DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Indonesia siap untuk menggerakkan perekonomian dunia dan berperan dalam mengatasi krisis multidimensional global, khususnya dengan momentum adanya Presidensi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Bali.

Mengenai hal tersebut, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, Usman Kansong menjelaskan bahwa Indonesia memiliki peran dalam G20 karena dari skala ekonominya mampu untuk memberikan dampak besar bagi perekonomian dunia.

Buktinya adalah mengenai gagasan  pembuatan dana abadi, yang ternyata hal tersebut diusulkan oleh Indonesia.

“Indonesia berhasil mengajak G-20 membuat dana abadi, yang mana digunakan untuk ancang-ancang semisalnya pandemi masih berlangsung,“ ungkapnya di Jakarta, Senin (7/11/2022).

Bukan tanpa alasan, bahkan sebenarnya perekonomian Indonesia sendiri jika diukur mampu memiliki besaran hingga menguasai sekitar 80 persen ekonomi dunia.

Baca juga :  Ketua PHRI Badung : KTT G-20 Sukses, Pariwisata Bali Pulih

Pertemuan G-20 sendiri menurut Usman Kansong berhasil membuka dan juga memperluas banyak sekali lapangan pekerjaan.

Terlebih, sebagai tuan rumahnya, Indonesia berharap jika pertemuan berskala Internasional tersebut tidak hanya ajang adu gagasan dengan konsep yang masih belum jelas.

Maka dari itu, menurutnya, Indonesia terus mendorong supaya negara-negara anggota G-20 benar-benar bisa menunjukkan hasil yang konkret demi perubahan dunia.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kominfo tersebut menambahkan bahwa produk domestik bruto (PDB) di Indonesia terus mengalami penambahan, yang menunjukkan kalau fundamental ekonomi bangsa ini sangat bagus.

Dengan adanya data itu, secara otomatis mampu menggerakkan perekonomian dunia karena juga ada penambahan pada nilai pasar unit usaha barang dan jasa pada suatu negara.

Baca juga :  Kadispar Bali: 23 Hotel Akan Digunakan Delegasi G-20

Usman Kansong juga menegaskan bahwa forum KTT G-20 bukan hanya membuat Indonesia akan berperan bagi perekonomian dunia saja.

Melainkan, jika ada hal-hal lain seperti konflik global yang juga dampaknya mampu mempengaruhi ekonomi, pasti akan langsung diperhatikan.

“Walaupun G-20 ini fokusnya terhadap perekonomian negara, namun jika terjadi dampak dari konflik global, akan tetap diperhatikan. Apalagi berdampak buruk bagi ekonomi,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Presiden RI, Joko Widodo juga pernah menyatakan bahwa dirinya memang mengundang seluruh pemimpin ekonomi dunia dengan tujuan agar bisa melakukan pemulihan global yang jauh lebih kuat.

“Saya mengundang seluruh pemimpin ekonomi dunia untuk berkontribusi pada Presidensi G20 untuk memastikan pemulihan global yang lebih kuat, yang lebih inklusif. Kerja sama tidak hanya antara pemerintah, not only G-to-G but also G-to-B, or even B-to-B,” ujarnya.

Baca juga :  Diskusi Peradah: Perhelatan G20 dan Masa Depan Bali

Sebagai informasi, Puncak penyelenggaraan KTT G-20 akan dilakukan pada tanggal 15 hingga 16 November 2022 mendatang.

Indonesia sebagai tuan rumah telah menyiapkan setidaknya tiga fokus utama kajian yang akan dibahas.

Pertama adalah mengenai promosi produktivitas, kemudian peningkatan ketahanan dan stabilitas, hingga upaya memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan cara yang inklusif.

Sebagai wakil dari negara berkembang, Indonesia bahkan secara substansial benar-benar berkontribusi untuk memunculkan beragam solusi bagi krisis multidimensional dunia.