DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali, melalui Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (Bidang TPH) memfasilitasi petani yang ingin menanam Porang dengan melakukan channeling (penyaluran) permodalan dan kepastian pembeli.

Channeling dilakukan dengan menghubungkan tiga unsur petani, perbankan, pembeli. Petani kecil memperoleh permodalan dari perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), sedangkan perbankan mendapat jaminan off taker (hasil panen terbeli dan kredit terbayar).

Kepala Bidang TPH Distanpangan Provinsi Bali Ir. I Wayan Sunarta MP., menjelaskan Porang kini tengah menjadi primadona dalam pertanian karena potensi keuntungannya yang besar sementra cara tanam dan perawatannya relatif mudah. Terlebih di tengah kondisi terpuruknya pariwisata akibat pandemi Covid-19 saat ini.

“Di tahun 2020 Porang ini kita fasilitasi channeling (salurkan, red) dengan pihak bank dan pihak yang akan membeli. Kendala di Porang ini kan biaya bibit yang mahal, untuk lahan satu Ha biaya bibit sekitar Rp 70 juta,” ujarnya di kantornya, Rabu (21/10).

Baca juga :  Mandia Siap Kawal Aspirasi Petani

Dengan fasilitasi permodalan tanam Porang dengan KUR ini petani dapat memperoleh bantuan modal usah tanpa agunan. Syarat wajib dibutuhkan dalam pengajuan permohonan KUR di antaranya surat keterangan usaha dan KTP suami-istri pemohon.

Jumlah pinjaman yang dapat diperoleh tanpa agunan, terangnya lebih lanjut, mencapai Rp 50 juta, dengan bunga 0.6 persen per bulan. Bank-Bank penyalur KUR ini di antaranya BPD, BRI, Mandiri dan BNI.

Meski prospek keuntungan dari bisnis Porang ini sangat menjanjikan, tuturnya, ia mengingatkan agar petani jangan terlalu memaksakan diri di luar batas kemampuannya jika hanya Rp 50 juta cukup untuk lahan setengah Ha saja jangan memaksakan satu Ha.

Baca juga :  Gubernur Koster : Tidak Boleh Lagi Ada Cerita Harga Panen Petani Anjlok

Dikatakan, jangan hanya karena dalam waktu satu-dua tahun ingin cepat menjadi miliarder semua digadaikan. Harus juga berhati-hati mempertimbangkan risiko dikemudian hari. “Jadi harus lebih prudent (bijaksana, red),” ujarnya mengingatkan.

Selain itu, ia juga mengimbau agar masyarakat yang tadinya dari sektor pariwisata terjun ke bisnis ini agar tidak membeli ataupun mengontrak lahan petani, melainkan dengan menjalin kerja sama. Ini agar potensi manfaat ekonominya lebih maksimal.

“Pariwisata kan lagi gini kondisinya (terpuruk, red). Saya harap si teman-teman pariwisata yang punya uang mohon jangan membeli lahannya petani, mengontrak pun jangan, lebih bagus kerja sama. Dengan demikian dampak ekonominya akan lebih luas,” ujarnya.

Baca juga :  Krama Subak di Badung Resah, Pekaseh: Pemda Terkesan Bela Investor

Sementara itu, ia mengungkapkan produk pertanian paling terdampak kondisi pandemi ini adalah produk jenis sayuran yang cepat busuk yang selama ini menyuplai kebutuhan hotel-hotel dan restoran seperti; Paprika, Baby Romaine (Selada), Baby Lettuce (Selada Cos), dan Bit.

“Jadi ini sayur-sayur khusus yang dijual ke restoran dan hotel-hotel. Sayuran yang tidak umum dikonsumsi masyarakat kita. Kita ingatkan saat ini jangan dulu tanam sayuran itu. Jangan mengingat untung masa lalu. Kalau dulu bisa dapat Rp 20 sampai Rp 35 juta sebulan. Kita sekarang harus realistis melihat kondisi saat ini,” terangnya. (dk)