DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pengamat sosial dan politik sekaligus akademisi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Bali, Nyoman Subanda mengatakan model kampanye konvensional dengan pengerahan massa, tatap muka, pemasangan baliho, dan atribut kampanye tidak akan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepopuleran tokoh atau partai politik. 

Hal ini lantaran masyarakat umumnya mengetahui tokoh politik, bagaimana kiprahnya dan informasi-informasi tentang tokoh tersebut melalui media sosial. 

Baca juga :  Jelang Pemilu, KMHDI Siap Terjunkan Ratusan Pemantau

“Dapat dikatakan hampir tidak berpengaruh kampanye konvensional dipersingkat atau ditiadakan pun mungkin tidak berpengaruh karena sekarang kampanyenya itu melalui digital dan ini sangat efektif dan sudah dipraktekkan di beberapa negara,” terang Subanda saat ditemui di Dharma Negara Alaya, Minggu (06/11/2022).

Baca juga :  Usai Tak Jabat Gubernur, Koster Fokus Kemenangan PDIP di Bali

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya menunjukan  bahwa orang atau masyarakat mengetahui seorang tokoh, bagaimana kiprahnya, dan informasi-informasi tentang tokoh tersebut kebanyakan melalui media sosial. 

“Tertinggi itu dari media sosial, baru kemudian mulut ke mulut, lalu media massa, termasuk juga media massa jenis online. Artinya sudah ada pergeseran dari hal yang mainstream ke bersifat online,” ternangnya. 

Baca juga :  Pj Gubernur Bali Akui "Deg-degan" Coblos Pertama Kali

Untuk itu ia pun menyarankan partai politik, elite politik, dan tokoh politik yang ingin maju dalam Pemilu 2024 baik di legislatif maupun eksekutif untuk mulai beralih metode kampanye dengan memanfaatkan media sosial dalam rangka meningkatkan popularitas di masyarakat.