DIKSERDEKA.COM, DENPASAR – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Cipayung Plus akhirnya mendapatkan penjelasan dari pimpinan Pertamina terkait krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali setelah menunggu hampir dua jam, Jumat (16/10/2026).

Sebelumnya, Kelompok Cipayung Plus yang terdiri atas KMHDI, HMI, PMKRI, GMKI, PMII, dan IMM menggelar aksi di depan Kantor Pertamina Denpasar, Jalan Sugianyar, Denpasar Barat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, massa aksi mulai bergerak dari titik kumpul di depan Pura Jagatnatha Denpasar sekitar pukul 15.00 WITA menuju lokasi aksi.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut dialog langsung dengan pimpinan Pertamina untuk meminta penjelasan mengenai krisis BBM yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU di Bali.

Namun, pimpinan Pertamina tidak berada di lokasi saat massa tiba. Mahasiswa kemudian mendesak agar pimpinan perusahaan tersebut hadir untuk berdialog di kantor Pertamina.

Massa sempat memberikan ultimatum selama 30 menit agar pimpinan Pertamina datang menemui mereka. Namun, hingga batas waktu tersebut berakhir, pimpinan yang diminta hadir belum juga muncul.

Baca juga :  Dampak Kelangkaan BBM, Sekolah di Denpasar Terapkan PJJ

Mahasiswa akhirnya menunggu lebih lama. Setelah hampir dua jam, pimpinan Pertamina datang dan memberikan penjelasan kepada perwakilan mahasiswa mengenai persoalan krisis BBM di Bali.

Adapun pimpinan Pertamina yang menerima massa aksi adalah Section Head Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Kholison Liwajahillah.

Dihadapan ratusana mahasiswa, Kholison menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada masyarakat Bali atas ketidaknyamanan yang dipicu oleh panjangnya antrean di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Lison menjelaskan, gangguan pasokan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor kompleks. Di antaranya adalah disparitas harga yang memicu peralihan masif konsumen dari Pertamax ke Pertalite, peningkatan penyalahgunaan BBM bersubsidi, serta lonjakan konsumsi akibat tingginya aktivitas pariwisata dan arus transit penonton ajang internasional MotoGP di Lombok.

Untuk mengatasi gangguan distribusi tersebut, Kholison memaparkan sejumlah langkah darurat yang tengah ditempuh Pertamina, antara lain memperkuat pasokan melalui Fuel Terminal Sanggaran dan Integrated Terminal (IT) Manggis, serta menyandarkan kapal tanker berkapasitas 16 juta liter di IT Manggis guna memperkuat cadangan pasokan daerah.

Baca juga :  Soal Kelangkaan BBM di Bali, Koster Pastikan Tidak Ada Pengurangan Kuota

Selain itu, penambahan pasokan Pertalite secara bertahap mulai 14 Oktober 2026, dengan proyeksi tambahan sekitar 40 hingga 50 juta liter.

Selain itu, armada mobil tangki tambahan didatangkan dari Banyuwangi, Jawa Timur, untuk mempercepat proses distribusi BBM ke SPBU.

Kholison turut menyampaikan bahwa 66 SPBU di Denpasar kini dioperasikan selama 24 jam penuh. Layanan Pertamina Delivery Service (PDS) juga dimaksimalkan sebagai upaya tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mengurai antrean kendaraan.

Kendati sejumlah intervensi telah dipaparkan, Kholison secara jujur mengutarakan bahwa pihak manajemen belum dapat memastikan kapan kondisi antrean akan sepenuhnya pulih secara normal.

“Namun demikian, kami tidak bisa menggaransi kapan kondisi ini bisa pulih. Tidak ada yang menjamin fenomena antrean itu tidak terjadi, yang saya tahu terjadi pengantrean di jam-jam tertentu,” pungkasnya.

Baca juga :  Bantu Terminal Manggis, Pertamina Optimalkan Distribusi BBM dari Pesanggaran

Usai mendengarkan penjelasan dari Pertamina, Cipayung Plus melayangkan tiga tuntutan utama kepada PT Pertamina (Persero) sebagai bentuk desakan agar persoalan distribusi BBM di Bali ditangani secara terbuka dan bertanggung jawab.

Cipayung Plus mendesak Pertamina menyampaikan secara terbuka penyebab gangguan distribusi BBM di Bali serta memberikan kepastian jadwal normalisasi distribusi di wilayah terdampak.

Di samping itu, mereka juga mendesak Pertamina mempublikasikan hasil audit atau evaluasi penyebab kelangkaan BBM selama Oktober 2026, membuka informasi stok secara transparan, serta mempercepat dan meratakan distribusi ke seluruh SPBU di Bali sesuai kebutuhan masyarakat.

Cipayung Plus meminta Pertamina memperkuat mitigasi risiko melalui sistem deteksi dini, kesiapan cadangan operasional, perencanaan distribusi yang matang, serta mekanisme penanganan darurat agar kelangkaan BBM tidak kembali terulang di Bali.

Reporter: Agus Pebriana