Jutaan Hak Pilih Dihapus Paksa demi Penguasa, ‘Gerakan Kecoak India’ Ngamuk Tuntut Ketua KPU Mundur!
DIKSIMERDEKA.COM NEWDELHI Jalanan India kembali mendidih. Keresahan meledak setelah jutaan warga terancam kehilangan hak paling fundamental mereka: hak suara. Di garis depan, Gerakan Kecoak India yang digawangi anak-anak muda dan Gen Z kembali turun gunung. Pada Jumat lalu, ribuan massa membanjiri jantung kota Mumbai, menembus barikade dan kepungan aparat yang berjaga super ketat.
Tuntutan mereka cuma satu, tapi tajam: Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) India, Gyanesh Kumar, harus angkat kaki!
Dilansir The Guardian, kemarahan publik ini bukannya tanpa sebab. Sosok Kumar kini jadi sorotan tajam sekaligus buah bibir yang kontroversial. Semua bermula dari laporan investigasi harian Indian Express yang membongkar dugaan kejanggalan masif dalam proses revisi dan “pemurnian” daftar pemilih tetap, alias Special Intensive Revision (SIR).
Di bawah komando Kumar, program SIR ini berujung pada hilangnya puluhan juta nama dari daftar pemilih. Ratusan ribu orang kini kelimpungan melawan pencoretan sepihak tersebut. Kelompok masyarakat sipil dan politisi oposisi pun mengendus aroma busuk. Mereka menuding SIR tak lebih dari akal-akalan manipulasi sistematis untuk melanggengkan kekuasaan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang kini menaungi Perdana Menteri Narendra Modi.
Dari Satire Medsos Jadi ‘Mimpi Buruk’ Rezim
Siapa sangka, gerakan yang menamai diri mereka Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak ini awalnya cuma sekadar lelucon dan satire politik di internet. Namun, kemarahan yang nyata mengubahnya menjadi kekuatan pemuda yang menggetarkan. Mereka kini menjelma menjadi penantang paling tak terduga bagi rezim Modi.
Bukan gertak sambal, Juli lalu kelompok ini sukses melumpuhkan pusat kota Delhi berminggu-minggu hingga sukses memaksa Menteri Pendidikan lengser dari jabatannya. Merasa menang, mereka memproklamirkan diri sebagai pressure group permanen yang siap mengawal isu pendidikan dan demokrasi.
Pekan lalu, pendiri CJP, Abhijeet Dipke, sudah membunyikan genderang perang. Ia mengancam, jika Gyanesh Kumar tak kunjung mundur, “Para Kecoak” akan menginvasi jalanan. Rencana unjuk rasa massal pun telah diketuk untuk digelar beruntun di Delhi, Goa, Kolkata, hingga Bengaluru.
Di Mumbai, pemerintah setempat terang-terangan menjegal dengan menolak memberikan izin unjuk rasa di Taman Shivaji. Namun, Dipke pantang mundur.
“Kita bertarung melawan mereka yang berkuasa,” tegas Dipke lantang dalam sebuah konferensi pers. “Kita semua ingat Mahatma Gandhi, yang berjuang melawan penjajah Inggris. Apakah Inggris pernah memberinya izin untuk berdemonstrasi?”
Ratusan orang akhirnya tetap merangsek berkumpul di Mumbai pada Jumat sore. Di bawah bayang-bayang moncong senjata dan pentungan polisi, para pemuda ini berdiri tegak membela demokrasi.
“Memilih adalah hak paling dasar dari setiap warga negara, tetapi karena tindakan Kumar dan komisi pemilihan, hak itu sedang diserang,” ucap Deesha (22), seorang aktivis mahasiswa dengan nada getir.
“Begitu banyak jutaan orang telah kehilangan suara mereka dan bahkan tidak diakui sebagai warga negara India lagi. Serangan terhadap demokrasi kita ini harus dihentikan. Langkah penting pertama adalah membuat Gyanesh Kumar mengundurkan diri, dan kemudian SIR harus dibatalkan,” sambungnya.
Suara tak kalah garang disuarakan Janvi Upadhyay (18). Ia menyebut Gerakan Kecoak India telah sukses membangunkan pemuda dari tidur panjangnya.
“…dan jika mereka pikir mereka bisa datang begitu saja dan merampas suara serta mencurangi pemilu, kita akan tunjukkan betapa salahnya mereka,” katanya tajam. “Kita sudah memaksa menteri pendidikan untuk mundur. Gyanesh Kumar seharusnya sangat khawatir sekarang karena dia pasti yang berikutnya.”
Aparat Represif, Demokrasi di Ujung Tanduk
Meski KPU India bersikeras menepis semua tudingan kecurangan dan berjanji akan mempercepat pendaftaran pemilih yang terlewat sebagai langkah “cuci tangan”, kemarahan kadung meluas.
Di Delhi, ibu kota negara, protes serupa meledak di hari yang sama. Sayangnya, negara menjawabnya dengan tangan besi. Ribuan polisi dikerahkan membekap kawasan Jantar Mantar—episentrum protes bulan Juli lalu. Tak cukup sampai di situ, selusin stasiun metro di sekitarnya ditutup paksa dan akses internet warga diberedel tanpa ampun.
Ratusan demonstran yang baru tiba di Jantar Mantar langsung diseret, dipiting, dan dilempar ke dalam bus polisi. Aksi main tangkap terhadap tak kurang dari 700 orang, termasuk para pemimpin sipil dan politisi oposisi, memicu kemarahan publik. Dari balik jendela bus polisi yang melaju, para demonstran terus berteriak, mengutuk aparat yang telah merampas hak-hak demokratis mereka.
Melihat represi yang makin menjadi, partai-partai oposisi tak tinggal diam. Mereka menyatakan siap turun gunung memimpin gerakan protes nasional menuntut kepala Gyanesh Kumar. Jika tak ada aral melintang, pekan depan, seluruh anggota parlemen oposisi akan melakukan long march mengepung kantor KPU di Delhi. Demokrasi India kini benar-benar sedang diuji di jalanan.

Tinggalkan Balasan