DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Dari Nagoya, Jepang, mereka pulang membawa medali dan kebanggaan. Tiga atlet para asal Bali yang mengharumkan nama Indonesia di Asian Para Games 2026 diterima langsung Gubernur Bali Wayan Koster di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (30/10/2026).

Ketiganya adalah I Kadek Dwi Purwana Yasa, Ni Made Arianti Putri, dan Ni Nengah Widiasih. Mereka menyumbangkan satu medali emas dan dua medali perunggu bagi kontingen Indonesia.

Penerimaan di Jaya Sabha menjadi bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Bali atas perjuangan para atlet. Prestasi mereka tidak hanya membanggakan Bali, tetapi juga membawa nama Indonesia ke podium tertinggi di tingkat Asia.

Baca juga :  Gubernur Koster Dorong Arak Bali Sebagai Minuman Ketujuh Spirit Dunia

Kibarkan Merah Putih lewat Rekor Dunia

Momen paling membanggakan datang dari I Kadek Dwi Purwana Yasa. Di Nagoya City Mizuho Park Athletic Stadium, Selasa (20/10/2026), atlet lempar cakram putra kelas F57 itu meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor dunia.

Kadek melempar cakram sejauh 49,75 meter, jauh meninggalkan para pesaingnya. Atlet Uzbekistan Yorkinbek Odilov meraih perak dengan lemparan 45,10 meter, sementara atlet Irak Hussein Khazaee meraih perunggu dengan 45,06 meter.

Baca juga :  Koster Keluarkan Instruksi, ASN Dilarang Terima Gratifikasi dan Selingkuh di Kantor

Ini bukan pertama kalinya Kadek mencatatkan rekor dunia. Pada World Para Athletics Grand Prix 2026 di Meksiko, 21 Juli lalu, ia melempar sejauh 48,68 meter, melampaui rekor atlet Brasil Thiago Paulino dos Santos sejauh 48,55 meter yang bertahan sejak 2019. Di Nagoya, Kadek mempertajam rekornya sendiri.

Baca juga :  Koster Tekankan Sinergi Semua Pihak Jaga Stabilitas Harga

Dua Perunggu dari Srikandi Bali

Dua atlet putri Bali turut menambah perolehan medali Indonesia. Ni Made Arianti Putri meraih perunggu di cabang para atletik nomor lari 100 meter putri kelas T12. Adapun Ni Nengah Widiasih menyumbangkan perunggu dari cabang para angkat berat.

Prestasi ketiga atlet ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi. Dari Bali, mereka menunjukkan kepada Asia bahwa atlet disabilitas Indonesia mampu bersaing, menang, bahkan mencetak sejarah.