DIKSIMERDEKA.COM, GIANYAR, BALI – Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi upacara Tawur Tabuh Getuh Pura Agung Desa Adat Payangan Gianyar yang kembali dilaksanakan setelah 65 tahun, pada Wrespati Kliwon Warigadian, Kamis (3/4). Upacara ini terakhir digelar tahun 1960.

Tawur Tabuh Getuh memiliki makna tujuan menetralisir unsur negatif secara niskala. Selain itu juga ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas limpahan karunianya serta menjadi simbol penyucian diri dan alam dari segala halangan rintangan.

“Suatu kehormatan diundang ke sini. Warga juga begitu antusias hadir untuk upacara ini. Jujur, tiyang kaget dan kagum mendengar karya yang sudah puluhan tahun tidak dilaksanakan dan sekarang dilaksanakan kembali,” ujar Gubernur Koster.

“Luar biasa, saya sangat mengapresiasi, Inilah kearifan lokal kita yang diwariskan leluhur kita untuk dilestarikan,” ungkapnya.

Baca juga :  Serangan Covid 19 Meningkat, Gubernur Koster Ajak Semua Komponen Bersatu

Gubernur Koster mengatakan upacara ini harus dipelihara. Dalam visi “Nangun Sad Kerthi Loka Bali” katanya, ada enam sumber kesejahteraan kehidupan manusia dan semua mahluk. Upacara ini menjadi salah satu bagian dari upaya mewujudkan enam sumber kesejahteraan tersebut.

Gubernur Koster saat menghadiri upacara Tawur Tabuh Getuh di Pura Agung Payangan Gianyar, Kamis (3/4/25). Upacara ini bagian dari Karya Agung Memungkah, Tawur Pedanan, Padudusan Agung, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini. Foto: tim/diksimerdeka.com

“Inilah yang tiyang jalankan dalam visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Menjalankan tatanan kehidupan masyarakat berdasarkan nilai kearifan lokal Bali. Enam sumber utama kesejahteraan kehidupan manusia dan semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Widhi Wasa) yang disebut Sad Kerthi,” jelasnya.

Adapun Sad Kerthi tersebut yakni:

  1. Atma Kerthi atau penyucian jiwa.
  2. ⁠Segara Kerthi atau upaya menjaga kesucian laut dan pantai.
  3. ⁠Danu Kerthi atau upaya pemuliaan sumber air dan menjaga keharmonisan dan kelestarian danau.
  4. ⁠Wana Kerthi atau menjaga kesucian atau kelestarian hutan dan pegunungan.
  5. ⁠Jana Kerthi atau menjaga keseimbangan atau kesucian diri.
  6. ⁠Jagat Kerthi yaitu menjaga keharmonisan hubungan antar semua mahluk.
Baca juga :  Gubernur Koster Angkat Suara Soal Bali Mundur dari WBG 2023

“Semuanya dimuliakan dan diharmoniskan untuk menjaga alam tetap lestari dan memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat,” katanya.

Sejak awal, gubernur kelahiran Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng ini memang sangat konsen dengan seni budaya, tradisi, adat, agama dan kearifan lokal Bali. Selama memimpin, sejumlah regulasi dan programnya sangat kental nuansa keberpihakannya terhadap alam, budaya dan krama Bali.

Menurut Gubernur Koster ajaran leluhur Bali sangat luar biasa sehingga sangat sayang jika tidak dipedomani. Untuk itu ia mengajak krama Bali mempedomani, menjaga dan melestarikan ajaran warisan leluhur dalam membangun dan menjaga menyeimbangkan kehidupan alam, manusia, dan budaya Bali.

Baca juga :  Gubernur Koster Bertemu Utusan Presiden, Bicarakan Kemiskinan dan Pangan

“Astungkara terus dijalankan seperti ini karena menjadi kebanggaan kita, dan demi membalut pariwisata Bali,” tandasnya.

Upacara Tawur Tabuh Getuh ini digelar bagian dari Karya Agung Memungkah, Tawur Pedanan, Padudusan Agung, Ngusaba Desa lan Ngusaba Nini. Rangkaian karya tersebut dilaksanakan dari tanggal 1 April sampai dengan penyineban akan dilakukan pada tanggal 16 April 2025.

Nampak turut hadir mendampingi Gubernur Koster dalam kesempatan tersebut, Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra beserta Istri, Ketua DPRD Kabupaten Gianyar I Ketut Sudarsana, Anggota DPRD Provinsi Bali Putu Diah Pradnya Maharani dan undangan lainnya.