Demo Tolak Narendra Modi Guncang Delhi: 130 Juta Hak Pilih Lenyap, Oposisi Ngamuk!
DIKSIMERDEKA.COM NEW DELHI – Gelombang demo tolak Narendra Modi akhirnya pecah. Puluhan ribu massa oposisi tumpah ruah membanjiri jalanan ibu kota Delhi, India. Kemarahan publik meledak menyasar rezim pemerintahan, dipicu oleh skandal revisi daftar pemilih besar-besaran yang berujung pada lenyapnya 130 juta nama warga.
Dipimpin oleh Partai Kongres, aliansi oposisi India mengerahkan pendukung dari berbagai penjuru negeri. Kubu oposisi menuding proses revisi ini sengaja dirancang untuk memberi keuntungan elektoral bagi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di bawah pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Mereka mendesak Ketua Komisi Pemilihan Umum, Gyanesh Kumar, segera mundur dan dimakzulkan. Tuduhan ini dibantah mentah-mentah oleh pihak BJP.
Oposisi Bersatu, Tuding Rezim Cekik Demokrasi
Di hadapan puluhan ribu simpatisannya, pemimpin oposisi Rahul Gandhi melontarkan kritik tajam. Ia menyebut Gyanesh Kumar “telah melakukan kejahatan terbesar. Dia mencoba membungkam suara rakyat, mencekik negara kita.”
Gandhi menegaskan bahwa kubu oposisi yang tergabung dalam aliansi INDIA (Indian National Developmental Inclusive Alliance) tidak akan membiarkan “demokrasi dihabisi di negara ini”. Ia bahkan melemparkan peringatan keras kepada Modi: “Anda tidak bisa lari ke mana pun.”
Momen demo tolak Narendra Modi ini menjadi salah satu pameran kekuatan oposisi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Aksi ini meletus di tengah bangkitnya gelombang perlawanan anti-pemerintah yang selama 12 tahun terakhir diklaim selalu diberangus secara sistematis oleh rezim Modi.
Gerakan ‘Kecoak’ dan Jurang Kepercayaan Publik
Ancaman terbesar bagi rezim sebenarnya telah disulut sejak musim panas lalu oleh gerakan protes yang dimotori anak muda. Gerakan yang secara satir menamai diri mereka “Kecoak” (Cockroaches) ini sebelumnya sukses memaksa salah satu menteri kabinet Modi mundur. Bulan lalu, kelompok Kecoak kembali turun ke jalan menolak revisi daftar pemilih yang dikenal dengan nama special intensive revision (SIR).
Meski Partai Kongres kini makin berani bermanuver berkat mobilisasi anak muda tersebut, nyatanya masih ada jurang kepercayaan yang lebar antara partai oposisi mapan dengan gerakan Kecoak. Pada aksi hari Minggu, para pemimpin Kecoak memang menyatakan dukungan, namun mereka memilih tidak hadir secara fisik di arena unjuk rasa.
Absennya kelompok muda ini berdampak langsung pada jumlah massa. Partai Kongres awalnya sesumbar bisa menghadirkan satu juta orang. Faktanya, massa yang datang ‘hanya’ di angka puluhan ribu, dengan kursi-kursi kosong yang masih terlihat jelas. Mayoritas yang hadir adalah pekerja dan organisator partai yang diangkut menggunakan bus, meski pihak oposisi berdalih banyak armada mereka dihadang barikade polisi sebelum masuk Delhi.
Tingkat partisipasi yang dinilai kurang menggigit ini menunjukkan betapa beratnya tantangan Kongres dan sekutunya untuk diakui sebagai penantang tangguh bagi BJP. Apalagi, kubu oposisi pimpinan Gandhi telah kalah telak berturut-turut di tiga pemilu terakhir akibat gagal meredam manuver politik nasionalis Hindu milik penguasa.
Minoritas Terdepak, BJP Sebut Demo Sebagai Anarki
Isu manipulasi daftar pemilih ini mulai terendus tahun lalu, namun baru meledak jadi skandal nasional usai investigasi surat kabar Indian Express membongkar adanya kejanggalan dan perpecahan di internal KPU India terkait pelaksanaannya.
Jutaan pemilih yang merasa memenuhi syarat tiba-tiba mendapati nama mereka dicoret. Kelompok minoritas dan Muslim disorot sebagai target utama yang terkena dampak paling parah secara proporsional. Organisasi Human Rights Watch pekan ini bahkan mengeluarkan teguran keras, menyatakan bahwa tuduhan tersebut memunculkan “pertanyaan serius mengenai keadilan pemilu India di masa depan.”
Warga sipil yang ikut berdemo turut bersuara. Shalini, pemilik restoran asal Goa, mengaku hadir murni karena keresahan pribadi. Ia menegaskan ada di lokasi “bukan untuk oposisi tetapi karena saya menentang BJP dan bagaimana mereka mencoba menutup semua ruang perbedaan pendapat di negara ini. Saya tidak secara khusus mendukung partai oposisi mana pun.”
Shalini meraba adanya “gelombang ketidakpuasan terhadap BJP dan pihak oposisi memanfaatkannya – baguslah buat mereka”.
Senada dengan Shalini, Arwind Chaudhery (48) yang tidak terafiliasi partai mana pun ikut turun ke jalan. “Saya di sini karena SIR telah merusak demokrasi kita dan situasinya sudah sangat buruk, tidak bisa diperbaiki atau dibenahi lagi,” ujarnya. “Jadi wajar jika rakyat terdorong turun ke jalan untuk protes dan itu adalah secercah harapan.”
Di seberang kubu, BJP berusaha mengecilkan arti unjuk rasa tersebut dan mencapnya sebagai tindakan onar. Presiden BJP, JP Nadda, memprediksi bahwa unjuk rasa hari Minggu itu justru akan menjadi “paku di peti mati” bagi aliansi oposisi.
Nadda melontarkan serangan balik dengan menyebut protes tersebut “bukan tindakan menghormati demokrasi. Ini adalah konspirasi terencana untuk menjerumuskan bangsa ke dalam anarki, atas nama demokrasi.”

Tinggalkan Balasan