DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Buntut masuknya Bali sebagai Provinsi dengan angka bunuh diri tertinggi versi Polri, membuat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengajak keluarga berperan sebagai lembaga edukasi pertama untuk menekan angka Kasus bunuh diri di Bali.

Hal tersebut lantaran keluarga sebagai wahana edukasi pertama bagi anggota keluarga, sehingga diharapkan dapat menekan angka bunuh diri.

Baca juga :  [Up Date 28/6] Kasus Positif 45, Sembuh Bertambah 20 Orang Covid-19 Bali

“Keluarga menjadi lembaga pertama yang dapat mengawasi anggotanya, sehingga diharapkan ke depannya angka bunuh diri di Bali dapat ditekan,” ujarnya saat diwawancarai wartawan, Rabu (3/7/2024).

Lebih lanjut Dewa Indra menambahkan sebelumnya Pemerintah Provinsi Bali telah membuat kajian mengenai faktor utama seseorang melakukan bunuh diri.

“Sudah pernah dilakukan kajian-kajian kemudian dilakukan pemetaan, secara umum banyak sekali faktor sesaorang melakukan bunuh diri, saya berharap semuanya dapat berperan untuk menekan angka bunuh diri,” sambungnya.

Baca juga :  Dewa Indra: PSBB Bukan Satu-satunya Instrumen Cegahan Penyebaran Covid-19

Sementara itu, psikiater dr I Gusti Rai Putra Wiguna SpKJ menyebut saat ini kasus bunuh diri yang ada di Bali didominasi oleh lansia dwngan penyumbang kasus terbanyak.

“Lansia menjadi penyumbang kasus terbanyak untuk kasus bunuh diri di Bali, karena sebagian vesar kasus disumbangkan oleh lansia,” tegasnya.

Baca juga :  Cegah Klaster Baru, Dewa Indra Instruksikan Pembentukan Satgas di Pasar Tradisional

Faktor lansia sebagai penyumbang kasus bunuh diri terbesar adalah sakit berkepanjangan yang membuat putus asa, sehingga mengambil tindakan bunuh diri.

“Sering dijunpai lansia yang melakukan bunuh diri motifnya adalah sakit yang berkepanjangan selain sulitnya mengakses pelayanan kesehatan mental dan stigma jika ke psikiater adalah aib memperparah keadaan pasien,” tutupnya.

Reporter: Dewa Fathur