by

Ironi Pulau Dewata: Bali Dipuja, Bali Dihina

Di dunia internasional Pulau Bali sudah tidak diragukan lagi keindahannya, bisa dikatakan 80% Negara di dunia mengakui keindahan dari Pulau yang kita cintai ini. Keindahan alam dan keunikan adat istiadat dan budaya Bali menjadi ciri khas dari Pulau Dewata (Bali). Pada tahun 2018 dan 2017 Pulau Bali masuk dalam 10 pulau terbaik yang sering dikunjungi, sementara tahun 2019 kembali masuk nominasi  tersebut.

Pada tahun 2019, dikutip dari bombastis.com, Desa Penglipuran masuk dalam kategori desa terbersih di dunia, bahkan menduduki peringkat pertama mengalahkan Desa Giethoorn, Belanda dan Desa Mawlynnong, India Timur.

Terlepas dari keberhasilan Pulau Bali menduduki peringkat pertama, ada ironi yang sungguh membuat kita mengelus dada dan geleng-geleng kepala, bahkan ( mungkin ) ada perasaan marah dalam diri kita sendiri, yaitu berbagai kejadian pelecehan terhadap kehidupan sosial Bali, Budaya dan infrastruktur persembahyangan Agama Hindu (agama mayoritas di Bali)

Kenapa saya lebih memfokuskan ketiga hal tersebut? Karena ketiga point itulah yang sering menjadi pembicaraan negatif dan  viral di media sosial tentang Bali.

Budaya Bali (Budaya Masyarakat Bali)

Kita sebagai penduduk Bali boleh berbangga karena banyaknya wisatawan yang datang ke Bali tiap tahunnya terus ada peningkatan, itu akan menambah pemasukan Bali dan membantu meningkatkan pendapatan ekonomi para warganya yang memiliki usaha berkaitan dengan tourism atau pariwisata.

Dilain sisi, terkadang kita terlalu jumawa terhadap keadaan tersebut sehingga mengabaikan “siapa kita sebenarnya?”

Masyarakat Bali terkenal ramah dan berbudaya, baik itu dari segi sikap maupun lingkungannya. Di lingkup “lingkungan”, Bali sudah memiliki awig-awig yang digagas dan diawasi oleh Desa Adat dan Desa Pakraman yang diwakili oleh Banjar di tiap-tiap desa tersebut.

Dari awig-awig yang sudah ada seharusnya bisa digunakan untuk mengatur tindakan setiap orang di wilayah, namun yang terjadi saat ini di beberapa daerah pariwisata, pengawasannya masih kurang (bahkan mungkin) tidak ada.

Contoh yang baru-baru ini terjadi dan viral di sosial media, kekacauan yang terjadi di daerah Kuta atau sekitarnya, para wisatawan hidup dan bersikap seperti di daerah asalnya.

Contoh lain, saat masyarakat Hindu sedang melakukan persembahyangan di Pantai (Upacara Melasti), wisatawan dengan santai dan tanpa beban tiduran hanya menggunakan bikini dan celana dalam saja disamping pemedek yang sedang khusyuk sembahyang. Dimana fungsi Desa Adat dan Desa Pakraman yang memiliki fungsi Pengawasan? 

Apakah dibiarkan saja atau memang tidak dilakukan pengawasan? Takut tamu nya sepi atau bagaimana?

Saya tidak mau terlalu melakukan praduga negatif terhadap Desa Adat dan Desa Pakraman yang bersangkutan, jika memang belum diawasi, silahkan lakukan pengawasan dari sekarang agar norma-norma dan adat kita di Bali bisa diterapkan untuk Ajegnya Bali.

Jika memang sudah dilakukan pengawasan namun para wisatawan itu bandel, bisa diterapkan sanksi yang lebih agar mereka mengerti dan tau bersikap jika ada kondisi-kondisi seperti itu.

