Penyebaran Nyamuk Ber-Wolbachia Tuai Penolakan, Ini Alasannya
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) menolak adanya program penyebaran nyamuk ber-wolbachia yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 13 November 2023 di Denpasar.
Dewa Putu Sudarsana selaku humas Puskor Hindunesia menyebutkan bahwa penolakan ini terjadi akibat belum adanya sosialisasi dari pemerintah maupun yayasan yang terlibat kepada masyarakat luas.
“Kita sudah adakan rapat dan kita sampaikan kepada ketua umum, bahwa posisi Puskor Hindunesia sampai hari ini menolak apa yang dilakukan pemerintah maupun yayasan yang terlibat, karena ini memang tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat luas,” ujarnya di Inna Hotel Heritage Bali, Senin (6/11/23)
Sudarsana juga menyebutkan program ini menyangkut masalah kehidupan masyarakat Bali. Puskor Hindunesia lebih mengedepankan kearifan lokal daripada menyerahkan kehidupan manusia pada 200 juta nyamuk ber-wolbachia.
“Kehidupan orang bali itu yang pertama, secara niskala kita melakukan upacara-upacara. Dan yang kedua ada juga cara cara yang dilakukan oleh masyarakat bali itu agar rantai makan itu harus tetap berjalan. Ini yang sudah kita lakukan selama ribuan tahun,”
Selanjutnya Sudarsana meminta agar penyebaran nyamuk ber-wolbachia ditunda terlebih dahulu sampai ada kajian mendalam terkait dampak-dampak nyamuk ini.
“Dalam dua hari ini, saya baru tahu bahwa acara pelepasan nyamuk ini akan dilaksanakan di tanggal 13 November ini. Dan harapan kita pelepasan nyamuk ini ditunda dulu sampai benar benar ada kajian yang mendalam.” ujarnya
Namun meskipun di tunda, pihaknya mengaku tetap akan mendukung program ini jika telah diadakannya riset mendalam terkait nyamuk ini dan berharap diadakannya sosialisasi kembali ke masyarakat.
“Tentu yang baik kita akan dukung jika benar benar baik. Dan kami berharap kedepan sosialisasinya lebih ditingkatkan dan jangan sampai ada dusta,” sambungnya.
Kekhawatiran yang sama juga dilontarkan Prof Richard sekaligus menolak tegas Metode Wolbachia karena Yayasan Save the Children telah melakukan pembohongan publik.
“Tadi kami mengikuti seminar, yang digelar Yayasan Save the Children, dan di dalam surat itu seolah-olah disponsori oleh Pemprov Bali. Yang diundang ada 38 institusi pemerintah. Mulai dari Departemen Kesehatan, Kapolda Bali, Pangdam, Kejaksaan Tinggi, tapi tidak ada satupun pejabat yang datang hanya perwakilannya saja.”
“Dalam seminar tadi mereka (yayasan) menyatakan program ini tidak dibiayai pemerintah, APBN, maupun APBD. Menarik kan? Jadi yang membiayai siapa, yang membiayai adalah Gillespie Family Foundation yang berafiliasi dengan World Mosquito Program, ini program swasta. Total pendanaan untuk seluruh Indonesia sekitar $40 billion, (sekitar Rp400 triliun,” ungkap Prof Richard.
Pihak Yayasan Save the Children menurut Prof Richard telah melakukan pembohongan publik. Mereka menyatakan sudah didukung pemerintah dan sudah melakukan sosialisasi, tapi ia yakini tak seluruhnya benar. Untuk itu ia akan melaporkan hal ini ke kantor polisi.
“Kalau itu bukan program nasional, mengapa seolah-olah ini sudah direstui oleh pemerintah. Menurut saya pemerintah di Bali kena ‘prank’ dan diperalat. Mereka juga mengatakan sudah melakukan sosialisasi ke rumah-rumah penduduk. Saya akan melaporkan ini ke polisi, mereka (Yayasan Save the Children) menyebarkan berita bohong,” tandasnya.
Salah satu upaya penolakan adalah munculnya petisi seperti yang dilakukan oleh Gladiator Bangsa. Mereka mengundang masyarakat yang peduli terhadap masalah kesehatan dan lingkungan di Bali maupun di seluruh dunia untuk menambahkan suara pada petisi tersebut.
