DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Kenaikan harga gas tabung 3 kilogram (Kg) di Provinsi Bali sejak Senin, 16 Januari 2023 dirasa semakin ‘mencekik leher’ masyarakat kecil. Sebab, kenaikan harga gas subsidi pemerintah ini dilakukan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang baru mulai merangkak bangkit pascaterpuruk dampak 3 tahun diterpa ‘badai’ pandemi Covid-19.

Diketahui, kenaikan harga gas tabung 3 Kg atau disebut juga gas melon ini, terjadi lantaran adanya usulan dari Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Provinsi Bali. Berdasarkan usulan Hiswana Migas Bali tersebutlah, harga eceran tertinggi (HET) gas melon naik dari Rp 14.500 per tabung menjadi Rp 18.000 atau naik sebesar Rp 3.500. 

Madr Latri, seorang pedagang godoh (pisang goreng) di Denpasar Timur (Dentim), Jumat (20/1/23) mengaku tak habis pikir dengan Hiswana Migas yang menaikkan HET gas melon khusus untuk di Bali. Padahal di daerah lain, harga gas melon masih seperti biasa. Atas kenaikan ini, Made Latri pun merasa usahanya semakin tercekik.

‘’Tanpa kenaikan harga gas melon saja, saya memperoleh untung sangat sedikit sebab harga pisang dan tepung juga mahal. Bagaimana nasib kami jika gas kompor penggoreng godoh harganya selangit? Kami harap pemerintah memperhatikan nasib kami, rakyat kecil,’’ ujar wanita yang menjual godoh sebelum pandemi ini.

Di tempat terpisah, pedagang mie ayam, Jamaludin, mengaku sempat berpikir menghentikan jualan, karena HET gas melon sangat tinggi. Jika pemerintah mematok harga gas melon Rp 18.000/tabung, harga di pasaran tentu lebih tinggi, karena ada ongkos transport dan lain-lain. Harganya bisa saja antara Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu/tabung. 

Ia berharap ada kepekaan dan kepedulian pemerintah terhadap kondisi masyarakat kecil yang paling terdampak atas kenaikan harga gas ini. ‘’Mohon pemerintah peduli dengan kami pedagang kecil. Pastikan dulu perekonomian kita normal,’’ tandas Udin, panggilannya.

Hal senada dikatakan pedagang bakso keliling, Kodir. Meski menurutnya, naiknya harga gas melon masih bisa membuatnya berjualan namun ia berharap pascakenaikan harga ini, tidak terjadi kelangkaan gas di masyarakat. “Yang penting saya dapat beli gas. Ketimbang tidak bisa masak dan jualan gara-gara gas langka,” tandasnya.

Ketua Hiswana Migas Bali Dewa Ananta sebelumnya, mengungkapkan bahwa penyesuaian HET gas melon ini bertujuan agar agen-agen punya sandaran peraturan baru (payung hukum) untuk menjual gas melon ke masyarakat. Dengan demikian tata niaga elpiji 3 Kg menjadi aman dan legal. 

Kenaikan HET ini dikatakan sesuai Peraturan Gubernur Bali No.63 Tahun 2022 tentang perubahan ketiga atas Pergub No.48 Tahun 2014 mengenai HET elpiji 3 Kg.

Menurut Dewa Ananta, kenaikan harga gas melon didasarkan atas harga yang terbentuk sejak lama di masyarakat yakni sejak harga Rp 17 ribu hingga Rp 19 ribu di pasaran. Selain itu, kenaikan ini didasari kondisi makro dan mikro ekonomi sekarang, khususnya kenaikan harga BBM. Hal ini, menurut Dewa Ananta, memicu kenaikan harga-harga sparepart operasional para agen.

Pengusaha elpiji dan SPBU ini menambahkan pengajuan penyesuaian HET ini sudah dibuatkan dan dipresentasikan ke Pemprov Bali oleh akademisi independen yang diminta bantuan secara profesional oleh Hiswana Migas Bali. 

‘’Semuanya berdasarkan data-data aktual dan terkini. Jadi tidak ngawur. Juga referensi-referensi terkait,’’ ungkap Dewa Ananta, lewat pesan WhatsApp (WA).

Ditanya terkait mengapa implementasinya pada 16 Januari 2023 padahal SK Gubernur Bali ditandatangani 1 Des 2022, Dewa Ananta mengaku lantaran ada rangkaian peringatan hari besar Natal, Tahun Baru dan Galungan. ‘’Ya karena masih ada rentetan hari raya Natal dan tahun baru, dilanjutkan dengan ke Galungan dan Kuningan,’’ tandas pria asal Gianyar ini.