Rektor STIKOM Bali Dorong APK Perguruan Tinggi 60 Persen, Tegaskan Tak Ada Alasan Tak Kuliah
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Rektor ITB STIKOM Bali, Dadang Hermawan, mendorong peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi hingga 60 persen. Ia menegaskan tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi.
Dadang menyebutkan, saat ini APK perguruan tinggi di Bali masih berada di kisaran rata-rata nasional yaitu sekitar 35 persen. Padahal, berbagai hambatan yang selama ini menjadi alasan masyarakat enggan kuliah dinilainya sudah semakin berkurang.
Mulai dari fleksibilitas waktu melalui sistem pembelajaran daring, dukungan pembiayaan melalui program KIP Kuliah, beasiswa yayasan, hingga program kuliah magang yang memungkinkan mahasiswa belajar sambil bekerja.
“Sekarang sudah tidak ada alasan lagi. Program kuliah magang itu paling ideal, karena mahasiswa dapat pengalaman kerja, mendapat penghasilan, sekaligus meraih gelar sarjana,” ujarnya saat ditemui usai pelepasan mahasiswa mengikuti Program Kuliah Magang ke Jepang, Rabu (07/01/2025).
Dadang menegaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Bali sangat bergantung pada keberanian para pengambil kebijakan dalam mendorong anak-anak usia sekolah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Saya berharap saya ingin agar SDM Bali jangan di bawah rata-rata, tapi harus di atas rata-rata. Antara lain ditunjukan dengan dengan APK Perguruan Tinggi,” terangnya.
Ia menambahkan, rendahnya APK perguruan tinggi masih dipengaruhi oleh faktor finansial dan minimnya informasi di masyarakat terkait berbagai skema bantuan pendidikan.
Karena itu, Dadang berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk media, turut aktif mengedukasi dan mengarahkan generasi muda agar melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Lebih lanjut, Dadang juga menyoroti adanya pergeseran minat calon mahasiswa terhadap program studi. Saat ini, program studi bisnis digital mengalami peningkatan peminat yang signifikan, bahkan melampaui program studi sistem informasi dan teknologi informasi.
Hal tersebut, menurutnya, merupakan dampak dari perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat dan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan