DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Wayan Koster mengatakan tengah menyiapkan skema pemberian insentif bagi warga Bali yang memiliki anak ketiga dan anak keempat, yakni nyoman dan ketut.

Gubernur Bali periode 2018-2023 itu mengungkapkan salah satu opsi skemanya bisa berupa pemberian bantuan ketika persalinan.

“Insentif nyoman dan ketut masih disiapkan skemanya seperti apa. Misalnya dibantu dengan persalinan, nanti berapa jumlah nominalnya ditanggung,” ungkapnya saat ditemui di Kantor DPD PDI Perjuangan Bali, Jumat (21/06/2024).

Seperti diketahui saat menjabat sebagai Gubernur Bali periode 2018-2023, Wayan Koster gencar mengkampanyekan program keluarga berencana (KB) Bali empat anak.

Baca juga :  Usai Tak Jabat Gubernur, Koster Fokus Kemenangan PDIP di Bali

Program tersebut penting guna mencegah nama nyoman dan ketut punah dari kebudayaan Bali.

Wayan Koster akan mempertegas komitmen pelestarian nama nyoman dan ketut dengan pemberian insentif saat duduk kembali sebagai Gubernur Bali nanti.

Koster mengatakan saat ini populasi nama ketut di Bali sebesar 6 persen. Sementara nama nyoman atau komang sebesar 18 persen. Jika dibiarkan kata Koster, nama nyoman dan ketut dapat punah di masa depan.

Untuk itu ketika menjabat sebagai gubernur, ia gencar mengkampanyekan KB Bali empat anak, bukan dua anak untuk menjaga nama nyoman dan ketut tetap eksis di Bali.

Baca juga :  Gubernur Koster Harap TP PKK Kabupaten/Kota Proaktif Kembangkan Program Inovatif

Bahkan untuk mendorong KB Bali empat anak jikaa dipercaya menjabat sebagai gubernur kembali pada periode mendatang, ia berjanji akan memberikan insentif bagi yang memiliki anak nyoman dan ketut.

“Jadi saya minta kalau bisa KB 4 anak. Kalau bisa ya. Agar nama ketut dan nyoman tidak punah,” terangnya.

Sementara itu, Rektor UNBI Prof Made Bhakta mengatakan kebijakan demografis Wayan Koster untuk mendorong KB Bali empat anak masuk akal.

Menurut Prof Bhakta, pertumbuhan demografi di Bali lebih rendah ketimbang rata-rata nasional. Untuk itu harus ada upaya untuk meningkatkan jumlah penduduk.

Sebagaimana dilakukan oleh pemerintah China. Bhakta menjelaskan kalau dulu di China ada kebijakan 1 keluarga 1 anak untuk menekan jumlah penduduk.

Baca juga :  Atasi Polemik TPA Suwung, Gubernur Koster Ambil Langkah Konkret

Sekarang ini tambah Bhakta, lantaran di China tengah mengalami penurunan jumlah penduduk, maka pemerintah China mengeluarkan kebijakan tambah 1 anak lagi menjadi dua anak.

Meski demikian, Bhakta mengatakan penerapan KB Bali 4 anak tidak hanya difokuskan pada peningkatan kuantitas namun juga kualitas agar dapat bersaing di era global.

“Intinya ini positif bagi Bali asal sepanjang kita meningkatkan kualitas SDM dan kemudian meningkat kualitas sistem baik pendidikan, ekonomi dan sebagainya sehingga kita bersaing,” ujarnya.

Reporter: Agus Pebriana