Cerutu Jember Kian Mendunia, PT BIN Cigar Siap Ekspor ke Amerika
DIKSIMERDEKA.COM, JEMBER – Kabupaten Jember sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil tembakau berkualitas. Tidak hanya itu, kota ini juga menjadi salah satu produsen cerutu terbaik yang diakui dunia.
Pemilik PT BIN Cigar, Febrian Ananta Kahar, menegaskan produk cerutu dari Jember sudah memenuhi standar internasional. Perusahaannya bahkan berhasil mendapatkan sertifikasi ISO yang menjadi syarat penting dalam pasar global.
“Kami sudah 35 tahun memasok bahan baku tembakau. Kini produk cerutu kami juga sudah teruji dan berstandar ISO,” ujar Febrian dalam keterangannya pada media.
Ia menambahkan, pasar cerutu dari Jember terus berkembang. Hampir setiap tahun ada negara baru yang menjadi tujuan ekspor. Saat ini, sudah 12 negara menjadi pelanggan tetap.
“Negara berikutnya yang akan segera bergabung adalah Amerika Serikat. Jika berhasil, ini akan menjadi capaian besar karena pasar Amerika sangat potensial,” Jelas Febrian.
Menurutnya, permintaan cerutu sangat bervariasi. Satu orang konsumen bisa membeli ratusan batang sekaligus. Namun, produk tidak bisa langsung dikirim karena harus melalui proses penyimpanan khusus.
“Cerutu harus ditidurkan enam bulan hingga satu tahun sebelum dikirim. Jadi, produksi tahun ini baru bisa diekspor tahun depan,” jelasnya.
Dalam sehari, PT BIN Cigar bisa menghasilkan 6.000 hingga 10.000 batang cerutu. Namun, jumlah itu tidak selalu stabil karena tergantung pesanan dan kesiapan pasar.
Febrian juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah. Mulai dari tingkat daerah hingga kementerian pusat, semua memberikan kontribusi dalam mempromosikan cerutu Indonesia.
“Meski produksi nasional hanya sekitar 10 juta batang per tahun, pemerintah tetap harus memberikan dukungan luar biasa. Itu membuat kami percaya diri bersaing dengan Kuba dan negara lain,” ucapnya.
Namun, tantangan tetap ada. Sebagai pabrikan yang baru berusia 13 tahun, PT BIN Cigar dituntut menjaga kualitas dengan standar ketat agar tidak ada keluhan dari pembeli.
“Zero complaint adalah harga mati. Begitu ada komplain, konsumen pasti meninggalkan kita. Karena itu, di chek ulang (Quality Control) dilakukan berlapis sebelum produk keluar dari pabrik,” tegas Febrian.
Selain menjaga mutu, perusahaannya juga rutin melakukan penyuluhan kepada petani. Tujuannya memastikan kualitas tembakau tetap terjaga dari segi rasa, aroma, hingga daya bakar cerutu.

Tinggalkan Balasan