DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial yang sudah berlangsung hampir satu tahun lebih telah membuat sektor Pariwisata di Bali terpukul. Kondisi ini membutuhkan adanya sebuah strategi dalam rangka memulihkan sektor pariwisata di Bali yang sudah terpukul akibat Pandemi Covid-19. 

“Strategi Pariwisata ini harus mengedepankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta kualitas daya dukung lingkungan sesuai filosofi Tri Hita Karana dan konsep pariwisata berkelanjutan,” demikian ungkap Kepala Jurusan Pariwisata Budaya Universitas Hindu Negeri Ida Bagus Sugriwa, Dr. I Wayan Wiwin SST. Par., M.Par., di Denpasar, Sabtu (4/9).

Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah pemerintah harus mulai memulihkan perekonomian masyarakat dengan menggelontorkan kebijakan bantuan stimulus subsidi permodalan, hibah perbaikan  fasilitas wisata maupun kebijakan penundaan pembayaran kredit khususnya untuk para pengusaha pariwisata, pelaku pariwisata, desa wisata dan komunitas masyarakat pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Bali.

Baca juga :  Badung Catat Skor 4,21, Jadi Kabupaten dengan IDSD 2025 Tertinggi Versi BRIN

“Sehingga dengan hal tersebut  mereka terbantu untuk membangun kembali usahanya dan menata kembali DTW yang ada, serta membantu komunitas petani, pengrajin dan UMKM untuk mulai bangkit dan bersinergi dengan sektor pariwisata, minimal dengan target memulihkan pangsa pasar lokal dan domestik,” terang Wayan Wiwin

Langkah berikutnya adalah mengimplementasikan konsep “quality tourist” yang bertujuan selektif memilih wisatawan yang datang dengan cara menghindari ‘perang tarif’ dengan sajian produk wisata yang high class, relatif atau “jual mahal” dan berkualitas.

“Melalui Hal ini maka pangsa pasar tidak akan merusak pasar pengusaha lokal atau DTW yang dikelola oleh komunitas masyarakat lokal,” terang Wayan Wiwin.

Selain itu, para pemangku kebijakan juga harus mulai serius menggarap pasar wisata alternatif seperti wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), Sport tourism, Educational Tourism, Health tourism, Agrotourism, maupun Spiritual Tourism, dimana Bali kaya akan nilai-nilai kearifan lokal yang unik dan universal. 

Baca juga :  Nengah Senantara Tolak Gedung 45 Meter, Bali Selatan Sudah Overload

Wayan Wiwin mengatakan model pariwisata yang bisa diterapkan adalah pariwisata berbasis masyarakat lokal. Dalam model ini pembangunan Pariwisata berpola Bottom up. Sehingga kontribusi dan benefit dari pariwisata bisa dinikmati langsung oleh masyarakat. 

“Misalkan contohnya Pengembangan Agrowisata, dimana aktivitas pertanian masyarakat desa dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata, sehingga masyarakat tidak hanya mengandalkan hasil ekonomi dari pariwisata, tetapi sektor pertanian sbg tumpuan, sedang aktivitas pariwisata sebagai bonus tambahan dari kegiatan pertanian tersebut,” ungkap Wayan Wiwin. 

Seperti diketahui sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Hanif Yahya pada Kamis (2/9) melaporkan bahwa wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Provinsi Bali pada periode Januari-Juli 2021 tercatat sebanyak 43 kunjungan, turun 99 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.069.181 kunjungan.  

Baca juga :  Dampak Pariwisata Tutup, Kerugian Bali Capai 9.7 Triliun Rupiah

“Terkhusus bulan Juli 2021, tercatat tidak ada wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali. Masih diberlakukannya travel restriction serta penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turut memberikan andil dalam penurunan kedatangan wisman ke Bali. Bila dibandingkan dengan kondisi di bulan Juni 2021 serta Juli 2020, maka kondisi kedatangan wisman ke Bali di bulan Juli 2021 menunjukkan penurunan sedalam 100 persen,” ungkapnya.

Kondisi ini berpengaruh pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada bulan Juli 2021 yang tercatat sebesar 5,23 persen, turun 11,45 poin dibandingkan TPK bulan Juni 2021 (m-t-m) yang tercatat sebesar 16,68 persen.  Sementara, TPK bulan Juli 2021 untuk hotel Non Bintang tercatat mencapai 4,36 persen, mengalami penurunan sebesar 2,42 poin dibandingkan bulan Juni 2021 yang tercatat sebesar 6,79 persen. (Gus/Sin)