DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI -Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air tengah mengerjakan Paket Tahap II, pembangunan Bendungan Sidan, Provinsi Bali.

Item pekerjaan utama Paket Tahap II meliputi pembangunan inti bendungan dan spillway (bangunan pelimpah air). Progresnya per 3 Juni 2023, mencapai 13,130 persen dari target 26,344 persen atau terjadi deviasi -13,214 persen.

Sebelumnya, Paket Tahap I, yang itemnya meliputi pembangunan terowongan pengelak, galian spillway dan galian-galian di jalan terbuka sudah dikerjakan 100 persen pada akhir tahun 2021. Sehingga secara keseluruhan (Paket I dan II) progres pembangunan Bendungan Sidan terealisasi 57.192 persen dari rencana 63,703 persen (deviasi -6.512).

I Gede Pancarasa, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, seizin Kepala Balai menerangkan, deviasi terjadi akibat pekerjaan bangunan inti bendungan terkendala kadar air material timbunan random tanah lebih tinggi dari OMC (optimum moisture content).

Baca juga :  Per Juni 2023, Progres Bendungan Jlantah Jateng 65 Persen

Kadar air material timbunan yang ada di lokasi, ungkap Panca, berkisar 22 persen sampai dengan 25 persen. Sementara Idealnya, menurut Panca, kadar air 19 persen (sesuai OMC), sehingga penimbunan harus dilakukan dengan metode staging atau bertahap.

“Kadar air ideal material random tanah itu 19 persen. Tapi material yang ada di sini, rata-rata 22 sampai 25 persen (kadar air material timbunan, red). Karena kita tidak bisa menurunkan ke kadar air ideal (19 persen) jadi kami gunakan metode staging,” terang I Gede Pancarasa di kantornya, Kamis (08/06/23).

“Penimbunan dalam kondisi basah dilakukan dengan mengacu pada tahapan ketinggian kritis timbunan (staging). Jadi setiap 10 meter, kami harus berhenti menimbun paling tidak 5 sampai 7 hari, agar kadar air yang ada di timbunan itu turun, baru nambah timbunan,” imbuhnya.

Baca juga :  SPAM Way Sepagasan Pringsewu Telah Layani 975 Sambungan Rumah
PPK BWS Bali, Proyek Bendungan Sidan, I Gede Pancarasa. (Foto: Doc/Pribadi)

Dengan adanya kondisi ini, Gede Panca mengungkapkan ada potensi keterlambatan penyelesaian dari target selesai di akhir tahun 2023.

Namun ia mengatakan, pihaknya bersama pelaksana akan mengejar ketertinggalan itu di Bulan Juli, Agustus dan September, yang mana bulan-bulan tersebut musim kemarau, sehingga kadar air material timbunan turun.

“Rencananya kami akan ngejar target ketertinggalan ini di Bulan Juli, Agustus, September. Bulan-bulan itu kan musim kemarau, kadar air akan turun. Kalau kadar air sudah turun kita tidak perlu lagi staging, jadi kita bisa kebut,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Bendungan Sidan adalah satu dari 65 bendungan dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Bendungan ini dibangun di atas lahan seluas 81.81 hektar dan total bidang 165 bidang yang letaknya mencakup tiga kabupaten, yakni Badung, Gianyar, Bangli.

Bendungan Sidan merupakan bendungan tipe Zonal Inti Tegak dengan panjang puncak 185 meter, lebar puncak 8,5 meter. Dirancang berkapasitas tampung 3,8 juta meter kubik, Bendungan Sidan digadang-gadang menjadi solusi mengatasi masalah kebutuhan air di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan (Sarbagita).

Baca juga :  Duplikasi Jembatan Krueng Peudada dan Tamiang Aceh Tuntas

Manfaatnya, bendungan ini akan mampu menyediakan air baku sebesar 1.750 liter/detik untuk menyuplai kebutuhan Denpasar 750 liter/detik, Badung 500 liter/detik, Gianyar 300 liter/detik, dan Tabanan 200 liter/detik.

Selain itu, juga akan dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga mikro (PLTM) berkapasitas 0,65 MW, menjadi wahana pariwisata dan konservasi air.

Dana proyek bersumber dari APBN tahun 2017-2022 (multi years) dengan nilai total Rp 1.6 triliun. Paket I, nilai kontrak Rp 808.603.374.137. Paket II, nilai kontrak Rp 785.597.172.000.
Konstruksinya dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya bekerja sama dengan PT Universal Suryaprima. Sedangkan manajemen konsultannya, PT Wahana Adya.