Bali dalam Gempuran Brand Fashion Asing: Produk Lokal Kian Terancam
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Banyaknya produk fashion asing masuk ke Bali membuat produk lokal kian terancam. Gempuran brand internasional dengan modal besar dan teknologi canggih tentu dapat membuat produk brand lokal Bali tersudut dan terancam gulung tikar.
Terbaru, produk fashion asal Kanada dikabarkan baru saja launching di Bali. Brand asal negeri Daun Maple yang menawarkan produk seperti kaos, jaket casual dan hiking, sepatu dan tas ini resmi membuka gerai pertamanya di salah satu mall di Bali.
Yang mengkhawatirkan, strategi penetrasi pasar dilakukan dengan harga jual yang lebih murah 30 persen dibanding harga normal. Dengan modal besar, jaringan internasional, dan dukungan teknologi tentu akan mudah bagi brand ini ‘membunuh’ pesaing-pesaing lokalnya.
Menanggapi masuknya produk asing yang berpotensi mengancam industri fashion lokal Bali ini, Gubernur Bali terpilih periode 2025-2030, Wayan Koster mengajak semua pihak bersama-sama membangun kesadaran kolektif dalam mendukung dan melindungi produk lokal Bali.
Koster juga memastikan bahwa pemerintah daerah akan terus memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada industri lokal. Salah satunya dengan mengutamakan produk berbasis kearifan lokal agar mampu bersaing dengan produk impor.
“Kita harus membangun kesadaran untuk lebih mencintai dan mendukung produk lokal. Jika tidak, Bali hanya akan menjadi tempat jualan bagi produk asing tanpa manfaat nyata bagi masyarakatnya,” ujar Koster, Minggu (2/2/25).

Wayan Koster juga mengingatkan agar setiap pelaku usaha di Bali mematuhi aturan kebijakan dan berkontribusi dalam pelestarian adat, tradisi, seni budaya dan nilai-nilai kearifan lokal Bali sebab pariwisata Bali tumbuh dan hidup di atas seni budaya dan nilai-nilai itu.
Salah satunya, Wayan Koster menyoroti masih adanya bangunan, baik mall atau gedung usaha usaha lain yang belum memakai aksara Bali. Ia mengingatkan agar segera dilakukan pemasangan karena ini bentuk penghormatan terhadap peradaban Bali.
“Kita harus meniru negara-negara maju, misalnya Jepang, Korea, Cina. Mereka semua memasang aksaranya di setiap tempat. Karena peradaban yang memiliki aksara adalah peradaban yang kuat. Dan kita bersyukur Bali memiliki aksara. Ini harus kita dorong dan dijadikan sebagai identitas dan kebanggaan kita bersama di Bali,” tegas Wayan Koster.

Tinggalkan Balasan