Ada beberapa alasan yang dikemukakan. Penyebaran jutaan nyamuk tersebut dinilai berdampak besar terhadap pariwisata. Strategi Program Nyamuk Dunia (World Mosquito Program) untuk terus menerus mengembangkan bakteri Wolbachia ke dalam tubuh nyamuk menyebabkan penduduk Bali dan wisatawan harus siap menerima tambahan ratusan juta gigitan nyamuk. Nyamuk harus mendapatkan pakan darah sebelum dapat menghasilkan telur. Setiap nyamuk betina akan memproduksi 100 telur, tiga kali selama masa hidup dewasanya.
Mereka juga mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab atas pelepasan nyamuk di Bali tersebut. Apakah Program Nyamuk Dunia (World Mosquito Program), para peneliti, penyandang dana, produsen telur nyamuk, dan perguruan tinggi yang melakukan penelitian akan bertanggung jawab jika terjadi kesalahan atau program ini memberikan dampak negatif. Belum lagi penyakit dan kerusakan yang ditimbulkan hampir tidak mungkin dilacak.
Dalam siaran pers yang diterima media sebelumnya disebutkan, Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Data Kemenkes mencatat 131.265 kasus DBD di Indonesia pada tahun 2022, dimana 40%-nya terjadi pada anak usia 0 – 14 tahun. Jumlah kematian sebanyak 1.135 kasus. Di Bali, Dinas Kesehatan Kota Denpasar mencatat 1.305 kasus DBD sejak bulan Januari – September 2023. Angka ini sudah melebihi data tahun 2022 .
“Angka kasus ini bukan hanya sekedar jumlah, tetapi ada hak kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak yang dipertaruhkan. Metode Wolbachia ini menjadi inovasi baru untuk mencegah kasus DBD terus bertambah. Anak dan masyarakat harus dilindungi dari DBD,” beber Erwin Simangunsong/Chief of Partnership, Strategy Program and Operation – Save the Children Indonesia
Metode Wolbachia dikatakan merupakan terobosan dari organisasi World Mosquito Program (WMP) yang telah diimplementasikan di 14 negara sejak tahun 2011, termasuk Indonesia.
Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di 50% serangga yang ada di bumi dan dinyatakan aman untuk manusia, hewan dan lingkungan. Wolbachia mampu menghambat replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti sehingga tidak menularkan penyakit dengue, Zika dan chikungunya. Di Indonesia Wolbachia WMP pertama kali dilakukan di Yogyakarta. Hasilnya metode Wolbachia ini terbukti berhasil menurunkan 77% kasus DBD dan 86% rawat inap di rumah sakit.
Kemenkes telah mengevaluasi hasil penyebaran nyamuk di Yogyakarta dan menyatakan bahwa cukup bukti untuk memperluas manfaat Wolbachia WMP guna melindungi jutaan orang di Indonesia dari DBD. Melalui Keputusan Menteri Kesehatan No 1341 Tahun 2022 metode Wolbachia di implementasikan di 5 kota lainnya yaitu Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang.
Sebagai mitra pembangunan Pemerintah, Save the Children Indonesia bersama dengan Yayasan Kerti Praja dan Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng terus berupaya melakukan pencegahan DBD, dengan melibatkan seluruh pihak termasuk masyarakat sejak awal tahun 2023. Hal ini meliputi edukasi dan peningkatan kesadaran kepada masyarakat.
Antusias dan penerimaan masyarakat Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng sangat tinggi. Survey menunjukkan sebanyak 95,63% mendukung implementasi metode Wolbachia di lingkungan mereka. Hal ini didasari dari pengalaman keluarga yang pernah merasakan dampak buruk dari DBD.
Pertengahan November 2023, penerapan metode Wolbachia DBD akan memasuki masa awal penyebaran telur nyamuk ber-Wolbachia di Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng. Perwakilan masyarakat di Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng telah menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dengan menjadi Orang Tua Asuh (OTA) wadah telur nyamuk ber-Wolbachia.
Tahap pertama penyebaran bakal dilakukan pada tanggal 13 November 2023.
Diberitakan juga sebanyak 4.109 titik di Kota Denpasar, Bali, disasar untuk lokasi penyebaran telur nyamuk Wolbachia. Adapun, lokasi penyebaran telur nyamuk itu terkonsentrasi di Dauh Puri Kelod, Tegal Kertha, Pemecutan Kelod, Pemecutan, Padangsambian Kelod, Dauh Puri, Tegal Harum dan Dauh Puri Kangin.
Reporter: Gede Panca
Editor: Gusti Ngurah

Tinggalkan Balasan