Diskusi Politik Partai Prima Bali, Pengamat: Apatisme Masyarakat Jadi Tantangan Parpol
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Partai politik (Parpol) di Indonesia, baik yang lama maupun baru, tengah menghadapi sikap apatis masyarakat yang berujung pada tindakan pragmatis pada partai dan politik. Hal ini disebabkan oleh citra partai politik yang sudah dinilai buruk di mata masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan pengamat politik Undiknas, I Nyoman Subanda dalam acara Diskusi Politik bertajuk “Mengapa Rakyat Biasa Harus Membangun Alat Politiknya Sendiri ?” yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Prima Bali, bertempat di Kubu Kopi, Denpasar, Sabtu (16/07/2022).
“Kalau masyarakat bilang hampir semua partai itu sama saja ada korupsi, ada tirani, dan ada keinginan untuk melakukan monopoli. Hal ini membuat masyarakat jadi pragmatis sekaligus apatis terhadap partai politik,” ungkap Nyoman Subanda.
Mengutip hasil penelitian, hanya ada sekitar 15%-20% yang sungguh-sungguh menjadi pengikut atau pemilih tradisional partai politik. Sementara, faktor keterpilihan partai politik sisanya ditopang oleh figur atau ketokohan di dalam partai. Selain itu juga karena budaya money politik atau memilih karena dibayar yang dilakukan oleh partai.
“Artinya partai politik besar pun belum menjanjikan kedepan, karena masih ada celah-celah yang mereka miliki untuk tidak direspon lagi oleh masyarakat,” ujarnya.
Untuk itulah menurutnya, partai politik harus membangun konstruksi sosial dengan membuat masyarakat senang dengan keberadaan partai, memiliki harapan yang dititipkan kepada partai, serta mempunyai self of belongin kepada partai.
Lebih lanjut, I Nyoman Subanda menjelaskan, generasi milenial merupakan kelompok sosial yang sering dilupakan oleh partai politik. Padahal menurutnya, generasi milenial ini rata-rata tidak berpartai sehingga untuk menentukan pilihan politik masih belum jelas atau sifatnya hanya tentatif dan situasional.
Oleh sebab itulah, menurutnya usaha-usaha untuk mencuri hati generasi milenial ini harus dilakukan oleh setiap partai politik.
“Di era sekarang, pada dasarnya, mereka (kaum millennial) mencari informasi, mendapatkan informasi melalui media sosial. 80% informasi kaum milenial didapat dari media sosial. Berarti model komunikasi yang harus dilakukan partai untuk menjangkau kaum milenial adalah melalui media sosial,” terangnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Prima Bali, Ihsan Tantowi meyakini, kerja kepartian adalah kerja-kerja harian, bukan kerja lima tahunan dalam menyambut pemilu saja.
“Masalah rakyat adalah masalah harian mulai dari susah mengakses pendidikan, susah mengakses keadilan hukum, dan susah mengakses ekonomi,” ungkap Ihsan Tantowi.
Lebih lanjut, menurutnya, struktur politik di Indonesia tengah dikuasai oleh oligarki yang memanfaatkan sumber daya ekonomi dan politiknya dalam rangka kepentinganya sendiri. Model seperti ini telah melahirkan ketidakadilan ekonomi yang mengakibatkan mandeknya redistribusi kekayaan kepada rakyat biasa.
Dalam merespon inilah DPW Prima Bali, tengah menjalankan program partai dengan menjadikan sekretariat Prima di seluruh kabupaten/kota di Bali sebagai posko pengaduan bagi rakyat yang mengalami kesulitan.
“Terdapat dua persoalan bangsa hari ini. Pertama terjadi ketidakadilan baik itu ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum, ketidakadilan sosial, serta ketidakadilan akses tertentu bagi rakyat biasa. Kedua, telah terjadi ketimpangan ekonomi,” terang Ihsan Tantowi.
Ihsan berharap kehadiran Partai Prima dapat mewujudkan ide-ide besar bangsa dan menjadi model baru sistem politik dan kepartaian di Indonesia. “Prima ingin mewujudkan kembali ide-ide lama founding father terkait bangsa Indonesia,” tandasnya. (Gus)

Tinggalkan Balasan