DIKSIMERDEKA.COM, LAMPUNG – Pengelolaan perikanan sidat tropis di Indonesia perlu dilakukan secara sistematis dan melibatkan semua pemangku kepentingan. Dibutuhkan kajian dan pembentukan tim untuk membuat payung hukum dalam menjaga dan mengelola sumber daya ini melalui rancangan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Rencana Pengelolaan Perikanan Sidat (RPP Sidat).

Pada kegiatan Uji Petik Rencana Pengelolaan Perikanan Sidat, yang diselenggarakan Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan, pada 14 Oktober 2020, peneliti di Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP)/ Inland Fishery Resources Development and Management Department (IFRDMD)/ South East Asian Fisheries Development Center (SEAFDEC), Dwi Atminarso, mewakili Kepala BRPPUPP, menuturkan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan populasi perikanan darat di dunia secara umum yaitu peningkatan jumlah penduduk, degradasi habitat, perubahan hidrologi, overfishing, pencemaran air, tekanan invasive species dan perubahan iklim.

Pada penelitiannya tentang Tangga Ikan/ Fishway di Dunia serta Bagaimana Tahapan untuk Mendesain Fishway yang Tepat, disampaikan bahwa dari 3.530 dam dan bendung yang dibangun di Indonesia, hanya terdapat ada 4 bendung yang difasilitasi dengan tangga ikan.

Baca juga :  Peduli Nelayan di PPS Bitung, 105 Unit Kapal Disemprot Disinfektan

“Pembangunan infrastruktur air terhadap perikanan darat berdampak pada berkurangnya konektivitas hulu dan hilir, sedimentasi di sekitar bendungan, penurunan kualitas air karena penggunaan pestisida, perubahan habitat mengalir menjadi tergenang, hingga tersedotnya ikan ke turbin atau pelimpah air (spillway). Seperti di Australia dan kebanyakan negara maju lainnya, tangga ikan merupakan bangunan yang wajib disediakan bersamaan dengan pembangunan bendung atau bendungan,” terang Arso.

Lebih lanjut disampaikan bahwa dalam menentukan desain bangunan fishway yang tepat untuk memfasilitasi ikan bermigrasi antara lain dengan experimental design tangga ikan di laboratorium, percobaan in-situ di bendungan, penelitian kemampuan renang ikan, stadia ikan yang bermigrasi serta pelibatan orang teknik pengairan dan orang perikanan untuk bisa mendesain sesuai dengan kebutuhan kemampuan renang ikan lokal.

Di lain kesempatan, Kepala BRPPUPP, Arif Wibowo, menerangkan bahwa BRPPUUPP/IFRDMD/SEAFDEC berperan penting dalam keterlibatan rencana pengelolaan perikanan sidat karena lembaga ini telah melakukan riset tentang sidat mulai 2014 semenjak dibentuknya IFRDMD/SEAFDEC yang rutin mendapatkan pendanaan setiap tahun.

Baca juga :  Alasan KKP Larang Lalu Lintas BL di Bawah 5 Gram Dangkal dan Terkesan Dipaksakan

Di samping itu, BRPPUPP/IFRDMD/SEAFDEC juga mendapat pendanaan dari Australian Water Partnership (AWP) Pemerintah Australia untuk melakukan inisiasi kerja sama antara sektor perikanan darat melalui BRPPUPP/IFRDMD dan sektor irigasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII. Kerja sama ini diinisiasi untuk dapat memahami pentingnya konektivitas sungai untuk migrasi ikan. Tangga ikan (fishway) merupakan solusi teknik yang tersedia sejauh ini sebagai salah satu alat untuk mengurangi dampak bangunan melintang sungai terhadap migrasi ikan.

Uji Petik Rencana Pengelolaan Perikanan Sidat terlaksana sebagai runtutan seri konsultasi publik yang merupakan tahapan naskah akademik sebelum menjadi peraturan hukum, di mana perlu dillakukan konsultasi publik dengan mengundang para pakar serta pihak pihak yang berkepentingan termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi, Kabupaten dan Kota, juga nelayan serta pengusaha.

Baca juga :  KKP Susun Rencana Kerja Prioritas Perikanan Budidaya Tahun 2021

Pertemuan ini dibuka oleh Plt. Dirjen Perikanan Tangkap, Muhammad Zaini, dan dihadiri oleh para Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan antara lain Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin bidang ekonomi maritim, Dr. Lukman Malanuang bidang kebijakan publik, wakil ketua umum komisi pemangku kepentingan dan konsultasi publik Bayu Priyambodo, Ph.D, ahli sidat Prof. Dr. Ir. Husnah. MPhil (Puriskan), Prof. Dr. Ir. Krismono (BRPSI), Dr. Indra Gumay (UNILA), pejabat dinas perikanan dan kelautan Provinsi/Kabupaten/Kota Lampung, serta nelayan sidat.

Pada pertemuan tersebut juga menghadirkan pembicara lain yaitu Prof. Dr. Ir. Ridwan Affandi, DEA dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menyampaikan materi tentang problematika, strategi, dan langkah pengembangan industri perikanan sidat di Indonesia berbasis kawasan dan teknologi ramah lingkungan yang terintegrasi dari sektor hulu, tengah dan hilir. Selain itu, terdapat Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung yang menyampaikan materi tentang potensi dan rencana pengembangan perikanan sidat di Provinsi Lampung. (Rls/Gun)