Peternak Babi di Bali Terancam Bangkrut
DIKSIMERDEKA.COM, TABANAN, BALI – Peternak Babi asal Marga, Kabupaten Tabanan Nyoman Arimbawa keluhkan tingginya harga pakan.
“Saya ingin menyampaikan untuk peternakan babi pada umumnya di Bali, ini sudah mencapai di ambang kebangkrutan karena kita digempur dengan harga pakan yang tinggi dengan harga bahan baku yang mahal,” ungkapnya, Selasa (18/12/23).
Dirinya menyebutkan, pembuatan pakan jagung di Bali masih terkendala dengan bahan baku yang mahal.
“Padahal, kita memiliki lahan (jagung) yang luas seperti di Timur, Lombok, Sumbawa dan Bima itu penghasil jagung yang tinggi. Tapi, kita digempur oleh sistem dengan pabrik yang bisa membeli jagung lebih mahal,” sambungnya.
Lebih lanjut, Arimbawa menyayangkan ketidaktegasan pemerintah dalam menentukan standarisasi harga babi di tingkat peternak. Sehingga, hal ini berdampak pada anjloknya harga babi.
“Dari Dinas kayaknya janji-janji saja, mungkin masih proses tidak tahu saya. Tapi kami tunggu dijanjikan harga babi dipatok dan satu pintu. Namun, nyatanya sulit karena di Bali ini kan belum satu pikiran, jadi susah karena semua bisnis punya kepentingan masing-masing. Kalau seandainya bisa, pemerintah mampu mengajak diskusi semua lini baik pedagang, peternak dan pengepul itu didudukkan jadikan satu visi,” sebutnya.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali I Ketut Hari Suyasa sebut anjloknya harga babi diakibatkan oleh sejumlah faktor termasuk kekacauan di tingkat pengiriman serta persaingan tidak sehat antar pelaku pengirim.
“Sudah hampir delapan bulan harganya anjlok. Sekarang harganya berkisar 25 ribu atau paling tinggi 29 ribu per kilogram,” kata dia kepada wacanabali.com, Sabtu (16/12/23).
“Ini kan kompetisi yang tidak baik antara pelaku pengirim yang dimanfaatkan kemudian oleh pembeli babi di luar wilayah kita dan pelaku sibuk berperang saling memurahkan harga. Sehingga menekan harga produksi babi di sini. Maka kemarin kami meminta pemerintah melakukan ambang batas harga terbawah delapan bulan yang lalu,” paparnya.
Lebih lanjut, pihaknya turut menyayangkan respon pemerintah di Bali yang dinilai pasif dalam mengantisipasi persoalan ini. Sebelumnya, Suyasa mengaku telah memprediksi terjadinya penurunan harga babi. Namun, pemerintah tidak kunjung memberikan atensi.
“Intinya ini sebenarnya disebabkan oleh ketidakpedulian pemerintah terhadap peternak rakyat, tiang (saya, red) sudah mengingatkan pemerintah 8 bulan yang lalu bahwa akan terjadi kehancuran harga babi. Tapi pemerintah tidak mau ketemu,” tandasnya.
Reporter: Komang Ari

Tinggalkan Balasan