Suryani Institute Luncurkan Buku Kisah ODGJ yang Terpasung
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Suryani Institute For Mental Health Foundation (SIMH) dan Hope and Freedom melakukan peluncuran Buku Foto berjudul “Hope and Freedom“, bertempat di Arundina Restaurant, Denpasar, Sabtu (01/10).
Buku ini ditulis oleh Nicky Hogan bersama Fotografer Rudi Waisnawa, buku ini menceritakan kisah dan foto para ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang dipasung.
Rudi Waisnawa, menjelaskan, Bali sebagai pulau yang dielu-elukan pulau surga dan kaya ternyata masih menyimpan satu persoalan yaitu keberadaan ratusan ODGJ yang harus mengalami pemasungan.
Hal ini karena mereka para ODGJ dinilai oleh masyarakat berpotensi mengancam ketenangan dan membahayakan masyarakat sendiri.
Padahal, memperlakukan ODGJ Berat dengan cara memasung, merantai dan mengunci mereka di dalam ruangan atau cara-cara yang tidak manusiawi lainya, bukanlah tindakan yang tepat, perlakuan itu hanya akan menambah penderitaan mereka.
Melalui buku ini diharapkan memberikan sedikit pemahaman kepada masyarakat luas bahwa Gangguan Jiwa bisa disembuhkan dengan metode yang tepat dan dilakukan oleh ahlinya.
“Kami menyadari segala upaya seperti pameran foto, seminar, penerbitan buku, tidak serta merta bisa menyembuhkan ODGJ dari penderitaannya, tetapi minimal sebagai penulis atau fotografer, kami sudah berupaya mengambil bagian dengan sungguh-sungguh untuk menggugah perhatian masyarakat luas untuk lebih memberikan perhatian masalah gangguan jiwa, khususnya di Pulau Bali,” terang Rudi Waisnawa.
Sementara itu Nicky Hogan, dalam pengantar buku Hope and Freedom, menjelaskan, keterbukaan dan laju cepat modernisasi di Bali ibarat pedang bermata dua.
Kemakmuran dan kemewahan di satu sisi, sementara ada ketidaksiapan sebagian kalangan masyarakat untuk mengimbanginya, membawa dampak buruk.
“Kontras. Layaknya kawasan hotel-hotel wisata berdiri megah dengan segala kegemerlapannya, sedangkan di sudut lainnya tertinggal gubuk rapuh di pemukiman miskin keluarga ODGJ. Bali seolah lebih Menarik untuk terus dipercantik etalasenya sambil menghitung devisa masuk, sementara ODGJ dianggap tidak pernah ada,” tulisnya.
Lebih lanjut, nyatanya, orang-orang dengan gangguan jiwa tersebar di mana-mana. Mereka tidak diperlakukan layaknya manusia.
Bertahun-tahun mereka dipasung dan dikurung pada teras rumah, di gubuk bambu, di bilik sempit, di atas dipan reyot, dengan rantai besi, kawat dan tali rapia. Tanpa ada pengobatan, makanan dan minuman layak, dan penghidupan yang layakk.
Untuk itu, menurutnya, buku ini tidak dimaksudkan indah. Disamping itu buku ini juga tidak dimaksudkan untuk mencela. Melainkan buku ini hanya untuk membuka mata, mengabarkan kembali bahwa pemasungan orang dengan gangguan jiwa masih ada dimana-mana.,
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Suryani Institute for Mental Health (SIMH), memperkirakan sebanyak 9000 orang di Bali mengalami gangguan jiwa berat atau gangguan skizofrenia. Sementara ada 350 orang dengan gangguan jiwa harus terpasung.
Pada kesempatan yang sama psikiater, Cokorda Bagus Jaya Lesmana, mengatakan bahwa anggaran untuk kesehatan jiwa masih sangat kecil. Dari total anggaran kesehatan sebesar 3,4 persen, dari total anggaran tersebut hanya 0,01 persen untuk anggaran kesehatan jiwa.
“Jadi bisa dibayangkan untuk menyiapkan obat-obatan, sarana dan prasarana tentu tidak bisa banyak dilakukan. Misalnya menambah layanan, menambah jumlah dokter, menambah psikiater tentu ini tidak mudah,” terang Cokorda Bagus Jaya Lesmana. (gus)

Tinggalkan Balasan