Tensi Pemilu Sela AS Mendidih, Obama Ejek Selera Trump Dekorasi Gedung Putih Norak!
DIKSIMERDEKA.COM NEWYORK Gegap gempita panggung politik Amerika Serikat kembali memanas layaknya arena pertarungan kelas berat. Pertarungan Pemilihan Presiden yang tak pernah benar-benar terjadi antara Barack Obama dan Donald Trump kini justru mendominasi jalannya Pemilu Sela (Midterm) AS.
Di satu sisi, Obama kembali turun gunung dengan pesonanya yang masih mampu menyedot teriakan “Kami mencintaimu!” dari kerumunan massa. Namun di sisi lain, Kampanye Donald Trump yang digelar hampir setiap hari seolah menjadi kawah mendidih tempat berbagai retorika kontroversial dan tajam dimuntahkan ke publik.
Sentilan “Cheesecake Factory” ala Obama
Obama tak ragu menembakkan kritik tajam bernada satire kepada penerusnya itu. Saat berpidato di Detroit, ia menyentil selera dekorasi Trump di Gedung Putih yang dinilainya terlalu berlebihan.
“Ada apa dengan semua emas itu?” tanyanya kepada hadirin. “Maksud saya, dia membuat Gedung Putih terlihat seperti Saddam Hussein membuka pabrik Cheesecake Factory.”
Sindiran ini praktis memicu perang budaya mini di tengah masyarakat, mempertontonkan jurang antara tudingan elitisme dan perdebatan soal selera.
Intinya Barack Obama menyindir dekorasi Gedung Putih era Donald Trump terlihat seperti “Saddam Hussein membuka The Cheesecake Factory”, ia sedang meledek selera desain Trump yang dikenal sangat menyukai warna emas (terkesan norak).
Obama mengibaratkan gaya hidup diktator Timur Tengah yang hobi mengoleksi barang berlapis emas (Saddam Hussein), dipadukan dengan desain interior restoran yang norak, berlebihan, dan campur aduk (Cheesecake Factory).
Retorika Kontroversial di Kampanye Donald Trump
Dilansir The Guardian, berhadapan dengan hasil jajak pendapat yang kurang menguntungkan, Donald Trump dilaporkan bertarung habis-habisan. Namun, banyak pengamat menilai manuvernya di panggung kampanye semakin liar. Laporannya dipenuhi dengan tudingan tak berdasar serta komentar yang sarat dengan sentimen agama dan rasial.
Target terbarunya adalah kandidat Demokrat Abdul El-Sayed, yang berpotensi menjadi senator Muslim pertama jika terpilih. Dalam orasinya di Port Huron, Michigan, Trump melabeli El-Sayed sebagai “jihadis” yang “berada di pihak teroris” dan mengatakan bahwa ia harus “melewati detektor logam sebelum dia diizinkan masuk ke Senat”. Trump bahkan mengaitkannya dengan tragedi 9/11 tanpa memberikan bukti nyata.
Politisi Muslim lainnya, Ilhan Omar dari Minnesota, juga tak luput dari serangan. Ia disorot di tengah penyelidikan aparat terkait dokumen imigrasi keluarganya. Menanggapi hal ini, Omar dengan tegas menyatakan, “yakin dengan fakta bahwa saya tidak melakukan kesalahan apa pun”.
Lebih jauh, Trump juga melontarkan klaim palsu berbau rasial mengenai imigran asal Somalia.
“Mereka sebenarnya tidak perlu bekerja karena mereka mencuri begitu banyak,” ucap Trump di salah satu rapat umum. “Mereka semua punya Mercedes-Benz.” Ia lalu menambahkan kepada basis pendukung setianya, “Bisakah Anda percaya, IQ rendah, dan mereka hidup lebih baik dari Anda? Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin mereka tidak serendah yang kita kira.”
HObrolan Fisik dan Kesetiaan Buta Pendukung
Bukan hanya urusan politik dan ras, Kampanye Donald Trump juga diwarnai dengan komentar aneh mengenai fisik sejumlah tokoh. Ia mengomentari postur senator Ohio, Jon Husted, dengan bahasa yang blak-blakan.
“Saya melihat bokongnya, lalu saya melihat kakinya. Saya berkata, ‘Bokongnya, sial, itu seperti, itu seperti tumpukan otot,’” kata Trump, yang juga mengklaim “jatuh cinta” pada senator Carolina Selatan, Tim Scott.
Tak hanya pria, rapper Nicki Minaj pun ikut jadi sasaran. “Saya melihat bokong yang sangat indah sebelumnya: Nicki Minaj,” cetusnya. “Itu sulit untuk dilewatkan. Berdirilah! Itu sulit untuk dilewatkan.”
Lalu, bagaimana para pendukung merespons gaya nyeleneh ini? Sharon Anderson (70), pendukung asal Tennessee yang sudah menghadiri 81 acara kampanye Trump, mengaku sama sekali tak terganggu.
“Jika seorang wanita memamerkan bokongnya untuk mendapat perhatian dan seseorang memperhatikannya – Trump tidak mencoba memerkosanya – apa masalahnya?” bela Anderson.
Ia juga menepis anggapan bahwa kesehatan mental Trump yang kini berusia 80 tahun mulai menurun. “Sama sekali tidak! Apakah Anda kenal orang yang bisa melakukan apa yang dia lakukan? Dia berbicara satu setengah jam hingga satu jam 45 menit di setiap rapat umum. Menurut saya, itu hampir supernatural,” tambahnya.
Fase “Apocalypse Now” Jelang Pemungutan Suara
Meski dibela mati-matian, sorotan terhadap kondisi Trump makin tajam. Ia kedapatan mengeluarkan suara aneh seperti cegukan di tengah pidatonya. Di media sosial, ia baru saja mengunggah amukan sepanjang 1.300 kata yang menyerang komedian Bill Maher. Ia menyebut Maher sebagai “PECUNDANG SEJATI DAN TOTAL” dan menulis: “Bill: Jangan menelepon lagi. Tidak ada gunanya.”
Melihat jajak pendapat Pemilu Sela yang saat ini lebih mengunggulkan kubu Demokrat, kubu Obama tampaknya berada di atas angin. Di senjakala masa kekuasaannya, gaya kepemimpinan dan retorika Trump digambarkan oleh para pengamat layaknya tokoh Kolonel Kurtz dalam film Apocalypse Now—menjadi sosok “dewa” bagi kelompok pendukung yang fanatik, namun dengan pijakan yang dinilai semakin menjauh dari realitas.

Tinggalkan Balasan