih Nada Lunak, Opsi Militer tertunda

Seperti laporan The Guardian Dalam pernyataan mendadak di Gedung Putih, Trump mengatakan mendapat informasi dari “sumber sangat penting dari pihak Iran” bahwa penggunaan kekuatan mematikan telah berhenti. Ia juga menyebut rencana eksekusi massal yang sempat beredar tidak akan terjadi.

kendati demikian , Trump mengakui klaim tersebut belum terverifikasi penuh. Karena itu, ia memilih sikap menunggu. “Kami akan melihat dan memantau prosesnya,” ujar Trump saat konferensi pers soal kemungkinan aksi militer ASke Iran .

Pernyataan ini menandai perubahan sikap, setelah sebelumnya Trump vokal menyatakan siap membantu rakyat Iran di tengah protes Iran yang menelan ribuan korban.

Iran Bantah Eksekusi, Sinyal Deeskalasi Menguat

Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan tidak ada rencana eksekusi terhadap demonstran. “Gantung mati tidak ada dalam agenda,” katanya dalam wawancara dengan Fox News.

Media pemerintah Iran bahkan melaporkan bahwa Erfan Soltani, salah satu demonstran yang dikabarkan akan segera dieksekusi, ternyata tidak dijatuhi hukuman mati. Langkah ini memperkuat sinyal deeskalasi setelah berhari-hari ketegangan meningkat.

Ketegangan Regional Sempat Memuncak

Sebelumnya, situasi sempat mengarah ke eskalasi militer. Iran menutup wilayah udaranya tanpa penjelasan, memicu maskapai internasional menghindari langit Iran dan Irak. AS juga mengevakuasi sebagian personel militernya di kawasan Teluk.

Bahkan, Teheran disebut memperingatkan negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS bahwa mereka akan menjadi target jika Washington melancarkan serangan. Meski demikian, penutupan wilayah udara hanya berlangsung singkat sebelum akhirnya dibuka kembali.

Dampak Global Langsung Terasa

Meredanya ketegangan berdampak cepat ke pasar global. Harga minyak anjlok sekitar 3 persen, sementara emas dan perak ikut melemah. Sebelumnya, harga komoditas melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan global imbas protes Iran dan ancaman konflik terbuka.

Trump juga mengakui belum melihat figur oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, sebagai penantang serius rezim saat ini. Menurutnya, belum jelas apakah rakyat Iran siap menerima kepemimpinan alternatif.

Analisis: Jeda Kekerasan, Bukan Akhir Krisis

Meski pembunuhan demonstran diklaim berhenti, para pengamat menilai krisis belum selesai. Laporan kelompok HAM menyebut lebih dari 3.400 orang tewas dan 10 ribu lebih ditahan sejak protes Iran pecah.

Pertemuan Dewan Keamanan PBB dan ancaman sanksi tambahan dari negara-negara G7 menunjukkan tekanan internasional belum akan mereda. Situasi kini memasuki fase krusial: apakah jeda ini menjadi awal dialog, atau sekadar jeda sebelum ketegangan kembali memuncak.