DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pengamat sosial dan politik sekaligus akademisi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Bali, Nyoman Subanda mengatakan model kampanye konvensional dengan pengerahan massa, tatap muka, pemasangan baliho, dan atribut kampanye tidak akan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kepopuleran tokoh atau partai politik. 

Hal ini lantaran masyarakat umumnya mengetahui tokoh politik, bagaimana kiprahnya dan informasi-informasi tentang tokoh tersebut melalui media sosial. 

Baca juga :  Jelang Pemilu 2024, Bawaslu Rancang Berbagai Program Prioritas

“Dapat dikatakan hampir tidak berpengaruh kampanye konvensional dipersingkat atau ditiadakan pun mungkin tidak berpengaruh karena sekarang kampanyenya itu melalui digital dan ini sangat efektif dan sudah dipraktekkan di beberapa negara,” terang Subanda saat ditemui di Dharma Negara Alaya, Minggu (06/11/2022).

Baca juga :  Tiba di Denpasar, Kirab Pemilu Jadi Ajang Sosialisasi Kepada Pemilih

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya menunjukan  bahwa orang atau masyarakat mengetahui seorang tokoh, bagaimana kiprahnya, dan informasi-informasi tentang tokoh tersebut kebanyakan melalui media sosial. 

“Tertinggi itu dari media sosial, baru kemudian mulut ke mulut, lalu media massa, termasuk juga media massa jenis online. Artinya sudah ada pergeseran dari hal yang mainstream ke bersifat online,” ternangnya. 

Baca juga :  Alokasi Kursi DPRD Kota Denpasar Pemilu 2024 Tetap 45

Untuk itu ia pun menyarankan partai politik, elite politik, dan tokoh politik yang ingin maju dalam Pemilu 2024 baik di legislatif maupun eksekutif untuk mulai beralih metode kampanye dengan memanfaatkan media sosial dalam rangka meningkatkan popularitas di masyarakat.