DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Empat orang saksi terkait kasus dugaan suap pengadaan pesawat Airbus di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Periode 2010-2015, diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini. Satu di antaranya adalah Ketua DPD Golkar Sulawesi Barat, Ibnu Munzir.

Sedangkan tiga lainnya yakni, mantan Direktur Operasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Ari Sapari; mantan Anggota DPR RI Fraksi PKS, Tossy Aryanto; dan Direktur PT Indonesia Advisory Duta Solusindo, Enty Puryanto Kasdi. Mereka diminta untuk hadir ke Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.

Baca juga :  Usut Kasus Garuda, KPK Dapat Dukungan Dunia Internasional

“Hari ini (9/11) pemeriksaan saksi TPK suap pengadaan pesawat Airbus di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Periode 2010-2015. Pemeriksaan dilakukan di Kantor KPK RI,” kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya Rabu (9/11/2022).

Diketahui, KPK kembali menetapkan tersangka baru terkait kasus dugaan suap pengadaan armada pesawat Airbus pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk 2010-2015. Tersangka baru tersebut merupakan mantan anggota DPR, ia bersama pihak lainnya termasuk korporasi diduga menerima suap Rp100 miliar terkait pengadaan pesawat Garuda Indonesia.

Baca juga :  KPK Tahan Tersangka Perkara Pengadaan Proyek Jalan di Bengkalis

“Saat ini KPK kembali membuka penyidikan baru sebagai pengembangan perkara terkait dugaan suap pengadaan armada pesawat Airbus pada PT GI (Garuda Indonesia) Tbk 2010-2015. Dugaan suap tersebut senilai sekitar Rp100 miliar yang diduga diterima anggota DPR RI 2009-2014 dan pihak lainnya termasuk pihak korporasi,” imbuhnya.

Sayangnya, KPK belum dapat menjelaskan secara terang benderang terkait konstruksi kasus ini. KPK akan mengumumkan rangkaian dugaan perbuatan pidana, pihak-pihak yang berstatus tersangka, dan pasal yang disangkakan setelah adanya proses penangkapan dan penahanan.

Baca juga :  KPK Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Restitusi Pajak

Penetapan tersangka baru ini merupakan pengembangan dari perkara sebelumnya. KPK sebelumnya telah lebih dulu menjerat mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar sebagai tersangka. Emirsyah telah divonis bersalah atas kasus suap pengadaan pesawat Garuda Indonesia.

Emirsyah dijatuhi hukuman delapan tahun penjara. Dalam putusan di tingkat kasasi, ia juga dihukum membayar denda Rp 1 miliar subsider tiga bulan kurungan. Selain itu, Emirsyah dibebankan membayar uang pengganti sejumlah 2.117.315 dolar Singapura subsider dua tahun penjara.