Kehidupan Sosial Masyarakat Bali

Menyambung dari poin diatas, kehidupan sosial masyarakat Bali juga kena imbasnya. banyak yang men-generalisir tentang masyarakat Bali, bahwa kehidupan esek-esek sudah hal yang umum di Bali,

Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial, ada 2 orang yang dilaporkan Mbok Ni Luh Djelantik ke Polda Bali karena merendahkan Martabat Bali dan Masyarakat Bali dengan mengatakan bahwa sebagai tempat pelacuran.

Terlepas dari hal tersebut, pernahkah kita intropeksi diri, mengapa masyarakat luar dengan mudahnya mengatakan bali se-negatif itu? 

Jika dibandingkan dengan tempat lain, ada banyak kota yang sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai tempat pelacuran (yang sudah jelas-jelas transaksinya)

Mari kita sebagai Desa Adat dan Desa Pakraman rembug kembali bersama pemerintah daerah untuk mencari solusi terkait kehidupan sosial masyarakat Bali dan kehidupan wisatawan yang (mungkin saja) dijadikan indikator untuk menilai isi dari kehidupan sosial Bali pada umumnya.

Jika memang sudah menyalahi aturan, ya, harus dicari jalan tengahnya, agar bisa keluar keputusan terbaik antara warga Bali yang bergelut di bidang wisata dan wisatawan itu sendiri.

Agama Hindu dan Simbol Agama Hindu serta Komponennya

Ironi yang paling menyakitkan hati mayoritas masyarakat Bali adalah pelecehan simbol Agama Hindu dan komponennya. Sudah terjadi berkali-kali kesalahan/pelecehan terhadap simbol Hindu oleh wisatawan asing, wisatawan lokal maupun pendatang.

Pelecehannya bermacam-macam, ada yang duduk di atas singgasana Betara, ada yang menginjak kepala patung dewa yang disakralkan dan yang baru-baru ini terjadi adalah pelecehan simbol Agama Hindu yaitu tirtha, yang malah digunakan untuk membasuh pantat wisatawan.

Tidak adakah aturan tertulis untuk para wisatawan yang akan memasuki area wisata yang terdapat pura, tempat suci atau yang disakralkan Agama Hindu agar tidak melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan?

Jika sudah ada dan (kembali) disampaikan secara lisan kepada wisatawan, bagus! Artinya ada peran dari stakeholder terkait (banjar, desa adat, desa pakraman) untuk menjaga kesakralan tempat suci Agama Hindu dan komponennya.

Ada beberapa kemungkinan wisatawan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan di tempat suci yaitu :

  • Tidak adanya aturan tertulis
  • Ada aturan tertulis, tapi tidak membacanya dengan seksama dan juga tidak ada penyampaian ulang oleh para pemandu wisata
  • Ada aturan tertulis dan sudah disampaikan kembali secara lisan oleh pemandu / pengelola wisata, namun wisatawan tetap bandel.

Untuk itu, harus ada sanksi tegas dari banjar, desa adat atapun desa pakraman agar kasus seperti ini tidak terulang lagi.

***

Tidak ada satupun yang dapat menjaga bali tetap ajeg kecuali kita sendiri, mari bersama-sama mengawasi setiap aktivitas di tempat kita masing-masing agar hal-hal seperti diatas tidak terulang kembali

Leluhur kita sudah benar membangun istilah banjar, desa adat / pakraman agar di setiap sudut tempat ada yang mengawasi dan tidak menyimpang dari apa yang telah diajarkan oleh leluhur Bali terdahulu.

Semoga Bali tetap ajeg, berprestasi di dunia internasional tanpa harus mengesampingkan budaya, tradisi dan prilaku Bali yang telah diajarkan dari dahulu (diksimerdeka/gunap).

About Author: Guna P

Gravatar Image
Narasi bukan untuk hoax, tapi untuk membangun kesadaran terhadap keadaan-keadaan yang sudah tidak sesuai dengan ajaran kemanuasiaan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *