DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI -Derasnya arus globalisasi dan modernisasi membuat Bahasa Bali semakin terpinggirkan, seiring dengan meningkatnya penggunaan bahasa nasional Bahasa Indonesia dan bahasa internasional Bahasa Inggris. Banyak anak muda lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, baik di sekolah, di tempat kerja, maupun di media sosial.

Terlebih lagi, pengaruh budaya luar yang masuk melalui teknologi, seperti film, musik, dan internet, turut mempercepat pergeseran bahasa di kalangan generasi muda.

Kondisi ini, jika tidak ada upaya yang serius dari pemerintah, masyarakat, dan keluarga untuk melestarikan Bahasa Bali, maka bahasa yang sarat dengan nilai-nilai budaya ini akan semakin terlupakan dan berisiko punah.

Pentingnya pelestarian Bahasa Bali tidak hanya terletak pada aspek linguistik, tetapi juga dalam upaya menjaga keberagaman budaya Bali yang kaya. Bahasa Bali memiliki kedalaman makna yang terkait dengan tradisi, adat istiadat, dan cara hidup masyarakat Bali yang harus dipertahankan.

Baca juga :  Gubernur Koster Siapkan Anggaran untuk Program Babinsa di Desa

Masyarakat Bali diharapkan dapat lebih memperkenalkan dan mengajarkan Bahasa Bali kepada generasi muda, baik di rumah, di sekolah, maupun di tempat-tempat umum, agar bahasa ini tetap hidup dan berkembang di tengah era globalisasi yang terus berkembang.

Dengan perhatian dan dukungan yang tepat, diharapkan Bahasa Bali dapat terus eksis dan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bali, serta tetap menjadi warisan budaya yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Untuk itu, Gubernur Bali, Wayan Koster mengajak seluruh masyarakat untuk lebih aktif menggunakan bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pelestarian budaya Bali.

Ajakan ini disampaikan dalam penutupan Bulan Bahasa Bali VII pada 1 Maret 2025, di mana Koster menyoroti semakin menyempitnya ruang penggunaan bahasa Bali di tengah arus globalisasi.

“Bahasa Bali adalah warisan leluhur yang harus kita jaga. Jika kita tidak aktif menggunakannya, bahasa ini bisa semakin terpinggirkan, bahkan punah. Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi,” ujar Koster dalam pidatonya.

Baca juga :  Tanah untuk Seni: Gubernur Koster Serahkan Hibah 16 Are ke ISI Bali

Menurutnya, generasi muda saat ini semakin jarang menggunakan bahasa Bali, baik di lingkungan keluarga maupun dalam kehidupan sosial. Pengaruh digitalisasi dan modernisasi juga semakin menggeser penggunaan bahasa daerah, termasuk bahasa Bali, sehingga perlu ada langkah nyata untuk memastikan bahasa ini tetap lestari.

Gubernur Bali menekankan bahwa pelestarian bahasa Bali bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat luas. Ia mengajak orang tua untuk membiasakan berkomunikasi dengan anak-anak mereka menggunakan bahasa Bali sejak dini.

“Jangan malu berbicara dalam bahasa Bali. Biasakan anak-anak kita berbicara dalam bahasa Bali di rumah, di sekolah, dan dalam berbagai kegiatan sosial. Jika kita tidak memulai dari keluarga, maka ke depan bahasa Bali bisa semakin jarang digunakan,” ucapnya.

Baca juga :  Warga Seraya Syukuri dan Apresiasi Bantuan Wayan Koster Lima Tahun Lalu

Gubernur Koster kembali menegaskan bahwa tanpa regulasi yang kuat dan partisipasi masyarakat, upaya pelestarian bahasa Bali akan sulit berhasil. Oleh karena itu, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, termasuk mewajibkan penggunaan aksara Bali di papan nama kantor pemerintahan dan fasilitas umum.

“Kami sudah menerbitkan regulasi agar aksara Bali digunakan di berbagai fasilitas umum, tetapi ini tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membiasakan diri menggunakan bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari. Ini adalah kunci agar bahasa Bali tetap hidup,” jelas Koster.

Ia juga meminta agar dunia pendidikan semakin memperkuat pembelajaran bahasa Bali di sekolah-sekolah. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan berbahasa Bali di kalangan anak-anak dan remaja.

“Kami akan terus mendorong agar bahasa Bali diajarkan dengan lebih menarik dan menyenangkan, sehingga anak-anak semakin mencintai bahasa dan budaya mereka sendiri,” tutupnya.